Dana Pembangunan Saudi (SFD) menandatangani perjanjian kerja sama dengan FIFA, berjanji menyediakan 1 miliar dollar AS atau sekitar Rp17 triliun untuk membangun dan meningkatkan infrastruktur sepak bola di negara-negara berkembang.
Dana dari SFD akan disalurkan untuk proyek-proyek stadion, pusat pelatihan, dan sistem infrastruktur lainnya yang memenuhi standar FIFA. Proyek-proyek ini harus diusulkan oleh asosiasi anggota dan sejalan dengan strategi pembangunan nasional.
FIFA mengatakan prioritasnya adalah pada federasi di kawasan yang kekurangan fasilitas bermain modern, khususnya di Afrika, Asia, dan Karibia, di mana banyak negara masih menginginkan tempat standar untuk menyelenggarakan turnamen atau memperluas pergerakan.
Presiden FIFA Gianni Infantino menekankan bahwa perjanjian ini merupakan respons terhadap kebutuhan mendesak akan infrastruktur bagi mayoritas anggota FIFA. Ia menegaskan bahwa perluasan infrastruktur merupakan prasyarat bagi sepak bola untuk berkembang secara global.
Berdasarkan perjanjian tersebut, SFD tidak hanya akan menyediakan pinjaman berbunga rendah tetapi juga memberikan dukungan teknis selama perancangan, konstruksi, dan pengelolaan proyek, memastikan bahwa proyek tersebut memenuhi standar internasional dan kriteria keberlanjutan. Asosiasi anggota dapat mengajukan permohonan pendanaan untuk stadion baru, pusat pelatihan, dan infrastruktur terkait.
Bagi banyak negara berkembang, kurangnya stadion berstandar FIFA telah lama menjadi kendala utama dalam menyelenggarakan turnamen, melatih pemain muda, dan mempromosikan sepak bola komunitas. Kemitraan SFD dengan FIFA diharapkan dapat membuka pintu keuangan yang penting, membantu wilayah-wilayah sepak bola dengan fasilitas terbatas untuk meningkatkan fondasi mereka dan secara bertahap meningkatkan status mereka.
FIFA Pertimbangkan Perubahan Besar di Piala Dunia 2026
FIFA sedang mempertimbangkan untuk menyesuaikan aturan penempatan unggulan untuk Piala Dunia 2026, sebuah perubahan yang dapat berdampak langsung pada tim nasional Inggris.
Menurut informasi dari Calcio e Finanza (Italia) dan Football Meets Data, badan sepak bola dunia itu ingin memberi peringkat tim-tim di babak final berdasarkan sepenuhnya pada peringkat FIFA, alih-alih mempertahankan aturan lama dengan grup play-off.
Pada Piala Dunia sebelumnya, 32 tim dibagi ke dalam empat pot unggulan (empat “pot”) berdasarkan peringkat FIFA mereka, kecuali tim yang lolos play-off, yang selalu ditempatkan di Pot 4, pot terlemah. Namun, jika proposal baru ini disetujui, tim-tim ini akan diunggulkan berdasarkan peringkat FIFA mereka.
Perubahan ini mungkin tampak kecil, tetapi bisa berdampak besar pada undian. Dengan sistem yang berlaku saat ini, Inggris berisiko tergabung di grup neraka melawan tim-tim besar seperti Italia, yang seharusnya bermain di babak play-off. Namun, dengan skema baru ini, Italia lebih mungkin ditempatkan di pot 1 karena peringkat mereka yang tinggi, yang berarti mereka tidak akan berada di grup yang sama dengan Inggris.
Ini kabar baik bagi pelatih Thomas Tuchel, yang sedang mempersiapkan diri untuk Piala Dunia pertamanya bersama “Tiga Singa”. Inggris telah mengamankan tiket ke AS, Kanada, dan Meksiko setelah memenangkan delapan pertandingan di babak kualifikasi, menjadi tim Eropa pertama yang lolos.
Tuchel memulai rencananya lebih awal. Ia menghadiri Piala Dunia Antarklub FIFA 2025 di AS musim panas lalu untuk mempelajari kondisi kompetisi dan mengamati performa para pemainnya. Pelatih asal Jerman itu mengakui bahwa ia ingin timnya “beraklimatisasi cepat dengan lingkungan di Amerika Utara” sebelum memasuki turnamen terbesar di dunia tersebut.
Piala Dunia 2026 akan diikuti 48 tim, sebuah rekor jumlah peserta sepanjang sejarah. Keinginan FIFA untuk menyesuaikan aturan unggulan menunjukkan bahwa mereka menginginkan pengelompokan yang lebih adil, berdasarkan kekuatan, alih-alih kualifikasi.
Jika disahkan, aturan baru ini akan mengubah peta pengundian secara signifikan. Tim-tim peringkat tinggi seperti Inggris, Prancis, Portugal, dan Italia akan terhindar dari saling berhadapan di awal babak penyisihan grup. Bagi para penggemar, Piala Dunia 2026 mungkin memiliki lebih sedikit “grup neraka”, tetapi menjanjikan konfrontasi yang lebih sengit di babak-babak selanjutnya.
