Calon pelatih Timnas Indonesia, Timur Kapadze, sedang dibandingkan dengan Shin Tae-yong. Filosofi sepak bolanya dan preferensinya terhadap formasi 3-4-3 dapat membawa skuad Garuda kembali ke formasi yang familiar, tetapi dengan versi yang lebih baik.
Di tengah kesibukan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dalam mencari pelatih baru, Timur Kapadze muncul sebagai kandidat kuat, membawa serta harapan akan sebuah revolusi sekaligus nostalgia masa lalu. Kesamaan filosofi, terutama preferensi formasi tiga bek, memunculkan pertanyaan menarik: Akankah ahli strategi Uzbekistan ini mengembalikan “Skuad Garuda” ke “kondisi pabrik” era Shin Tae-yong?
Setelah resmi meninggalkan posisinya sebagai asisten pelatih tim nasional Uzbekistan, rumor kepindahan Kapadze ke Indonesia semakin menguat. Ia dianggap sebagai salah satu dari lima kandidat terakhir yang dipertimbangkan PSSI. Yang membuat banyak orang teringat Shin Tae-yong adalah kemiripan pendekatan permainannya: lebih menyukai gaya bermain menekan dengan intensitas tinggi, memercayai pemain muda, dan terutama fleksibilitas dalam menggunakan skema taktik, termasuk sistem 3-4-3.
Selama hampir 5 tahun memimpin Indonesia , pelatih Shin Tae-yong telah mengembangkan gaya permainan khas yang berbasis pada tiga bek tengah, biasanya 3-4-3 atau variasinya. Sistem ini mengharuskan para bek sayap untuk bekerja tanpa lelah, menyerang dan bertahan secara sinkron, menciptakan blok pertahanan yang solid dan transisi yang sangat cepat.
Gaya bermain tersebut cukup berhasil, membantu Indonesia membangun identitas dan menimbulkan masalah bagi banyak lawan tangguh. Setelah kepergiannya dan kedatangan Patrick Kluivert, Indonesia telah beralih ke beberapa sistem baru, terutama empat bek tradisional.
Kini, kedatangan Kapadze bisa membawa Indonesia kembali ke formasi yang biasa mereka gunakan di bawah Shin Tae-yong. Meskipun formasi yang ia sukai di Uzbekistan adalah 4-3-3, Kapadze juga dikenal sebagai pelatih yang sangat fleksibel dan sering menggunakan formasi 3-4-3 untuk menghadapi berbagai lawan. Kemauannya untuk mengadopsi sistem tiga bek bisa menjadi kelanjutan logis dari apa yang telah diterapkan Shin Tae-yong, yang memungkinkan para pemain kunci beradaptasi tanpa terlalu banyak waktu.
Namun, akan ada perbedaan mendasar dalam cara kerjanya. Shin Tae-yong memprioritaskan membangun fondasi pertahanan yang solid sebelum memikirkan serangan, sementara filosofi Kapadze lebih proaktif dan agresif. Timnya selalu menekan dengan keras dari area pertahanan lawan, berusaha merebut kembali bola dan melancarkan serangan secepat mungkin. Perbedaan ini dapat menciptakan versi 3-4-3 yang lebih menakutkan dan tak terduga bagi Indonesia.
Kombinasi sistem pertahanan yang familiar dan pola pikir menyerang yang lebih modern dan agresif bisa menjadi formula sempurna yang dicari Indonesia. Indonesia mewarisi warisan positif pendahulunya sekaligus memberikan semangat baru pada gaya bermain tim.
Dengan demikian, pengangkatan Timur Kapadze bukan sekadar pergantian personel, tetapi bisa jadi merupakan langkah kembali yang spektakuler kepada falsafah yang pernah mengharumkan nama sepak bola Indonesia, namun dalam versi yang lebih mutakhir dan komprehensif.
