Di tengah gelombang disrupsi teknologi yang semakin kompleks, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menegaskan urgensi strategi baru dalam pembangunan talenta digital Indonesia.
Dalam forum bergengsi Digital Asset and Innovation Summit 2025 yang digelar oleh Himpunan Pengusaha Muda Indonesia di Jakarta Selatan, Nezar menyampaikan bahwa penguatan ekosistem sumber daya manusia digital adalah fondasi utama untuk menghadapi tantangan global dan memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi digital.
Menurut Nezar, konektivitas digital yang bermakna atau meaningful connectivity tidak cukup hanya dengan infrastruktur. Hal ini harus ditopang oleh talenta digital yang unggul, adaptif, dan mampu menguasai teknologi terkini. Inovasi digital, lanjutnya, hanya akan tumbuh subur jika ditanam di lahan SDM yang mumpuni.
“Kita harus bisa mendapatkan meaningful connectivity, konektivitas yang bermakna. Dan hanya bisa didapat lewat talenta yang unggul dalam soal digital. Inovasi-inovasi dalam soal digital hanya bisa diperkuat oleh talenta digital yang mumpuni,” jelasnya.
Tak hanya itu, Nezar mengangkat contoh Tiongkok sebagai negara yang berhasil mengubah tantangan menjadi momentum strategis. Ketika AlphaGo mengalahkan grandmaster Go, Tiongkok merespons dengan menggelontorkan hampir 70 persen dana riset dan inovasi ke sektor kecerdasan buatan.
“Tiongkok, misalnya, mengalami semacam Sputnik moment ketika AlphaGo mengalahkan grandmaster Go. Sejak saat itu, mereka mengucurkan hampir 70 persen dana riset dan inovasi ke sektor AI,” tegasnya.
Meski menghadapi pembatasan teknologi dari Amerika Serikat, mereka mampu melahirkan platform AI lokal seperti DeepSeek yang kini menjadi pemain kompetitif di kancah global. Bagi Nezar, ini adalah refleksi penting bagi Indonesia untuk tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga produsen pengetahuan dan inovasi.
Lebih jauh, Nezar menekankan bahwa talenta digital bukan sekadar sumber daya, melainkan aset strategis bangsa. Tanpa investasi serius dalam pengembangan SDM digital, Indonesia berisiko hanya menjadi penonton dalam pertumbuhan ekonomi digital dunia.
Oleh karena itu, Nezar mengajak seluruh pemangku kepentingan pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat untuk bersatu dalam semangat gotong royong digital lintas sektor.
“Talenta digital bukan resource, dia adalah strategic asset. Kalau kita gagal membangun digital talent kita, kita hanya akan menjadi penonton dari pertumbuhan ekonomi digital dunia,” katanya lagi.
Transformasi digital, menurutnya, tidak bisa dilakukan secara parsial. Ia membutuhkan kerja kolaboratif yang menyeluruh, mulai dari penyusunan kebijakan, penguatan kurikulum teknologi, hingga penciptaan ruang inovasi yang inklusif.
“Transformasi digital tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah. Harus kerja kolaboratif, lintas sektor, gotong royong. Pemerintah, industri, lembaga riset, dan masyarakat semua harus jalan bareng,” ungkapnya.
Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, dan industri tidak bisa hanya menunggu. Semua pihak harus bergerak bersama untuk menciptakan ekosistem digital yang berdaulat, berkelanjutan, dan berdaya saing tinggi.
Pernyataan Nezar Patria ini sejalan dengan inisiatif strategis Kementerian Komunikasi dan Digital yang tengah memfinalisasi program AI Talent Factory sebagai pusat pengembangan talenta digital berbasis riset dan industri.
Program ini diharapkan menjadi akselerator utama dalam mencetak jutaan talenta digital yang siap terlibat langsung dalam proyek-proyek strategis nasional di berbagai sektor prioritas.
