SpaceX kembali menjadi sorotan dunia dengan rencana peluncuran Starship Flight 10 dari Starbase, Texas Selatan. Misi ambisius ini dijadwalkan berlangsung pada malam 24 Agustus 2025, dengan jendela peluncuran selama satu jam mulai pukul 19.30 EDT (23.30 GMT).
Namun, hanya 17 menit sebelum waktu peluncuran dibuka, SpaceX secara resmi membatalkan misi tersebut. Keputusan mendadak ini diumumkan melalui unggahan di X, platform media sosial milik Elon Musk, yang menyebutkan bahwa pembatalan dilakukan untuk menyelesaikan masalah teknis pada sistem darat.
Berdasarkan laporan Space, Selasa (26/8/2025), penundaan ini bukan yang pertama dalam sejarah pengembangan Starship, namun tetap menjadi momen penting dalam perjalanan SpaceX menuju eksplorasi luar angkasa yang lebih jauh.
Perusahaan kini menargetkan peluncuran ulang pada hari Senin, 25 Agustus, di waktu yang sama. Meski tertunda, antusiasme publik tetap tinggi, terutama bagi mereka yang mengikuti perkembangan teknologi roket terbesar dan terkuat yang pernah dibuat manusia.
Starship bukan sekadar roket biasa. Dengan tinggi lebih dari 122 meter saat terisi penuh, kendaraan ini terdiri dari dua bagian utama: Super Heavy sebagai pendorong dan Starship sebagai wahana antariksa tingkat atas. Keduanya dirancang untuk dapat digunakan kembali secara cepat dan efisien, menjadikannya pionir dalam revolusi transportasi luar angkasa.
Bahkan jika Anda tidak bisa menyaksikan peluncurannya secara langsung, SpaceX menawarkan model replika Starship berukuran 35 cm sebagai pajangan desktop, lengkap dengan material baja paduan dan bobot ringan hanya 225 gram.
Tujuan utama pengembangan Starship adalah untuk membawa umat manusia kembali ke Bulan dan bahkan menetap di Mars. NASA telah memilih Starship sebagai kendaraan pendarat berawak pertama dalam program Artemis, dengan target misi ke Bulan paling cepat pada tahun 2027. Namun, sebelum mimpi itu terwujud, Starship harus melewati serangkaian uji coba yang ketat dan penuh tantangan.
Hingga kini, Starship telah menjalani sembilan misi uji coba, semuanya diluncurkan dari Starbase. Tiga di antaranya terjadi tahun ini pada Januari, Maret, dan Mei namun sayangnya, ketiganya mengalami kegagalan.
Penerbangan 7 dan 8 meledak kurang dari 10 menit setelah peluncuran, sementara Penerbangan 9 hancur saat kembali memasuki atmosfer Bumi. Meski demikian, setiap kegagalan membawa pelajaran penting yang digunakan untuk menyempurnakan desain dan sistem operasional roket.
Penerbangan ke-10 dirancang dengan tujuan yang mirip dengan misi sebelumnya. SpaceX berencana mendaratkan Super Heavy di Teluk Meksiko sekitar 6,5 menit setelah peluncuran, sementara Starship akan diarahkan untuk pendaratan terkendali di Samudra Hindia, tepatnya di lepas pantai Australia Barat, sekitar satu jam kemudian.
Selain itu, misi ini juga akan menguji kemampuan Starship dalam mengerahkan delapan versi tiruan satelit internet Starlink dan melakukan penyalaan ulang mesin di luar angkasa dua langkah penting menuju misi orbit dan antar planet yang lebih kompleks.
Meski peluncuran Flight 10 belum terlaksana, semangat eksplorasi dan inovasi SpaceX tetap menyala terang. Setiap langkah, setiap uji coba, dan setiap penundaan adalah bagian dari proses panjang menuju masa depan di mana manusia bisa menjelajah lebih jauh dari sebelumnya. Dunia menunggu, dan Starship bersiap untuk terbang lebih tinggi dari mimpi-mimpi kita.
