Epic Games secara resmi menarik gugatan antimonopoli yang mereka ajukan terhadap Samsung setelah serangkaian diskusi intensif antara kedua perusahaan. Melalui unggahan di platform X, CEO sekaligus pendiri Epic, Tim Sweeney, menyatakan rasa syukurnya karena Samsung bersedia menanggapi kekhawatiran Epic terkait praktik distribusi aplikasi.
Dilansir dari Engadget, Selasa (8/7/2025), gugatan yang sempat diajukan pada September lalu ini kini resmi dibatalkan, sebuah langkah yang menunjukkan pergeseran Epic dari jalur litigasi menuju pendekatan yang lebih kolaboratif.
Inti sengketa Epic dan Samsung berpusat pada fitur Auto Blocker di perangkat Android mereka, yang secara default hanya memperbolehkan pemasangan aplikasi melalui Google Play Store dan Samsung Galaxy Store.
Epic menuduh bahwa pengaturan ini menutup peluang pengguna untuk mengunduh Epic Games Store, sekaligus menciptakan kemitraan de facto antara Google dan Samsung yang menghambat persaingan. Keputusan untuk menarik tuntutan menandai babak baru dalam upaya Epic menantang dominasi dua raksasa teknologi tersebut.
Gugatan terhadap Samsung ini merupakan kelanjutan dari serangkaian aksi hukum Epic yang menargetkan praktik distribusi aplikasi di ekosistem mobile. Sebelumnya, Epic telah menggugat Google dengan tuduhan bahwa Google Play Store melanggar undang-undang antimonopoli Amerika Serikat.
Di sisi lain, pertarungan Epic melawan Apple berakhir dengan kemenangan bagi pengembang game tersebut, di mana Apple akhirnya meralat kebijakan biaya transaksi App Store dan kembali menghadirkan Fortnite setelah berbulan-bulan dihapus.
Dengan menarik gugatan melawan Samsung, Epic Games tampaknya memilih strategi baru: mengedepankan negosiasi untuk membuka akses platform mobile.
Meskipun Sweeney belum membeberkan detail kesepakatan yang dicapai, pengumuman ini menimbulkan harapan bahwa pengguna Android akan segera menemukan Epic Games Store lebih mudah diinstal, tanpa harus menonaktifkan atau memodifikasi pengaturan keamanan bawaan.
Bagi Samsung, pembatalan gugatan Epic juga berarti kesempatan untuk memperkuat citra sebagai produsen yang responsif terhadap kebutuhan pengembang dan komunitas digital.
Apabila mereka benar-benar meninjau ulang dan menyesuaikan kebijakan Auto Blocker, maka langkah tersebut bisa menjadi preseden penting bagi pabrikan smartphone lain dalam merancang ekosistem aplikasi yang lebih terbuka dan inklusif.
Meski Epic berhasil sedikit mengendurkan kantong litigasi, pertarungan sesungguhnya masih berlanjut di ranah antimonopoli mobile. Industri pengembang aplikasi akan mengamati perkembangan kerja sama antara Epic dan Samsung, serta bagaimana langkah ini memengaruhi peluang distribusi aplikasi alternatif di masa depan.
Keputusan Epic untuk beralih pada dialog bisa jadi menandai awal era baru bagi persaingan ekosistem aplikasi di perangkat Android. Sementara itu, para pengguna dan pengembang aplikasi masih menanti kepastian tanggal implementasi perubahan kebijakan Samsung.
Apakah Epic Games Store akan segera menyusul Google Play Store dan Galaxy Store di menu pemasangan? Hanya waktu yang akan menjawab, namun satu hal pasti: kancah distribusi aplikasi mobile semakin dinamis, dan kemitraan yang selama ini tak terduga kini membuka babak baru persaingan di industri game dan teknologi.
