Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dikabarkan telah sepakat menunjuk John Herdman sebagai pelatih baru Timnas Indonesia mulai Januari 2026. Juru taktik asal Inggris berusia 50 tahun ini akan menggantikan posisi yang dikosongkan setelah kegagalan di kualifikasi Piala Dunia 2026.
Herdman tidak hanya dipercaya menangani skuad senior Garuda, tapi juga Timnas U-23 sebagai bagian dari program regenerasi jangka panjang. Pengumuman resmi diperkirakan segera dilakukan oleh Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, setelah finalisasi kontrak.
Herdman bukan nama sembarangan di dunia kepelatihan internasional. Ia dikenal sebagai sosok yang mampu mengangkat tim underdog ke level tertinggi.
Kariernya dimulai di Selandia Baru, di mana ia melatih timnas wanita dari 2006 hingga 2011, berhasil membawa mereka lolos ke Piala Dunia Wanita 2007 dan 2011. Pada 2011, Herdman pindah ke Kanada, awalnya menukangi timnas wanita.
Di sana, ia meraih medali perunggu Olimpiade London 2012 dan Rio 2016, serta meningkatkan peringkat FIFA Kanada secara drastis. Puncak kariernya terjadi saat beralih ke timnas pria Kanada pada 2018.
Herdman menjadi pelatih pertama yang membawa Kanada lolos ke Piala Dunia pria setelah 36 tahun absen, dengan tampil di Qatar 2022. Prestasi ini menjadikannya salah satu kandidat paling mumpuni bagi PSSI, yang sedang mencari pelatih berpengalaman untuk membawa Indonesia ke Piala Dunia 2030 dan Piala Asia 2027.
Herdman juga dikenal dengan pendekatan taktis fleksibel, seperti formasi 3-4-3 atau 3-5-2, serta fokus pada psikologi tim dan pengembangan pemain muda—hal yang sesuai dengan komposisi skuad Garuda saat ini.
Namun, di balik rekam jejak gemilangnya, nama Herdman tak lepas dari kontroversi besar yang melanda sepak bola Kanada. Menurut laporan BBC, mantan bos timnas Kanada pria dan wanita ini baru saja menerima sanksi berupa “letter of admonishment” atau surat teguran dari Canada Soccer.
Sanksi ini hasil investigasi independen atas keterlibatannya dalam kasus penggunaan drone ilegal untuk memata-matai latihan tim lawan. Skandal ini meledak menjelang Olimpiade Paris 2024, di mana staf timnas wanita Kanada tertangkap menggunakan drone untuk mengintai sesi latihan Selandia Baru.
Pelatih saat itu, Bev Priestman—yang pernah menjadi asisten Herdman—diskors satu tahun oleh FIFA, bersama dua staf lainnya. Canada Soccer menyebut insiden ini sebagai “gejala dari pola masa lalu budaya yang tidak dapat diterima”.
Investigasi lebih lanjut mengungkap bahwa praktik mata-mata dengan drone bukan hal baru, melainkan telah berlangsung sejak era Herdman memimpin timnas wanita Kanada (2011-2018) dan berlanjut ke tim pria hingga 2023.
Laporan independen menyimpulkan adanya “budaya pengawasan rahasia terhadap lawan” yang sistemik. Herdman, yang meninggalkan Canada Soccer pada Agustus 2023 untuk melatih Toronto FC di MLS, mengundurkan diri dari klub tersebut pada November 2024 tepat saat proses disiplin dimulai.
Meski Herdman membela diri dengan menekankan prestasinya yang “belum pernah terjadi sebelumnya” bagi Kanada, sanksi ini menimbulkan pertanyaan etika. Canada Soccer menyatakan Herdman melakukan pelanggaran kode disiplin, meski sanksi hanya berupa teguran tertulis—bukan larangan melatih atau denda berat.Bagi PSSI, penunjukan Herdman merupakan taruhan besar.
Di satu sisi, pengalamannya membawa tim nasional ke Piala Dunia menjadi daya tarik utama, terutama saat Indonesia membutuhkan lompatan prestasi. Di sisi lain, riwayat kontroversi ini bisa menjadi bahan perdebatan di kalangan suporter dan pengamat sepak bola tanah air, yang kerap menuntut integritas tinggi dari figur di Timnas.
Apakah Herdman mampu membersihkan namanya dan membawa Garuda terbang lebih tinggi, atau skandal masa lalu akan menjadi bayang-bayang? Kita tunggu kiprahnya mulai 2026. Yang pasti, era baru Timnas Indonesia bakal penuh warna—baik prestasi maupun drama.
