Di tengah maraknya perbincangan seputar dakwah digital, video pendek, hingga ceramah viral, santri mulai mengambil peran yang berbeda. Tak hanya berdiri di mimbar atau berbicara di podium, kini mereka juga menulis puisi, cerpen, bahkan novel. Sastra menjadi wahana baru bagi santri dalam menyampaikan nilai-nilai keislaman—bukan melalui gaya khutbah yang kaku, tetapi lewat imajinasi dan kehalusan estetika.
Pertanyaannya: dapatkah sastra menjadi jalan baru dakwah? Atau lebih jauh, mungkinkah menulis—dalam bentuk yang reflektif dan sastra—lebih menyentuh dibanding ceramah yang normatif dan instruktif?
Dakwah Tak Harus Deklamatif
Selama ini, dakwah kerap dipahami sebagai aktivitas verbal yang bersifat deklaratif: menyampaikan, menasihati, memperingatkan. Model-model dakwah yang umum kita temui—baik di televisi, media sosial, maupun panggung umum—sering kali bersifat top-down. Kalimatnya langsung, pesannya lugas: menyuruh kebaikan, mencegah keburukan. Namun, di era ketika masyarakat makin plural dan cenderung kritis terhadap otoritas, model dakwah yang terlalu normatif kerap dianggap menggurui dan kering.
Di sinilah sastra menawarkan pendekatan berbeda. Ia tidak memaksa, tetapi mengajak. Tidak menyuruh, tetapi menyentuh. Dalam puisi, nilai-nilai keislaman bisa hadir dalam kelembutan bunyi dan kekayaan makna. Dalam cerpen, kebaikan dan kebenaran tidak disampaikan sebagai doktrin, tapi melalui perjuangan tokoh yang manusiawi. Dalam novel, pembaca diajak menyelami dilema moral dan spiritual dengan perlahan dan dalam. Dakwah melalui sastra menjadi bentuk komunikasi yang lebih kontemplatif dan estetik.
Santri yang menulis sastra sedang membuka jalur baru dalam dunia dakwah. Mereka tidak kehilangan arah keislaman, hanya mengganti cara menyampaikannya: dari khutbah menjadi kisah, dari ceramah menjadi perenungan.
Menulis dari Dalam, Bukan Sekadar Tema
Namun tentu, tidak semua karya tulis yang bertema religius otomatis menjadi dakwah. Dalam tradisi keilmuan Islam, dakwah dipahami bukan semata kegiatan menyampaikan, tapi harus disertai keikhlasan, kelembutan, dan kedalaman iman. Sastra sebagai medium dakwah hanya akan bermakna jika lahir dari kejujuran hati dan ketulusan niat, bukan sekadar memoles tema.
Menulis tidak cukup hanya untuk menunjukkan kemampuan, tetapi sebagai bentuk pengabdian: kepada Tuhan, kepada sesama manusia, dan kepada kebenaran. Oleh sebab itu, karya sastra santri yang memberi kesan mendalam adalah karya yang muncul dari tazkiyah—proses penyucian jiwa. Ia tidak menjadikan Islam sebagai slogan, melainkan sebagai napas kehidupan yang menyatu dalam teks.
Puisi yang menyuarakan rindu kepada Sang Pencipta kadang lebih membekas di hati pembaca ketimbang ceramah tentang pentingnya tahajud. Cerpen tentang kesabaran seorang ibu bisa lebih menggugah daripada kutipan dalil tentang keutamaan berbakti. Di titik ini, dakwah melalui sastra menjadi lebih halus, namun justru lebih meresap.
Tantangan Ganda Penulis Santri
Meski potensial, jalan ini penuh tantangan. Santri penulis kerap menghadapi dua tekanan: dari dalam dan dari luar. Di lingkungan pesantren, menulis sastra masih dianggap aktivitas pinggiran, belum seprestisius menghafal matan atau mempelajari gramatika Arab. Sementara di luar pesantren, karya sastra yang mengusung religiusitas acap dicurigai sebagai instrumen dakwah formal yang penuh dogma.
Akibatnya, para penulis santri sering terjebak dalam dilema identitas. Di satu sisi, mereka ingin menjaga kedalaman spiritual khas pesantren; di sisi lain, mereka dituntut tampil sesuai standar estetik pasar sastra yang cenderung sekuler. Maka, dibutuhkan keteguhan sikap: bahwa menulis adalah bagian dari pengabdian, bukan pelarian. Bahwa sastra bukan jalan keluar dari pesantren, melainkan jendela untuk membawa ruh pesantren ke ruang publik.
Santri penulis perlu meyakini bahwa mereka sedang meluaskan cakrawala dakwah. Di era digital dan literasi terbuka, kehadiran karya sastra dari pesantren menjadi jembatan antara nilai-nilai Islam dan kesadaran kemanusiaan yang lebih luas.
Sastra Bukan Hura-hura Kata
Sastra sebagai jalan dakwah tidak boleh dibiarkan liar tanpa arah. Ia bukan ajang eksperimen kata-kata tanpa ruh. Maka, penting bagi para pembina literasi di pesantren untuk menanamkan etika berkarya. Sastra bukan sekadar keindahan bentuk, tetapi harus menyemai makna dan hikmah. Boleh menulis dalam gaya modern, tetapi muatan spiritualnya tetap mendalam.
Yang kita butuhkan hari ini adalah generasi santri yang tak hanya mahir membaca kitab, tetapi juga piawai merangkai makna lewat cerita. Yang mampu memperkenalkan Islam bukan dengan marah-marah di media, melainkan dengan menulis kisah yang mengharukan. Santri yang bukan hanya menjadi penyampai pesan, tapi juga pencipta narasi.
Menyemai Keindahan, Menebar Hikmah
Jika ceramah menyampaikan ajaran dengan lisan, maka sastra menyampaikannya lewat imajinasi. Ceramah sering menegaskan, sastra justru mengajak merenung. Ceramah kadang cepat berlalu, sastra bisa mengendap dan dikenang. Di titik ini, dakwah melalui karya sastra bisa menjadi jalan yang tidak bising tapi menyala lama.
Sastra memberi umat ruang untuk meresapi, tidak sekadar mematuhi. Dan dalam keindahan bahasa yang menyentuh, nilai-nilai Islam bisa menemukan bentuknya yang paling humanis.***
Abdul Wachid B.S. (Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, dan Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto)
