Sastra dalam pendidikan bukan sekadar teks untuk dibaca atau dikaji; ia adalah sarana untuk membentuk kreativitas, empati, dan pemahaman manusia secara mendalam. Melalui sastra, peserta didik belajar meresapi pengalaman hidup, menumbuhkan imajinasi, dan mengembangkan kemampuan refleksi kritis—kemampuan yang tidak bisa digantikan oleh sekadar pengajaran faktual atau transfer informasi. Sastra menuntut pembaca untuk menelusuri lapisan-lapisan pengalaman manusia, dari rasa cinta hingga kepedihan, dari kegembiraan hingga kesepian, sehingga lahirlah pendidikan yang tidak hanya menuntut pemahaman kognitif, tetapi juga pemahaman emosional dan spiritual.
Namun, ketika sastra kehilangan jiwanya (nilai estetika, imajinasi, dan refleksi kemanusiaannya), pendidikan pun kehilangan makna sejati. Proses belajar menjadi mekanis, fokus pada pencapaian nilai atau kompetensi teknis semata, sementara substansi kemanusiaan yang seharusnya menyertainya hilang. Dalam konteks ini, pendidikan dapat dengan mudah terjebak dalam sekadar transmisi informasi: siswa menghafal fakta, memahami struktur teks, dan menjawab soal, tetapi tidak mampu menafsirkan, merasakan, atau menghubungkan teks dengan kehidupan mereka sendiri.
Berbeda dengan esai “Sastra, Cinta, dan Krisis Kemanusiaan”, yang menyoroti krisis kemanusiaan secara eksistensial, esai ini memusatkan perhatian pada praktik pendidikan. Tujuannya adalah menelaah dampak hilangnya jiwa sastra dalam pengajaran, kurikulum, dan komunitas belajar, sehingga pendidikan kehilangan kapasitasnya membentuk manusia yang utuh dan berperikemanusiaan. Lebih jauh, esai ini mencoba mengurai akar permasalahan, menelusuri sebab-menyebab yang menjerat sastra menjadi teks mati, dan menawarkan alternatif konkret untuk mengembalikan sastra ke fungsinya yang esensial dalam pendidikan.
Sastra Kehilangan Jiwa dalam Pendidikan
Bayangkan seorang siswa yang membaca puisi hanya untuk menebalkan jawaban di lembar ujian. Kata-kata indah dan pengalaman hidup yang terkandung di dalamnya kehilangan nyawa; ia menjadi sekadar teks yang “dihabiskan” untuk nilai semata. Puisi yang seharusnya mengajarkan kesadaran diri, kesadaran sosial, dan empati, kini hanya menjadi bahan hafalan, terlepas dari kedalaman makna yang dimilikinya.
Kurikulum sastra yang terlalu normatif dan menekankan penilaian kompetensi membuat pembelajaran sastra terjebak pada hafalan dan reproduksi, bukan interpretasi dan kreativitas. Guru mengajarkan puisi dengan fokus pada meter, rima, atau makna literal, sementara imajinasi dan pengalaman manusia yang seharusnya hidup dalam teks itu diabaikan. Akibatnya, sastra kehilangan jiwa: kekayaan estetika, refleksi kemanusiaan, dan kemampuan menyelami pengalaman manusia tidak tersentuh dalam proses belajar.
Rita Felski menegaskan dalam The Limits of Critique bahwa sastra seharusnya membuka “kemungkinan pengalaman baru” bagi pembaca, bukan sekadar sarana evaluasi (Chicago: University of Chicago Press, 2015:22). Dalam konteks pendidikan Indonesia, pembatasan ini membuat literasi estetis dan kritis menjadi subordinat terhadap capaian teknis kurikulum. Siswa diajarkan cara menafsirkan teks dengan pola baku, tetapi tidak diberi ruang untuk mengekspresikan respon emosional atau refleksi pribadi yang timbul dari teks tersebut. Akibatnya, proses belajar menjadi reduktif; sastra yang seharusnya menjadi jendela kehidupan justru berubah menjadi kotak kosong yang diisi angka dan skor.
Ketika sastra dikurangi menjadi alat ukur, pendidikan kehilangan dimensinya yang paling vital: kemampuan membentuk manusia yang reflektif, kreatif, dan peka terhadap kemanusiaan. Hilangnya hubungan antara literasi, empati, dan kreativitas menandai distorsi fungsi pendidikan itu sendiri. Pendidikan semacam ini menghasilkan generasi yang cakap secara teknis, tetapi miskin pengalaman batin dan kesadaran sosial. Manusia yang hanya dilatih untuk meraih nilai tanpa merasakan makna hidup akan kesulitan menghadapi kompleksitas eksistensial yang nyata.
Sastra yang kehilangan jiwa dalam ruang kelas bukan sekadar kerugian seni; ia adalah cermin pendidikan yang kehilangan makna sejati. Pertanyaan yang muncul: bagaimana pendidikan dapat membentuk manusia utuh jika medium yang seharusnya menumbuhkan jiwa itu sendiri mati rasa? Pertanyaan ini bukan sekadar retoris; ia menuntut refleksi mendalam atas seluruh ekosistem pendidikan: kurikulum, guru, budaya sekolah, dan konteks sosial yang melingkupi proses belajar.
Dampak terhadap Pendidikan
Apa yang terjadi ketika siswa tidak lagi merasakan “hidup” di balik kata-kata? Minat belajar menurun, kreativitas memudar, dan kemampuan berpikir kritis pun tereduksi menjadi mekanisme menghafal. Anak-anak menjadi pasif, menunggu petunjuk dan jawaban, alih-alih mencari, bertanya, dan menafsirkan sendiri. Hal ini tidak hanya membatasi pembelajaran sastra, tetapi juga merusak fondasi pendidikan secara keseluruhan.
Dengan sastra kehilangan jiwa, pendidikan menjadi instrumen mekanis: fokus pada penguasaan materi, bukan pembentukan karakter atau pemahaman dunia. Literasi menjadi target kuantitatif, empati menjadi nilai statistik, dan kreativitas dikekang oleh standar yang kaku. Contoh nyata: siswa mampu menjawab soal analisis teks, tetapi gagal memahami makna eksistensial di balik puisi, atau bahkan tidak tersentuh perasaan kemanusiaan yang seharusnya dibangkitkan teks. Kondisi ini memperlihatkan adanya jurang antara kemampuan teknis dan kesadaran manusiawi—sebuah paradoks pendidikan yang terlalu menekankan keterampilan dan mengabaikan jiwa.
Paulo Freire menekankan bahwa pendidikan harus bersifat dialogis dan membebaskan, bukan sekadar transfer pengetahuan (Pedagogy of the Oppressed, New York: Continuum, 2005:34). Kurikulum yang mengabaikan jiwa sastra berlawanan dengan prinsip ini; ia membatasi potensi pendidikan untuk membentuk subjek kritis dan kreatif. Tanpa keterlibatan emosional, pendidikan menjadi aktivitas formalitas semata, di mana proses belajar tidak lagi menimbulkan perubahan internal, tetapi hanya reproduksi pengetahuan yang dangkal.
Dampak nyata di Indonesia terlihat pada praktik pembelajaran yang terjebak ujian nasional dan standar kompetensi semata. Anak-anak kehilangan ruang untuk menyelami imajinasi, meresapi emosi, dan membangun hubungan kemanusiaan melalui sastra. Sastra yang seharusnya menjadi sarana pengembangan kemanusiaan justru terpinggirkan, sehingga pendidikan yang dijalankan hanya menekankan kemampuan teknis tanpa membekali peserta didik dengan kesadaran diri, empati, atau kreativitas yang otentik.
Pendidikan yang kehilangan jiwa sastra sejatinya kehilangan kapasitasnya membentuk manusia utuh. Sastra bukan sekadar teks, melainkan medium pembentukan karakter, imajinasi, dan empati: dimensi yang, bila hilang, membuat pendidikan redup dan mekanis. Hal ini menegaskan bahwa esensi pendidikan bukan sekadar mentransfer informasi, tetapi membentuk manusia secara holistik: secara kognitif, emosional, sosial, dan spiritual.
Sistem Pendidikan dan Kurikulum
Di banyak sekolah, sastra menjadi materi yang dinilai, bukan dialami. Kurikulum menekankan capaian terukur (nilai ujian, sertifikasi, kompetensi formal), sementara proses kreatif, eksplorasi imajinasi, dan refleksi kemanusiaan dipinggirkan. Seorang siswa mungkin hafal struktur puisi atau tokoh drama, tetapi tidak pernah diajak merasakan denyut kehidupan di balik kata-kata.
Keterbatasan ini bukan sekadar masalah teknis; ia mencerminkan orientasi sistem pendidikan yang pragmatis dan kuantitatif. Ketika tujuan pendidikan dikurangi menjadi angka dan sertifikat, sastra kehilangan ruangnya sebagai medium untuk membentuk kepekaan estetis dan empati. John Dewey (Experience and Education, New York: Macmillan, 1938:27) menegaskan bahwa pendidikan sejati harus menumbuhkan pengalaman yang hidup, bukan sekadar transfer pengetahuan. Kurikulum yang menekankan hasil terukur sering kali mengorbankan pengalaman hidup yang menjadi inti jiwa sastra.
Bahkan, tekanan sistemik ini menimbulkan budaya belajar yang serba terburu-buru dan berorientasi pada pencapaian formal, di mana teks sastra hanya dianggap bahan untuk ujian atau nilai akademik. Fenomena ini menjelaskan mengapa banyak generasi muda mampu menguraikan struktur sajak atau plot novel, tetapi tidak mampu merasakan kedalaman pengalaman kemanusiaan yang seharusnya disampaikan oleh karya sastra tersebut.
Kurangnya Guru atau Mentor yang Menghidupkan Sastra
Selain faktor kurikulum, kualitas pengajar memegang peran sentral dalam menjaga jiwa sastra tetap hidup. Guru yang hanya mengajarkan sastra secara teknis (menganalisis puisi atau prosa secara struktural tanpa menghidupkan makna di balik kata-kata), sama artinya dengan memotong denyut nadi teks. Tanpa mentor yang mampu menyalakan imajinasi dan membangkitkan rasa, siswa tidak memiliki pengalaman langsung untuk meresapi hidup melalui sastra.
Seorang guru yang efektif bukan hanya pengajar materi; ia juga teladan kreatif yang mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, empati, dan refleksi dalam diri siswa. Misalnya, dalam pembelajaran puisi, guru tidak sekadar menjelaskan rima, ritme, dan metafora, tetapi juga mengajak siswa membayangkan pengalaman batin penyair, mengaitkan konteks historis dan budaya, serta memicu refleksi personal tentang kehidupan mereka sendiri. Ketika guru mampu membingkai pengalaman sastra sebagai “hidup yang dirasakan”, teks menjadi jendela ke dunia yang lebih luas, bukan sekadar bahan ujian.
Kekurangan guru atau mentor yang memahami sastra sebagai pengalaman hidup juga berdampak pada kemampuan siswa untuk berkreasi. Tanpa teladan, siswa sulit menemukan suara sendiri, bahkan ketika mereka diajak menulis karya kreatif. Banyak sekolah memaksa siswa menulis cerpen atau puisi untuk penilaian formal, tetapi tanpa bimbingan yang mampu menumbuhkan imajinasi, tulisan mereka cenderung kaku, formalistik, dan jauh dari esensi hidup yang seharusnya terkandung dalam karya sastra.
Studi tentang efektivitas pendidikan sastra menunjukkan bahwa keterlibatan guru yang inspiratif berpengaruh signifikan terhadap minat dan kemampuan siswa dalam menyelami teks. Ketika guru menunjukkan bagaimana sastra dapat menjadi medium refleksi diri, empati sosial, dan pemahaman dunia, siswa bukan hanya belajar membaca kata-kata, tetapi juga belajar “membaca kehidupan”. Kekosongan mentor yang mampu menghidupkan sastra akan langsung berimplikasi pada kematian jiwa sastra di kelas, yang kemudian menular pada cara pendidikan dipersepsikan: mekanis, kering, dan tanpa makna.
Tekanan Evaluasi dan Standar Formal
Selain kurikulum dan kualitas pengajar, tekanan evaluasi menjadi penyebab lain mengeringnya jiwa sastra dalam pendidikan. Sistem pendidikan modern sering menekankan ujian, nilai, dan kompetensi formal sebagai ukuran keberhasilan belajar. Fokus ini mendorong guru dan siswa untuk lebih mengutamakan pencapaian angka daripada pengalaman kreatif dan emosional yang sesungguhnya.
Dalam konteks ini, sastra dipandang sebagai sarana “hasil ujian” yang harus dikuasai, bukan sebagai pengalaman hidup yang harus dirasakan. Anak-anak belajar menganalisis teks hanya untuk menjawab pertanyaan pilihan ganda atau menulis esai sesuai rubrik, bukan untuk menelusuri kedalaman makna dan refleksi pribadi. Tekanan semacam ini membuat guru enggan mengambil risiko memperluas pengalaman belajar yang subjektif atau emosional, karena tidak ada indikator kuantitatif yang menilai proses tersebut.
Fenomena ini menciptakan lingkaran setan: pendidikan menuntut nilai, nilai menuntut penguasaan materi, dan penguasaan materi mengabaikan pengalaman. Sastra yang seharusnya menjadi ruang eksplorasi, refleksi, dan kreativitas akhirnya menjadi bahan hafalan semata. Ketika tekanan evaluasi menguasai proses belajar, pendidikan kehilangan dimensi esensialnya: membentuk manusia yang peka, kreatif, dan reflektif.
Hilangnya Kreativitas dan Imajinasi
Ketika sastra tidak lagi hidup, kreativitas siswa pun melemah. Mereka belajar meniru struktur dan pola yang sudah ada, bukan mencipta atau mengekspresikan pengalaman mereka sendiri. Imajinasi yang seharusnya berkembang melalui interaksi dengan teks sastra menjadi terbelenggu, terbatas pada kerangka formalistik yang diajarkan di sekolah.
Kreativitas bukan sekadar kemampuan mencipta; ia juga kemampuan berpikir kritis, menyelesaikan masalah, dan melihat dunia dari perspektif baru. Sastra yang kehilangan jiwa menghambat proses ini. Anak-anak menjadi pasif, menerima informasi tanpa mampu mengubah atau menafsirkannya, sehingga pendidikan kehilangan salah satu fungsinya yang paling esensial: membentuk pikiran yang fleksibel dan sensitif terhadap kehidupan.
Kemunduran Empati dan Kesadaran Sosial
Sastra adalah media yang memungkinkan pembaca merasakan pengalaman orang lain, menumbuhkan empati dan kesadaran sosial. Tanpa jiwa sastra, kemampuan ini melemah. Siswa tidak belajar menempatkan diri dalam pengalaman berbeda, memahami penderitaan atau kebahagiaan orang lain, sehingga pendidikan gagal membekali mereka untuk hidup dalam masyarakat yang kompleks dan beragam.
Kehilangan dimensi emosional ini berimplikasi panjang. Manusia yang tidak terbiasa merasakan pengalaman orang lain akan kesulitan membangun relasi sosial yang sehat, mengelola konflik, atau mengambil keputusan yang berlandaskan kemanusiaan. Pendidikan yang ideal seharusnya menumbuhkan kesadaran ini, tetapi tanpa sastra yang hidup, kesadaran tersebut jarang muncul.
Pendidikan Menjadi Mekanis
Dengan sastra kehilangan jiwa, pendidikan berisiko menjadi mekanis dan reduktif. Tujuan belajar berubah menjadi pencapaian angka, penyelesaian tugas, atau penguasaan materi, bukan pengembangan diri. Siswa belajar untuk menilai benar-salah, bukan belajar untuk berpikir, merasakan, atau merenung. Proses belajar kehilangan makna, menjadi sekadar rutinitas yang mengisi jam pelajaran tanpa menumbuhkan wawasan, karakter, atau spiritualitas.
Upaya Mengembalikan Jiwa Sastra dalam Pendidikan
1. Reformasi Kurikulum
Kurikulum perlu direformasi agar memberikan ruang bagi pengalaman kreatif dan reflektif. Sastra tidak cukup diajarkan sebagai teks yang dianalisis secara formal; ia harus diperlakukan sebagai medium pengalaman hidup yang mendorong siswa mengekspresikan pemikiran, perasaan, dan refleksi mereka.
Integrasi kegiatan membaca, menulis kreatif, diskusi reflektif, dan pertunjukan sastra dapat membangkitkan jiwa teks dalam pendidikan. Misalnya, membaca puisi tidak hanya untuk menafsirkan makna literal, tetapi juga untuk merasakan emosi, membayangkan pengalaman penyair, dan menulis respons kreatif yang personal. Dengan cara ini, siswa belajar menghubungkan teks dengan pengalaman hidup mereka sendiri, sehingga sastra menjadi hidup kembali.
2. Pelatihan Guru dan Mentor
Guru perlu dibekali kemampuan tidak hanya menguasai materi, tetapi juga membimbing siswa merasakan dan mengekspresikan pengalaman sastra. Pelatihan guru sebaiknya mencakup literasi estetis, pedagogi kreatif, dan metode yang menumbuhkan refleksi, empati, dan imajinasi siswa.
Mentor yang inspiratif dapat menjadi teladan bagaimana membaca dan menulis sastra bukan sekadar aktivitas teknis, tetapi pengalaman hidup yang memperkaya batin. Guru yang mampu menyalakan imajinasi siswa akan membuat pendidikan bukan sekadar penguasaan materi, tetapi proses pembentukan manusia utuh: pikiran, hati, dan jiwa.
3. Mengurangi Tekanan Evaluasi Formal
Evaluasi seharusnya tidak menghalangi kreativitas dan refleksi. Sistem penilaian perlu memberikan ruang bagi proses belajar yang subjektif, pengalaman emosional, dan ekspresi kreatif siswa. Dengan menurunkan tekanan ujian dan menekankan proses pembelajaran yang hidup, pendidikan memungkinkan sastra untuk mengembalikan fungsinya membentuk manusia yang reflektif dan kreatif.
Sastra kehilangan jiwa bukan sekadar masalah estetika; ia adalah pertanda pendidikan yang kehilangan makna. Tanpa jiwa sastra, pendidikan menjadi mekanis, kreativitas memudar, empati melemah, dan manusia yang dibentuknya tidak utuh. Kurikulum normatif, guru yang tidak menghidupkan teks, dan tekanan evaluasi formal menjadi penyebab utama.
Upaya mengembalikan jiwa sastra dalam pendidikan memerlukan reformasi kurikulum, pelatihan guru, dan pengurangan tekanan evaluasi. Sastra harus diajarkan sebagai pengalaman hidup, medium refleksi, dan sarana menumbuhkan empati dan imajinasi. Hanya dengan demikian pendidikan dapat kembali menjadi proses pembentukan manusia utuh—bukan sekadar penguasaan materi atau pencapaian angka.
Mengembalikan jiwa sastra dalam pendidikan bukan tugas ringan. Namun, ketika sastra hidup kembali, pendidikan pun akan menemukan makna sejatinya: membentuk manusia yang mampu berpikir, merasakan, dan merenung; manusia yang mampu hidup secara penuh, dengan kreativitas, empati, dan kesadaran yang mendalam.
Dengan kata lain, menghidupkan sastra dalam pendidikan berarti menghidupkan jiwa manusia itu sendiri. Tanpa itu, pendidikan kehilangan arah, dan manusia kehilangan kemampuannya untuk memahami dan mengalami kehidupan secara utuh.***
Abdul Wachid B.S.( Penulis adalah penyair, Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, dan Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto)
