Di tengah arus globalisasi yang sering mengguncang akar budaya, suara Melayu tetap bergema sebagai denyut identitas Asia Tenggara. Suara ini bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cermin jiwa kolektif yang menghubungkan generasi masa lalu, kini, dan mendatang. Dalam khazanah sastra Singapura, sosok Rohani Din, akrab disapa Bonda Anie Din, hadir sebagai teladan produktivitas. Penyair dan novelis ini tidak hanya menulis, tetapi juga aktif dalam lawatan budaya, program “penulis masuk sekolah,” hingga berbagai forum sastra lintas negara.
Karya-karya Rohani Din menegaskan bahwa usia bukan penghalang untuk berkarya. Justru pada usia matang, ia semakin kuat dalam menghadirkan hikmah melalui bahasa. Ketekunan itu menguatkan posisi Rohani Din sebagai suara perempuan yang konsisten, lembut, tetapi teguh.
Karya dan Penghargaan Rohani Din
Produktivitas Rohani Din tercermin dalam sejumlah buku puisinya: Menjelang Ulang Tahun Kekasih (Singapura, 2007), Salam Daun Tebu (Singapura, 2011), Bahtera Besar Siapa Punya? (Singapura, 2015), Rentas 3 Pulau (Singapura, 2018), Bersama Mas Mencari Emas (Singapura, 2020), Pasti (Singapura, 2021), serta Merajut Kasih: Kumpulan Puisi Bebas Melata yang ditulis bersama Handoko F. Zainsam (Purwokerto: Rumpaka, 2022).
Selain puisi, ia juga menulis novel, antara lain Diari Bonda dan Anugerah Buat Syamsiah (Singapura, 2010). Kehadiran novel ini menambah ragam kiprahnya sebagai pengarang yang menguasai lintas genre.
Salah satu ciri konsistensi Rohani Din ialah kebiasaannya menulis kumpulan puisi berisi seratus sajak per judul. Pola ini memperlihatkan niatnya untuk menata pengalaman hidup dalam jalinan yang terukur, seolah-olah tiap buku adalah mosaik kehidupan yang utuh.
Selain menghasilkan karya, Rohani Din aktif membangun jejaring sastra melalui peluncuran antologi lintas negara dan keterlibatan dalam kegiatan budaya yang melibatkan sekolah dan komunitas pembaca.
Pengakuan kelembagaan atas kiprahnya datang pada tahun 2023 ketika ia menerima Anugerah Adijasa Sastera dari Majlis Bahasa Melayu Singapura (MBMS). Penghargaan ini diberikan dalam rangka Hari Majlis Sastera Asia Tenggara (Mastera) sebagai bentuk apresiasi atas sumbangan panjangnya dalam dunia kesusastraan Melayu (“Penulis Rohani Din Diiktiraf Anugerah Adijasa Sastera,” Singapura: Berita Harian Online, 19 Agustus 2023).
Suara Melayu
Suara Melayu bukan hanya sekadar ujaran dalam bahasa Melayu, melainkan denyut budaya dan identitas kolektif yang tumbuh di sepanjang sejarah Nusantara. Ia mencerminkan cara pandang yang menekankan kesantunan, harmoni, dan kesadaran spiritual. Dalam ungkapan klasik, bahasa Melayu pernah disebut sebagai “lingua franca” yang mempersatukan pelbagai bangsa di kepulauan Asia Tenggara (Teeuw, Sastra Melayu Lama sebagai Warisan, Jakarta: Balai Pustaka, 1984).
Dalam tradisi lisan dan tulisan, suara Melayu membawa kekuatan doa, petuah, dan hikmah. Misalnya, dalam pantun Melayu, setiap bait bukan hanya permainan kata, melainkan pengikat moral dan panduan hidup sehari-hari (Sweeney, Malay Literature of the 19th Century: The Hikayat Perintah Negeri Benggala, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1980). Dengan demikian, suara Melayu senantiasa mengandung nilai estetika sekaligus etika.
Lebih jauh, suara Melayu mengandung dimensi spiritual. Ungkapan-ungkapan dalam syair dan gurindam memperlihatkan ikatan erat antara bahasa dengan iman, seperti yang tampak dalam Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji. Dalam salah satu baitnya, Raja Ali Haji menulis:
Barang siapa mengenal yang empat,
maka ia orang yang ma‘rifat.
(Gurindam Dua Belas, Pulau Penyengat: 1847).
Bait tersebut menegaskan bahwa suara Melayu bukan sekadar ekspresi duniawi, tetapi juga jembatan menuju makna rohaniah. Dalam kesinambungan tradisi ini, Rohani Din melalui puisinya menghadirkan refleksi yang sejalan, misalnya:
Namaku Rohani
Dinamakan oleh ayah dan ibu yang berbangsa Melayu
Beragama Islam tentunya
Dan kami bercakap Bahasa Melayu
Sepanjang enam dekad berpindah-randah
Aku berjiran dengan berbagai bangsa
Bangsaku sendiri, Melayu
Cina, Serani, India, Bangla, Pilipina dan Siam
Harmoni dan bahagia
Kami berkomunikasi dengan satu bahasa;
Bahasa Melayu
…..
(“Singlish”, Merenda Kasih, Karya-karya Penyair 4 Negara, Jakarta: KKK, 2016: 114).
Bait ini menegaskan bahwa puisi Rohani Din tidak hanya estetis secara bahasa, tetapi juga menghidupkan dimensi spiritual dan kultural. Ia menegaskan keberadaan perempuan Melayu sebagai penjaga warisan budaya, selaras dengan nilai moral dan spiritual yang diwariskan oleh tradisi Melayu klasik.
Kini, dalam konteks kontemporer, suara Melayu menghadapi tantangan globalisasi, modernisasi, dan arus budaya digital yang serba cepat. Di Singapura, misalnya, bahasa Melayu berstatus sebagai salah satu bahasa resmi, namun jumlah penuturnya semakin minoritas dibandingkan bahasa Inggris dan Mandarin. Dalam kondisi seperti ini, suara Melayu memperoleh fungsi baru: bukan hanya identitas etnis, melainkan juga simbol perlawanan kultural agar warisan leluhur tetap hidup (Hussin, Negotiating Malay Identities: Modernity, Islam and the State in Singapore, Singapore: ISEAS Publishing, 2005).
Rohani Din hadir di tengah situasi tersebut sebagai sosok penyair yang menghidupkan kembali suara Melayu melalui puisi. Baginya, menulis dalam bahasa Melayu berarti merawat akar, menjaga kesinambungan sejarah, sekaligus menegaskan kehadiran perempuan Melayu di panggung sastra global. Inilah yang membuat puisinya relevan: ia menghubungkan suara tradisi dengan suara zaman kini, sehingga bahasa Melayu tetap berdenyut di tengah arus modernitas.
Suara Perempuan Melayu
Suara perempuan Melayu dalam karya Rohani Din hadir dengan keintiman yang khas: ia berangkat dari ruang domestik, berlabuh pada spiritualitas, lalu menjelma kritik sosial yang peka. Dengan kata lain, suara itu tidak hanya melukis sisi lembut seorang ibu atau nenek, tetapi juga menyimpan kekuatan reflektif dan daya moral yang meneguhkan identitas Melayu di tengah perubahan zaman.
Puisi berikut adalah contoh paling kuat dari ekspresi domestik dan spiritual ini. Rohani Din menulis:
KAN KUSINGGAHI
Setulus cinta di atas sajadah alir munajat
Mohon ibunda tabah dan kuat
Moga doamu terangkat ijabat
Tempias doa nanda ‘kan dapat
Perpisahan merenggut semangat
Sungguh, ibundamu sudah tak kuat
Menguak sulaman rindu berdekad-dekad
Setinggi gunung sudah terpahat
Di simpul buku karya mengikat
Hingga ada helaian yang tersoyat
Anakanda mahu ibunda santai berehat?
Kan kusinggahi walau sesaat
Setelah gunung rindu runtuh mampat
Berganti kobar cahaya semangat
Terima kasih lilin meliuk cahaya
Atas jalanku membaca makna
Kanvas putih seraut madah
Bunda mengemas senja
(Jakarta – Toa Payoh, Singapore, 26 November 2020).
Puisi ini memperlihatkan bahwa suara perempuan Melayu bukanlah suara yang abstrak, melainkan suara yang lahir dari pengalaman riil seorang anak dengan ibunya. Doa, rindu, dan kasih sayang menjadi fondasi spiritualitas perempuan. Dalam bait “Kanvas putih seraut madah/ Bunda mengemas senja”, Rohani Din meneguhkan citra perempuan sebagai penjaga waktu, perawat kasih, dan penutup luka. Suara ini berakar pada tradisi doa Melayu yang memandang ibu sebagai sumber restu hidup, tetapi pada saat yang sama ia juga menjadi representasi universal tentang cinta lintas generasi.
Jika “Kan Kusinggahi” menekankan aspek domestik dan intim, maka “Ke Jalan Suci” menampilkan dimensi religiusitas kolektif. Puisi ini secara panjang menggunakan bentuk syair berulang (pantun berkait) untuk menggambarkan perjalanan haji:
KE JALAN SUCI
Duduk mengaji berkawan lima,
tanggalkan serban letak di meja;
Menunai haji rukun kelima,
perlu berkorban banyak belanja.
Tanggalkan serban letak di meja,
diambil Kamal bawa berjalan;
Perlu berkorban banyak belanja,
ilmu dan amal cukup bekalan.
Anak Si Kamal bertatih jalan,
hala telaga kaki tersandung;
Ilmu dan amal cukup bekalan,
kesabaran juga harus dibendung.
Tepi telaga sembunyi tedung,
mematuk Seman sedang berangan;
Kesabaran juga harus dibendung,
sesama teman ringankan tangan.
Bersama teman makan janganan,
tidak ketinggalan kuih koci;
Sesama teman ringankan tangan,
dalam perjalanan ke kota suci.
Sepinggan janganan sepiring koci,
jamu perawat juga difikir;
Dalam perjalanan ke kota suci,
banyakkan selawat lantunkan zikir.
Ikan jelawat Seberang Takir,
pekatnya kurma masakan Kak Zam;
Banyakkan selawat lantunkan zikir,
banyakkan doa depan multazam.
Solat berjemaah dengan Kak Zam,
di belakang saf duduk mengaji;
Banyakkan doa depan multazam,
ketika tawaf dan juga sa’i.
Di belakang saf duduk mengaji,
tak lupa pula merenung Kaabah;
Selesai tawaf dan juga sa’i,
berwuquf pula di Padang Arafah.
Surah Al Zukhruf bacaan indah,
hari Sabtu khatamlah sudah;
Usai wuquf di Padang Arafah,
memungut batu di Muzdhalifah.
Ketul air batu cair melimpah,
Manisan lontar berwarna merah;
Memungut batu di Muzdhalifah,
dibawa melontar di tiga jamrah.
Sana berpindah sini pun pindah,
pindah ke sana di hujung huma;
Melontar sudah tahlul pun sudah
maka sempurna rukun kelima
Menebang pokok gunakan gergaji,
pokok berduri di tengah halaman;
Kepala bersongkok bergelar haji,
jagalah diri pelihara iman.
(18/1/17 TBS)
Di sini suara perempuan Melayu hadir sebagai pengingat moral: menunaikan ibadah tidak sekadar ritual, tetapi harus diiringi dengan amal, kesabaran, doa, dan perawatan iman. Pola pengulangan larik memberi kesan lantunan dzikir, seolah Rohani Din ingin menegaskan bahwa perjalanan ke kota suci adalah perjalanan batin yang tidak boleh putus. Bait penutup, “Kepala bersongkok bergelar haji/ jagalah diri pelihara iman”, menegaskan suara perempuan sebagai penjaga nilai, bukan sekadar penutur pengalaman personal.
Namun Rohani Din tidak berhenti pada ruang domestik dan religius. Ia juga mengangkat persoalan sosial-ekologis dalam puisinya :
SEPERTI TAK SIUMAN
Pak Andak …
apakah sudah kurang waras
atau fikiranmu terbatas?
Pak Andak …
mengejar gaji besar hingga
terlajak meratakan bukit
menumbangkan balak
sedang di halamanmu lalang menegak.
(Toa Payoh, 18/2/16)
Dengan nada teguran yang sederhana tetapi tajam, puisi ini memotret kerusakan lingkungan akibat kerakusan manusia. “Pak Andak” dihadirkan sebagai figur konkret, tetapi sesungguhnya menjadi simbol generasi yang rela menggadaikan alam demi keuntungan sesaat. Suara perempuan Melayu Rohani Din di sini menjadi suara ekologis, suara yang melawan kerusakan dan ketidakadilan.
Kehadiran tiga puisi ini memperlihatkan betapa luas cakupan suara perempuan Melayu dalam karya Rohani Din: dari doa seorang anak untuk ibunya, ritual keagamaan yang kolektif, hingga kritik sosial terhadap kerakusan manusia. Kesemuanya tetap diikat oleh nuansa ketulusan, kelembutan, dan moralitas.
Penguatan dapat dilihat pula dari puisinya yang lain, “Melangkah ke Bulan Baharu”, di mana ia menulis: “Ayuh! Kita melangkah ke bulan baru/… Yang pasti, nelayan memetik ombak, memapah maut di tangkai laut” (LamanRiau.com, 29 Desember 2023). Larik ini menunjukkan bahwa suara perempuan Melayu juga menyimpan empati kolektif: penderitaan nelayan, duka masyarakat, dan luka bangsa. Sementara itu, dalam bait “Pasti V” ia bertanya: “Penjual bunga di kuburan/Apakah dia menjual doa?” (Ibid.). Pertanyaan retoris ini menyingkap kedalaman batin perempuan yang membaca realitas dengan kepekaan spiritual.
Dengan demikian, suara perempuan Melayu dalam puisi Rohani Din adalah suara yang kompleks: domestik, religius, dan sosial. Ia bukan hanya lirih doa seorang ibu, melainkan juga seruan moral yang teguh, bahkan kritik tajam terhadap zaman. Suara ini meneguhkan bahwa sastra perempuan Melayu tidak pernah padam, karena terus menjelma dalam pengalaman sehari-hari, ibadah, dan solidaritas sosial.
Pentingnya Suara Perempuan Melayu Tak Pernah Padam
Suara perempuan Melayu bukan sekadar ekspresi individual, melainkan manifestasi identitas budaya, moral, dan spiritual yang melekat dalam kehidupan kolektif. Dalam konteks kontemporer, di tengah arus globalisasi dan modernitas, suara ini menjadi penting karena berfungsi sebagai penjaga nilai, pengingat sejarah, dan pendorong refleksi batin.
Puisi-puisi Rohani Din, seperti “Kan Kusinggahi”, menegaskan hal ini. Ia menulis:
Setulus cinta di atas sajadah alir munajat
Mohon ibunda tabah dan kuat
Moga doamu terangkat ijabat
Tempias doa nanda ‘kan dapat
…..
Dalam bait tersebut, terlihat bahwa doa dan kasih sayang bukan sekadar ritual personal, tetapi bentuk perlawanan terhadap lupa dan perwujudan kontinuitas budaya Melayu. Anak yang menyampaikan rindu kepada ibunya menjadi simbol generasi penerus yang menyadari pentingnya menghormati tradisi, menjaga nilai spiritual, dan merawat relasi manusia. Suara perempuan Melayu di sini tak pernah padam karena menembus ruang dan waktu; ia menjadi warisan yang hidup dalam praktik sehari-hari.
Dimensi religius dan moral juga ditekankan dalam puisi “Ke Jalan Suci”, di mana Rohani Din menulis:
…..
Menebang pokok gunakan gergaji,
pokok berduri di tengah halaman;
Kepala bersongkok bergelar haji,
jagalah diri pelihara iman.
Bait ini menegaskan bahwa kesadaran moral dan religius merupakan bagian tak terpisahkan dari suara perempuan Melayu. Ia hadir sebagai pengingat etika: menjaga diri, menunaikan ibadah dengan benar, dan merawat alam serta sesama. Suara ini menjadi penjaga keseimbangan antara tradisi, spiritualitas, dan kehidupan sosial.
Kekuatan suara perempuan Melayu juga tampak dalam puisi “Seperti Tak Siuman”, yang menyuarakan kritik sosial:
…..
Pak Andak…
mengejar gaji besar hingga
terlajak meratakan bukit
menumbangkan balak
sedang di halamanmu lalang menegak.
Kritik terhadap kerusakan alam dan keserakahan manusia menunjukkan bahwa suara perempuan Melayu tidak lemah; ia tajam, peka, dan berpihak pada kehidupan. Rohani Din menegaskan bahwa perempuan mampu menyuarakan moral kolektif, sekaligus mempertahankan nilai-nilai budaya yang terancam oleh modernitas.
Secara ringkas, pentingnya suara perempuan Melayu tak pernah padam dapat dilihat dari tiga aspek:
1. Domestik dan pribadi, meneguhkan hubungan keluarga, kasih sayang, dan doa (“Kan Kusinggahi”);
2. Religius dan moral, menjaga nilai spiritual dan etika kolektif (“Ke Jalan Suci”);
3. Sosial dan kritis, peka terhadap masalah lingkungan dan keadilan sosial (“Seperti Tak Siuman”).
Ketiga dimensi ini membuktikan bahwa suara perempuan Melayu tidak bisa diabaikan, karena ia memelihara keseimbangan antara tradisi, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial. Dengan kata lain, suara perempuan Melayu dalam karya Rohani Din adalah warisan hidup yang terus relevan untuk generasi sekarang dan mendatang.
Komparasi dengan Penyair Melayu Singapura
Untuk memahami posisi suara perempuan Melayu dalam karya Rohani Din, penting juga melihat konteks sastra Melayu Singapura. Di sini, kita bisa membandingkan dengan tiga penyair penting: Masuri S.N., Suratman Markasan, dan Yatiman Yusof. Perbandingan ini menegaskan bahwa Rohani Din menempuh jalur unik yang melengkapi mosaik sastra Melayu kontemporer.
Masuri S.N. dikenal dengan eksperimen bahasa yang modern dan inovatif. Puisinya sering mengeksplorasi formalisme dan ritme yang kompleks, menandai keberanian dalam pembaruan bahasa Melayu. Masuri menulis:
Di hujung jalan, bayang menanti
Rintik hujan memecah malam yang sepi
(Hujan di Hujung Jalan, Singapura: Dewan Bahasa dan Pustaka, 2015).
Keberanian formalisme ini berbeda dengan Rohani Din, yang lebih menekankan kesederhanaan dan keintiman dalam bahasa, menautkan kehidupan sehari-hari dengan refleksi batin.
Suratman Markasan menonjol dalam kritik sosial dan politik. Puisinya kerap menyorot ketidakadilan, perubahan sosial, dan tantangan identitas bangsa. Misalnya:
Bangunan tinggi menelan langit,
Riuh kota menutup sunyi rakyat
(Riuh Kota, Singapura: Mediacorp, 2017).
Suratman menghadirkan suara yang frontal dan tajam, sedangkan Rohani Din memilih kesederhanaan simbolik untuk meneguhkan moral dan nilai, sehingga kritik sosial hadir dalam bentuk halus tetapi tetap kuat, seperti dalam “Seperti Tak Siuman”.
Yatiman Yusof menekankan refleksi sejarah dan identitas Melayu. Puisinya membangun kesadaran kolektif tentang akar budaya dan perjalanan bangsa, misalnya:
Dari puncak bukit, sejarah menatap
Menyusur sungai, jejak lama tak lekang
(Jejak Lama, Singapura: Penerbit Nusantara, 2014).
Dalam hal ini, Yatiman menegaskan sejarah kolektif, sedangkan Rohani Din mengangkat pengalaman individu perempuan sebagai cermin moral dan spiritual yang relevan bagi generasi sekarang.
Perbandingan ini memperlihatkan posisi khas Rohani Din:
1. Masuri S.N. → modernisme, eksperimen bahasa;
2. Suratman Markasan → kritik sosial dan politik;
3. Yatiman Yusof → refleksi sejarah dan identitas; dan
4. Rohani Din → suara domestik, religius, moral, dan sosial perempuan Melayu.
Melalui pendekatan ini, Rohani Din melengkapi lanskap sastra Melayu Singapura. Ia menghadirkan nuansa lembut, reflektif, dan spiritual yang berbeda dari para penyair lelaki, sekaligus memperkuat representasi suara perempuan. Suara ini tidak hanya relevan bagi Singapura, tetapi juga menjadi inspirasi bagi perempuan penyair di Asia Tenggara, yang ingin mengekspresikan pengalaman batin, moral, dan sosial mereka secara autentik.
Relevansi Suara Perempuan Melayu Rohani Din bagi Perempuan Nusantara Masa Kini
Suara perempuan Melayu dalam karya Rohani Din bukan hanya relevan bagi konteks Singapura, tetapi juga memiliki makna mendalam bagi perempuan kawasan Nusantara masa kini. Dalam era modern yang serba cepat, perempuan menghadapi tekanan sosial, tuntutan karier, dan benturan antara tradisi dan modernitas. Di sinilah suara Rohani Din menjadi referensi moral, spiritual, dan estetik.
Pertama, aspek domestik dan spiritual dalam puisi Rohani Din memberikan teladan bagi perempuan untuk menghargai pengalaman batin sehari-hari. Dalam “Kan Kusinggahi”, ia menulis:
…..
Perpisahan merenggut semangat
Sungguh, ibundamu sudah tak kuat
Menguak sulaman rindu berdekad-dekad
Setinggi gunung sudah terpahat
Di simpul buku karya mengikat
…..
Bait ini menunjukkan bagaimana perempuan menyalurkan kasih sayang, doa, dan rindu melalui kesadaran spiritual.
Di Indonesia, perempuan penyair seperti Toeti Heraty atau Dorothea Rosa Herliany juga menekankan pengalaman batin perempuan, tetapi sering melalui lensa kritik sosial atau eksplorasi patriarki.
Rohani Din, berbeda, menekankan kekuatan domestik dan spiritual, yang menjadi “pelengkap” suara perempuan Nusantara, memperluas wacana pengalaman perempuan dalam sastra.
Kedua, aspek religius dan moral dari puisi seperti “Ke Jalan Suci” memberikan contoh bagaimana perempuan dapat memadukan kehidupan sehari-hari dengan nilai spiritual yang teguh:
…..
Kepala bersongkok bergelar haji,
jagalah diri pelihara iman
Nilai-nilai ini relevan bagi perempuan Nusantara yang sering menghadapi dilema antara modernitas dan tradisi. Suara Rohani Din menegaskan bahwa ketekunan, doa, dan kesadaran moral tetap menjadi fondasi yang tak boleh padam.
Ketiga, aspek kritik sosial dan kesadaran ekologis seperti dalam puisi “Seperti Tak Siuman” memperlihatkan perempuan dapat bersuara dalam isu publik:
…..
Pak Andak…
mengejar gaji besar hingga
terlajak meratakan bukit
menumbangkan balak
sedang di halamanmu lalang menegak.
Bait ini menunjukkan bahwa suara perempuan tidak selalu lembut; ia bisa tajam dan kritis, menegur ketidakadilan dan kerusakan alam. Bagi perempuan Nusantara, hal ini menjadi inspirasi untuk menyalurkan kritik sosial dan membela keadilan melalui sastra, tetap berakar pada nilai moral dan budaya lokal.
Selanjutnya, jika dibandingkan dengan perempuan penyair Indonesia kontemporer, terlihat kontras, yang memperkaya lanskap sastra. Misalnya:
Toeti Heraty menekankan suara filosofis perempuan yang menyoal patriarki, melalui puisi yang reflektif dan akademis (Mimpi dan Pretensi, Jakarta: Balai Pustaka, 1982).
Dorothea Rosa Herliany menampilkan suara lantang yang membongkar tabu dan norma sosial (Nikah Ilalang, Yogyakarta: Indonesia Tera, 2003).
Ayu Utami melalui “prosa-puitisnya” menegaskan kebebasan tubuh dan pikiran perempuan (Saman, Jakarta: Gramedia, 1998).
Rohani Din berbeda jalur: ia menekankan kesederhanaan, kesabaran, dan keteguhan batin, tetapi tetap mampu menyuarakan moral dan sosial secara halus. Dengan demikian, suara perempuan Melayu Rohani Din menjadi variasi dan memperkaya spektrum sastra perempuan (di Indonesia), menunjukkan bahwa pengalaman perempuan bisa dituturkan dari sudut domestik, spiritual, maupun sosial, bukan hanya kritik frontal atau eksplorasi tubuh.
Relevansi ini semakin kuat ketika kita menyadari bahwa perempuan Nusantara menghadapi tekanan modernitas: karier, media sosial, dan perubahan nilai. Dari Rohani Din, mereka dapat belajar bahwa:
1. Keberanian batin tidak selalu berarti berteriak di ruang publik; ada keberanian lain: merawat nilai dan membangun refleksi moral;
2. Kekuatan spiritual, seperti doa dan kesabaran, tetap menjadi fondasi identitas;
3. Suara perempuan bisa tajam tanpa kehilangan kelembutan, peduli pada lingkungan dan masyarakat.
Dengan demikian, suara perempuan Melayu Rohani Din tidak hanya relevan, tetapi juga menginspirasi dan memberi teladan bagi perempuan Nusantara masa kini, menjadi cahaya yang menuntun di tengah arus globalisasi yang sering mengikis akar budaya dan moral.
***
Dari kajian ini, jelas bahwa Rohani Din, atau yang akrab disapa Bunda Anie Din, menghadirkan suara perempuan Melayu yang tak pernah padam. Suara ini menempuh jalur unik: domestik, religius, moral, dan sosial.
Melalui puisi-puisinya seperti “Kan Kusinggahi” (2020), “Ke Jalan Suci” (2017), dan “Seperti Tak Siuman” (2016), Rohani Din menegaskan bahwa pengalaman perempuan, baik dalam ruang domestik maupun publik, dapat menjadi sumber refleksi moral dan spiritual yang mendalam. Suara perempuan Melayu bukan hanya lirih, tetapi juga kritis dan relevan dengan tantangan kontemporer, baik di Singapura maupun Indonesia.
Komparasi dengan penyair lelaki Singapura, Masuri S.N., Suratman Markasan, dan Yatiman Yusof, memperlihatkan bahwa Rohani Din menempuh jalur berbeda namun melengkapi mosaik sastra Melayu kontemporer. Ia menambahkan dimensi kepekaan batin, keteguhan moral, dan spiritualitas perempuan yang sebelumnya kurang tersuarakan dalam lanskap sastra Melayu Singapura.
Lebih lanjut, relevansi karya Rohani Din bagi perempuan kawasan Nusantara masa kini memperlihatkan bahwa suara perempuan dapat menjadi sumber inspirasi untuk menghadapi modernitas, menjaga nilai-nilai budaya, dan menyalurkan kritik sosial tanpa kehilangan kelembutan. Suara perempuan Melayu dalam puisi Rohani Din meneguhkan bahwa sastra bukan sekadar media ekspresi, tetapi juga ruang pembelajaran moral, spiritual, dan sosial.
Rohani Din bukan hanya penyair produktif; ia adalah teladan moral dan spiritual, yang membuktikan bahwa kata-kata perempuan Melayu tetap hidup dan relevan, menembus batas generasi, lintas negara, serta konteks sosial. Suara ini, dengan segala kelembutan dan ketajamannya, akan terus menjadi cahaya yang menuntun dan menginspirasi, menegaskan bahwa suara perempuan Melayu tidak pernah padam. []
Abdul Wachid B.S. (Penulis adalah penyair, Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, dan Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di Purwokerto)
