M. Fuad Nasar (Direktur Jaminan Produk Halal Kementerian Agama)
Sebuah kenangan berharga yang tak terlupakan, Youth Islamic Study Club (YISC) Al-Azhar Jakarta menggelar Seminar Pemikiran dan Perjuangan Mr. Sjafruddin Prawiranegara tanggal 9 – 10 September 1995 di Gedung LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Saya salah satu anggota YISC Al-Azhar yang terlibat dalam kepanitiaan seminar.
“Kita harus selalu berpikir rasional walaupun di tengah situasi yang emosional. Moral, akhlaqul karimah, adalah kunci dalam mengatasi perbedaan pendapat. Lawan pendapat adalah kawan berpikir,” imbau Dr. H. Anwar Harjono, SH., salah seorang pembicara dalam seminar mengenang nilai-nilai keteladanan Mr. Sjafruddin Prawiranegara.
Lebih jauh diingatkan kepada pemerintah dan masyarakat di tengah iklim politik yang kurang demokratis saat itu, “Harus dihindari penyelesaian masalah dengan cara kekerasan, karena kekerasan tidak menyelesaikan masalah, tetapi akan membuahkan kekejaman, dan kekejaman akan beranak dendam dan seterusnya.“
Pesan menyejukkan di atas disampaikan tiga tahun sebelum terjadinya kerusuhan Mei 1998 yang mewarnai prolog kejatuhan Orde Baru. Anwar Harjono mengutip pesan bijak Bung Hatta, “Walaupun hati panas, kepala harus tetap dingin.” Sederhana bahasanya, tetapi sangat mendalam maknanya.
Dalam majalah Media Dakwah No 254, Juli 1995 beliau menulis, “Kita dapat memulai timbulnya gejolak sosial kapan saja, tetapi kapan dapat mengakhirinya tak seorang pun dapat memperkirakannya. Kalau kekuatan beradu dengan kekuatan akan membuahkan kekerasan. Tetapi kekerasan tidak menyelesaikan persoalan, karena kekerasan akan membuahkan kekejaman. Dan kekejaman akan beranak dendam dan seterusnya. Setiap yang berlebihan akan mengakibatkan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan.”
Ia menyarankan, mereka yang sedang memegang tanggungjawab kekuasaan maupun yang berada di luar kekuasaan hendaknya tidak berdiri secara berhadap-hadapan, secara konfrontatif. Setiap konfrontasi, apalagi fisik, akan menjurus kepada gejolak sosial yang tidak menguntungkan siapa pun.
Setelah peristiwa reformasi diwarnai politik huru-hara yang meninggalkan sejarah kelam luka bangsa, saya membaca tulisan Anwar Harjono di Harian Umum Republika tanggal 9 Oktober 1998 dengan judul Menyelesaikan Masalah Tanpa Menimbulkan Fitnah.
“Dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa ini penulis menghimbau seluruh komponen bangsa agar kembali mengedepankan kebersamaan dalam kearifan negarawan sejati. Selanjutnya marilah kita menyerahkan diri kepada Allah Swt guna memohon kekuatan untuk menyelesaikan berbagai krisis yang melanda bangsa ini,” tandasnya.
Anwar Harjono lahir di Krian, Sidoarjo, Jawa Timur, 8 November 1923 dan menempuh pendidikan di Sekolah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta. Ia sempat menimba ilmu sebagai santri di bawah asuhan K.H. Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng, Jombang. Jejak hidupnya merefleksikan perjalanan “mencari keadilan dan persatuan” sebagaimana judul buku peringatan 70 tahun yang disusun oleh Lukman Hakiem.
Sejak usia muda di masa pra-kemerdekaan, ia aktif dalam pergerakan Islam. Ia turut membidani lahirnya Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) tahun 1945 hingga dipercaya memimpin organisasi kader umat tersebut. Di awal kemerdekaan ia tampil menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) tahun 1947 – 1950. KNIP berfungsi sebagai parlemen sementara Republik Indonesia.
Panggilan pengabdian kepada negara membawanya terpilih menjadi anggota DPR-RI dan ditunjuk sebagai Wakil Ketua Fraksi Masyumi di DPR. Pada tahun 1951 ditugaskan sebagai Wakil Sekretaris Delegasi Indonesia ke Kongres Umat Islam Sedunia di Pakistan. Sahabat seperjuangan Mohammad Natsir itu aktif di forum internasional lintas agama sebagai anggota Dewan Direktur World Congress on Religion and Peace di New York Amerika Serikat tahun 1970 hingga 1983.
Anwar Harjono pernah berkarir sebagai pegawai tinggi Kementerian Agama. Ia diangkat sebagai Kepala Biro Politik/Aliran Keagamaan di masa Menteri Agama K.H.A.Wahid Hasjim. Menteri Agama di masa itu merekrut dan mempromosikan kader-kader potensial umat Islam dari berbagai organisasi dan golongan guna memperkuat tugas dan fungsi Kementerian Agama.
Serangkaian peristiwa politik nasional di era pemerintahan Presiden Soekarno hingga pemerintahan Presiden Soeharto atau dikenal sebagai era Orde Baru pernah dialaminya. Sekitar tahun 1967 sampai wafat Anwar Harjono memusatkan perhatian pada perjuangan di bidang dakwah dan pembangunan umat.
Sebagai ulama dan pejuang yang berjiwa negarawan sepanjang hayatnya beliau memperjuangkan keadilan dan kebenaran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di atas rel konstitusi Undang Undang Dasar 1945.
Pemimpin yang merasakan asam garam perjuangan itu meneladankan sikap bijak dalam berbicara, menulis dan mengeluarkan pendapat. Semakin besar ketokohan seseorang pemimpin, semakin berat tanggungjawabnya terhadap keselamatan rakyat. Orang pintar tidak kurang, tapi yang arif bijaksana, tokoh yang hidup sederhana dan berintegritas sangat dibutuhkan.
Anwar Harjono berpulang ke rahmatullah di Jakarta 6 Februari 1999. Presiden B.J. Habibie dan sejumlah pejabat pemerintah saat itu melayat di kediaman almarhum di Jalan Marabahan, Jakarta Pusat. Usai pemakaman jenazah yang berlangsung dengan khidmat, sesuai dengan tuntunan syariat Islam di Blok Khusus TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, saya berdiri sejenak di sisi pusara, memanjatkan doa agar seluruh amal ibadah, perjuangan, dan pengabdian almarhum Pak Anwar Harjono diterima di sisi Allah Swt, serta dibalas dengan surga-Nya yang kekal.
Pesan perjuangan dan sikap kenegarawanan (statesmanship) yang diwariskan Anwar Harjono relevan untuk digaungkan di tengah dinamika sosial, ekonomi, politik, dan keamanan nasional saat ini.
Semoga Allah Swt melindungi persatuan dan kesatuan bangsa kita, menanamkan kembali rasa aman dan damai di hati seluruh rakyat serta menumbuhkan hikmat kebijaksanaan agar negeri ini segera membaik. Mari kita jaga Indonesia milik kita semua. Wallahu a’lam bis-shawab.
M. Fuad Nasar (Direktur Jaminan Produk Halal Kementerian Agama)
