Di tengah gemuruh ombak Pantai Jomtien, Pattaya, Chonburi, Thailand, pada pertengahan Desember 2025, seorang atlet Indonesia kembali membuktikan bahwa semangat juang tak ternilai harganya dengan dukungan materi. Aero Sutan Aswar, atau yang akrab disapa Aero Aswar, berhasil merebut medali emas di nomor Endurance Open cabang jetski SEA Games 2025.
Prestasi ini semakin istimewa karena diraih dalam kondisi penuh keterbatasan: tanpa dukungan dana pelatnas dari pemerintah, dan menggunakan jetski sewaan yang dibayar secara mandiri. Aero finis sebagai yang terbaik dengan mengumpulkan 1.132 poin, unggul tipis dua poin atas pembalap tuan rumah Tapatarawat Joesonnusont yang meraih perak dengan 1.130 poin.
Posisi ketiga ditempati Manglicmot Sabino Czariv dari Filipina dengan 1.096 poin. Nomor Endurance Open ini memang menjadi ujian berat, mengadu ketahanan fisik, ketajaman teknik balapan di air terbuka, serta kemampuan mengelola strategi di tengah kondisi laut yang tak terduga.
Aero, dengan pengalamannya yang matang, mampu memimpin klasemen dan mempertahankan tradisi emas Indonesia di cabang jetski SEA Games. Namun, di balik kilau medali emas itu, ada cerita perjuangan yang menyentuh.
Aero dan tim jetski Indonesia harus berlaga tanpa jetski balap pribadi yang biasa mereka tunggangi di kompetisi internasional. Mereka menyewa peralatan di lokasi lomba, sebuah keputusan yang terpaksa diambil karena ketiadaan dukungan logistik dan finansial dari pihak berwenang.
Saat tiba kembali di Tanah Air, Aero dengan nada santai tapi sarat makna mengungkapkan, “Kenapa bisa mandiri? Tanya yang tidak mau ngasih duitlah. Untungnya punya duit dan (dapat medali) emas. Dikalungin (sebagai kontingen) sih masuk, cuman enggak ada biaya. Kebetulan saja punya duit.”
Kata-kata itu mencerminkan realitas pahit yang dihadapi banyak atlet cabang olahraga non-populer di Indonesia. Aero juga menambahkan perspektifnya tentang level kompetisi.
“Sebenarnya kalau level dunia, SEA Games, Asian Games, yang dilihat lebih ke pertandingannya. Saya enggak pernah liat level apa. Pokoknya coba yang terbaik di balapan itu. Jadi, dilihatnya lebih ke balapannya, tetapi skalanya beda-beda,” lanjut Aero.
Filosofi sederhana ini yang membuat Aero selalu fokus pada performa, tak peduli skala turnamen. Lahir di Jakarta pada 4 Desember 1994, Aero Sutan Aswar adalah atlet jetski internasional berdarah Minangkabau yang telah menjadi ikon olahraga air Indonesia.
Bakatnya terdeteksi sejak dini. Ia mulai mengendarai jetski pada usia tiga tahun, dan langsung turun di kompetisi pertama saat berumur 4,5 tahun dalam ajang “Baby Race” di Jakarta tahun 1999.
Di lomba perdana itu, Aero langsung membawa pulang trofi juara.Perkembangan karirnya pesat di bawah bimbingan ayahnya sendiri. Pada usia 14 tahun, Aero sudah menapaki jalur profesional, dan di usia 16 tahun, ia tercatat sebagai pembalap jetski termuda di dunia yang berkompetisi di kelas Pro dan Grand Prix.
Prestasi internasional mulai mengalir: emas di Asian Beach Games 2010 di Muscat, Oman; gelar Iron Man Offshore Champion Mark Hahn 300 di Arizona, Amerika Serikat, pada 2011; serta berbagai kejuaraan nasional, Asia, dan AS. Nama Aero semakin harum saat meraih peringkat ketiga dunia di World Finals 2013 di Lake Havasu, Arizona, dengan mencatat rekor start tercepat 56,7 detik melawan 46 pejetski terbaik dunia.
Puncak karier datang pada 12 Oktober 2014, ketika ia menjadi juara dunia di kelas tertinggi Pro Runabout Stock World Finals di venue yang sama. Gelar dunia itu diulang pada 2016 dan 2019 di kelas endurance, meski sempat diwarnai cedera serius yang menguji mentalnya.
Bersama adiknya, Aqsa Sutan Aswar—yang juga atlet jetski berprestasi—mereka mengharumkan Indonesia di Asian Games 2018 dengan medali perak. Duet kakak-beradik ini kembali berjaya di SEA Games, dengan emas untuk Aero di nomor endurance open pada 2023 (Kamboja) dan 2025 (Thailand), serta kontribusi medali dari Aqsa.
Di luar lintasan, Aero tak hanya pembalap, tapi juga penggerak olahraga jetski nasional. Sejak 2023, ia menjabat Vice President Indonesia Jet Sports Boating Association (IJBA), serta Director Athletix Pro Indonesia.
Ia aktif membina talenta muda melalui Jetski Indonesia Academy, berbagi ilmu kepada generasi penerus agar olahraga air ini semakin berkembang di Tanah Air. Dedikasinya selama bertahun-tahun diakui luas. Pada 2024, Aero menerima Penghargaan Insan Olahraga Berprestasi dari Kementerian Pemuda dan Olahraga.
Namanya juga masuk dalam daftar bergengsi seperti Forbes 30 Under 30 Indonesia, Prestige 40 Under 40, dan Tatler Gen.T List—pengakuan atas pengaruhnya tidak hanya di arena balap, tapi juga sebagai inspirator kaum muda. Kisah Aero Aswar di SEA Games 2025 menjadi pengingat bahwa prestasi olahraga Indonesia sering kali lahir dari perjuangan mandiri atlet-atletnya.
Dengan jetski sewaan dan dana pribadi, ia tetap mampu mengibarkan Merah Putih tertinggi. Semoga cerita ini menjadi cambuk bagi pemangku kebijakan untuk memberikan perhatian lebih merata pada semua cabang olahraga, agar talenta seperti Aero tak lagi berjuang sendirian.
