Kabar kepergian Enzo Maresca dari Chelsea memicu perdebatan sengit, dengan banyak yang berpendapat bahwa kepergiannya sebelum Ruben Amorim di Manchester United adalah langkah yang paradoks dan tidak dapat diterima.
Di media sosial, banyak penggemar berkomentar sinis bahwa kepergian Maresca sebelum Amorim adalah lelucon sepak bola modern. Argumen mereka cukup jelas: Maresca baru memimpin Chelsea selama sedikit lebih dari satu musim, dan berhasil membawa pulang dua gelar Liga Konferensi UEFA dan Piala Dunia Antarklub FIFA. Terlepas dari penurunan performa baru-baru ini, Chelsea masih memiliki banyak peluang di empat kompetisi.
Sementara itu, Amorim menghadapi banyak masalah baik dari segi gaya bermain maupun hasil, namun manajemen MU dengan sabar memberinya lebih banyak waktu. Baru-baru ini, “Setan Merah” bermain imbang 1-1 dengan Wolves yang berada di posisi terbawah klasemen di Old Trafford. Kontras ini membuat banyak orang percaya bahwa Chelsea terlalu terburu-buru, bahkan tidak konsisten, dalam penilaian mereka terhadap sang manajer.
Sebaliknya, banyak pendapat yang membela Chelsea. Mereka berpendapat bahwa masalahnya bukan terletak pada gelar juara, tetapi pada perpecahan internal dan kurangnya arah jangka panjang. Hubungan antara Maresca dan kepemimpinan Chelsea telah retak serius, sementara proyek yang ia kejar tidak lagi mendapat konsensus mutlak. Bagi Chelsea, stabilitas struktural dan visi yang jelas mungkin lebih penting daripada trofi jangka pendek.
Maresca baru saja bergabung dengan Chelsea tetapi diberi kepercayaan besar dengan kontrak lima tahun, yang berlaku hingga 2029. Ia terpilih sebagai Manajer Terbaik Liga Premier bulan November, saat Chelsea menunjukkan banyak tanda positif di bawah manajemen baru. Namun, penurunan performa dan ketidakstabilan internal dengan cepat membayangi masa jabatan Maresca.
Menyusul kemenangan melawan Everton pada 13 Desember, Maresca menarik perhatian dengan pernyataan jujurnya, mengakui bahwa 48 jam sebelum pertandingan adalah “periode terburuk sejak saya bergabung dengan klub,” yang menyiratkan bahwa ia tidak menerima dukungan yang diperlukan.
Alasan Chelsea Pecat Enzo Maresca
Keputusan Chelsea untuk mengakhiri kontrak Enzo Maresca diyakini berasal dari aspek profesional dan manajerial.
Menurut jurnalis Ben Jacobs, pada malam tanggal 31 Desember (waktu setempat), manajemen Chelsea bertemu dengan agen Jorge Mendes untuk membahas pemutusan kontrak Maresca. Secara internal, dewan direksi sepakat bahwa pergantian manajer diperlukan.
Salah satu konflik terbesar yang menyebabkan kepergian Maresca melibatkan departemen medis Chelsea. Manajemen klub bersikeras bahwa keputusan mengenai volume latihan, manajemen kebugaran, dan kesejahteraan pemain harus dibuat secara independen, bukan semata-mata bergantung pada pelatih kepala.
Pandangan ini bertentangan langsung dengan gaya kerja pelatih Maresca, yang ingin memiliki kendali lebih besar atas pemilihan dan rotasi pemain.
Dari sudut pandang Maresca, ia merasa tidak menerima perlindungan yang diperlukan dari klub dan percaya bahwa ada terlalu banyak campur tangan dari manajemen puncak, yang menyebabkan masalah serius dalam hubungannya dengan pemilik. Hal ini secara signifikan merusak kepercayaan antara kedua belah pihak.
Setelah hasil imbang 2-2 melawan Bournemouth pada 31 Desember, manajer Maresca tidak muncul di hadapan media. Bertentangan dengan laporan awal yang menyebutkan ia mengalami masalah kesehatan, pelatih asal Italia itu sebenarnya memilih untuk tidak berbicara agar dapat mempertimbangkan masa depannya di Stamford Bridge.
Manajemen Chelsea juga menyatakan keprihatinan setelah mengetahui bahwa manajer Maresca telah melakukan diskusi awal dengan Manchester City. Langkah ini mengejutkan banyak orang di dalam Chelsea, yang percaya bahwa pelatih asal Italia itu telah kehilangan fokus selama tahap penting musim ini.
Dari sudut pandang profesional, performa Chelsea di bawah asuhan Maresca belum memenuhi ekspektasi. “The Blues” kehilangan hingga 20 poin meskipun unggul di Liga Inggris dan Liga Champions, menimbulkan keraguan tentang ketahanan mental tim dan kemampuan untuk mengendalikan permainan.
Selama masa singkatnya di Chelsea, Maresca memenangkan 55 dari 92 pertandingan, membantu klub London Barat itu memenangkan Piala Dunia Antarklub dan melengkapi koleksi gelar kontinental mereka (UEFA Conference League).
Meskipun berpisah dengan manajer Maresca, Chelsea menegaskan mereka tidak akan mengubah model manajemen mereka saat ini. Daftar calon pengganti telah dipersempit dan termasuk Liam Rosenior dari Strasbourg.
