Pasar keuangan global sedang mengalami transformasi besar-besaran. Meningkatnya partisipasi investor ritel dan integrasi cepat teknologi kecerdasan buatan (AI) telah mengubah ritme dan dinamika perdagangan secara fundamental.
Di tengah persiapan bursa utama untuk membuka akses trading 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, EBC Financial Group menggarisbawahi bahwa kita sedang memasuki era baru, pasar yang tidak pernah tidur, penuh peluang namun juga sarat risiko.
Fenomena ini bukan sekadar tren, melainkan pergeseran struktural yang dipicu oleh lonjakan partisipasi investor ritel. Di berbagai negara, kontribusi investor individu terhadap volume perdagangan harian terus meningkat: 20–35% di Amerika Serikat, Inggris, dan Korea Selatan, 40% di India, bahkan mencapai 80% di China. Bursa pun merespons dengan membuka pintu lebih lebar.
Pada November 2024, SEC menyetujui perdagangan malam hari di 24X National Exchange, menandai dimulainya era pasar yang beroperasi tanpa jeda. Tak lama kemudian, New York Stock Exchange mengumumkan rencana perdagangan malam di platform NYSE Arca, memanfaatkan jam-jam dini hari yang sebelumnya sepi. Nasdaq juga tengah bersiap meluncurkan sistem trading 24 jam lima hari seminggu, dengan peluncuran yang direncanakan pada paruh kedua 2026.
Menurut David Barrett, CEO EBC Financial Group (UK), perubahan ini membawa dampak ganda. Di satu sisi, investor mendapatkan fleksibilitas untuk trading sesuai ritme hidup mereka. Di sisi lain, mereka harus siap menghadapi volatilitas yang lebih tinggi dan likuiditas yang lebih tipis di luar jam reguler.
“Meningkatnya partisipasi investor ritel telah mendemokratisasi investasi, tetapi trading 24/7 menghadirkan realitas baru. Pasar yang aktif sepanjang waktu berarti harga bisa bergerak kapan saja, dan itu menuntut kesiapan mental serta strategi yang lebih matang,” jelasnya.
Di balik layar, AI menjadi mesin penggerak utama yang memungkinkan pasar tetap berjalan meski manusia beristirahat. Teknologi ini telah melampaui batas waktu dan geografis, dari algoritma high-frequency trading yang mengeksekusi transaksi dalam hitungan mikrodetik hingga sistem analisis sentimen yang memindai berita global secara real-time.
Platform berbasis AI kini mampu merespons peristiwa ekonomi, politik, dan sosial dalam hitungan detik, menciptakan siklus trading yang sepenuhnya terhubung dan terus berlangsung.
Diperkirakan bahwa pada tahun 2027, AI akan mengelola hampir $6 triliun aset secara global. Barrett menekankan bahwa tantangan utama bukan hanya kecepatan reaksi algoritma, tetapi juga efek domino yang bisa terjadi ketika sistem AI bereaksi secara bersamaan terhadap satu peristiwa.
“Satu berita tengah malam di New York bisa memicu pergerakan harga di Asia dan Eropa sebelum Wall Street buka. Keterhubungan ini menuntut pengawasan yang lebih cerdas dan perlindungan yang lebih adaptif,” jelasnya lagi.
Meski banyak pihak menyambut baik jam perdagangan yang diperpanjang karena dianggap meningkatkan likuiditas dan efisiensi harga, kekhawatiran tetap membayangi. Transparansi yang menurun di dark pool, spread harga yang melebar, serta tekanan psikologis pada investor individu menjadi isu yang tak bisa diabaikan.
Tanpa bel penutup, pasar menjadi arena yang terus bergerak, dan itu bisa menimbulkan kecemasan bagi investor yang belum siap secara emosional maupun teknis.
“Aksesibilitas adalah keuntungan bagi investor, tetapi aksesibilitas tanpa perlindungan bisa berbahaya. AI dapat membantu memantau pergerakan ini, tetapi sisi manusia dalam investasi, kepercayaan, keyakinan, dan ketahanan harus tetap dijaga,” ujarnya.
Dalam dunia yang semakin didominasi oleh mesin, peran manusia tetap krusial dalam menjaga keseimbangan dan membuat keputusan yang bijak.
Perpaduan antara trading 24/7 dan AI bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan titik balik dalam sejarah keuangan global. Pasar yang terus berjalan menjanjikan partisipasi yang lebih luas dan integrasi informasi yang lebih cepat.
Namun, jika tidak diimbangi dengan perlindungan sistemik dan edukasi yang memadai, risiko seperti flash crash, likuiditas yang tidak merata, dan guncangan sistemik bisa menjadi ancaman nyata.
“Pertanyaannya bukan apakah pasar 24/7 dan AI akan menentukan era berikutnya itu sudah pasti. Pertanyaannya adalah apakah institusi, regulator, dan investor siap menghadapi konsekuensinya,” tutup Barrett.
