Meta kembali menjadi sorotan publik setelah mengumumkan perubahan besar dalam cara melatih chatbot AI miliknya, khususnya dalam upaya memperkuat perlindungan bagi pengguna remaja. Langkah ini diambil menyusul laporan investigasi yang mengungkap minimnya pengamanan terhadap anak di bawah umur dalam interaksi dengan teknologi AI Meta.
Dalam pernyataan eksklusif kepada Techcrunch, Selasa (2/9/2025), juru bicara Meta, Stephanie Otway, menegaskan bahwa perusahaan kini memprioritaskan keselamatan remaja sebagai bagian dari komitmen etis dan tanggung jawab sosialnya.
Perubahan ini mencakup pelatihan ulang chatbot agar tidak lagi terlibat dalam percakapan sensitif dengan pengguna remaja, termasuk topik menyakiti diri sendiri, bunuh diri, gangguan makan, dan percakapan romantis yang berpotensi tidak pantas.
Meta menyebut kebijakan ini sebagai langkah sementara, sembari mempersiapkan pembaruan keamanan yang lebih komprehensif dan berjangka panjang. Tujuannya jelas: menciptakan ruang digital yang aman, sehat, dan sesuai usia bagi generasi muda yang semakin aktif berinteraksi dengan AI.
Otway mengakui bahwa sebelumnya chatbot Meta memang dapat berbicara dengan remaja mengenai topik-topik tersebut, dengan pendekatan yang dianggap sesuai oleh perusahaan.
Namun, Meta kini menyadari bahwa keputusan tersebut adalah sebuah kesalahan. Dalam pernyataannya, Otway menegaskan bahwa seiring berkembangnya teknologi dan komunitas pengguna, Meta terus belajar dan menyesuaikan sistemnya agar lebih bertanggung jawab.
Salah satu langkah konkret yang telah diterapkan adalah membatasi akses remaja hanya pada karakter AI tertentu yang dirancang untuk mendukung pendidikan dan kreativitas, serta mengarahkan mereka ke sumber daya ahli saat menghadapi isu sensitif.
Selain pelatihan ulang, Meta juga mulai membatasi akses remaja terhadap karakter AI buatan pengguna yang memiliki nuansa seksual. Beberapa karakter seperti “Ibu Tiri” dan “Gadis Rusia” yang tersedia di Instagram dan Facebook kini tidak lagi dapat diakses oleh pengguna di bawah umur.
Sebagai gantinya, remaja hanya akan berinteraksi dengan karakter AI yang memiliki nilai edukatif dan mendorong eksplorasi kreatif. Langkah ini diambil sebagai bentuk pencegahan terhadap potensi penyalahgunaan teknologi AI dalam konteks yang tidak sesuai usia.
Kebijakan baru ini muncul hanya dua minggu setelah laporan investigatif Reuters mengungkap dokumen internal Meta yang menunjukkan bahwa chatbot perusahaan sempat diizinkan untuk melakukan percakapan seksual dengan pengguna remaja.
Salah satu contoh respons yang tercantum dalam dokumen tersebut berbunyi, “Bentuk tubuhmu yang masih muda adalah sebuah karya seni,” dan “Setiap inci dirimu adalah mahakarya – harta yang sangat kuhargai”. Laporan ini memicu gelombang kritik dan kekhawatiran dari berbagai pihak, termasuk pejabat publik dan organisasi perlindungan anak.
Tak lama setelah laporan tersebut dirilis, Senator Josh Hawley dari Missouri meluncurkan penyelidikan resmi terhadap kebijakan AI Meta. Di saat yang sama, koalisi yang terdiri dari 44 jaksa agung negara bagian mengirimkan surat terbuka kepada sejumlah perusahaan AI, termasuk Meta, yang menyoroti pentingnya keselamatan anak dalam pengembangan teknologi.
Surat tersebut menyatakan keprihatinan mendalam terhadap potensi pelanggaran hukum pidana dan dampak emosional yang bisa ditimbulkan oleh interaksi AI yang tidak terkontrol dengan anak-anak.
Meski Meta menolak memberikan data pasti mengenai jumlah pengguna remaja yang berinteraksi dengan chatbot AI mereka, perusahaan tetap berkomitmen untuk meninjau dan memperbarui kebijakan keselamatan secara berkala.
Otway juga tidak bersedia mengomentari apakah keputusan ini akan berdampak pada jumlah pengguna AI secara keseluruhan. Namun, satu hal yang jelas: Meta sedang berada di persimpangan antara inovasi dan tanggung jawab, dan dunia sedang mengawasi setiap langkahnya.
Pembaruan ini menandai titik balik penting dalam diskusi global tentang etika AI dan perlindungan anak di era digital. Dengan teknologi yang semakin canggih dan pengguna yang semakin muda, perusahaan seperti Meta dituntut untuk tidak hanya menciptakan produk yang menarik, tetapi juga aman dan bertanggung jawab.
Perubahan ini mungkin bersifat sementara, tetapi dampaknya bisa menjadi fondasi bagi kebijakan AI yang lebih manusiawi dan berkelanjutan di masa depan.
