Membaca adalah menyalakan obor; mendiskusikannya adalah menjaga api agar tak padam. Sebagaimana diungkapkan KH. Hasyim Asy’ari (1934) dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim, “Ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada hati yang gelap.”
Di kota yang lampu jalannya tak pernah padam, di antara deru motor dan hiruk pikuk pasar malam, ada sebuah garasi sederhana yang setiap dua minggu sekali berubah menjadi pelabuhan gagasan. Tidak ada spanduk megah, tidak ada pengeras suara. Hanya deru kipas angin tua, tumpukan buku di sudut ruangan, dan gelaran karpet lusuh membungkus alas duduk.
Di sanalah, anak-anak muda berkumpul. Mahasiswa dengan tas punggungnya, pemuda kampung yang masih mengenakan jaket motor, dan para akademisi yang menyempatkan diri di tengah kesibukan. Mereka datang bukan untuk mencari sensasi, tetapi untuk mencari makna. Mereka menyebutnya Garasi Diskusi—sebuah ruang yang membuktikan bahwa di tengah riuh kota, selalu ada sudut yang memilih diam demi mendengar, dan bicara demi menghidupkan kembali pengetahuan.
Api Kecil yang Menghangatkan Pikiran
Kegiatan ini rutin berlangsung setiap malam Kamis di Kelurahan Babakan Sari, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung. Pesertanya beragam: mahasiswa, pemuda setempat, hingga praktisi-akademisi yang mengisi forum sesuai dengan sub kajian.
Tema yang dibahas pun berlapis-lapis. Pernah suatu malam, mereka membedah “Oksidentalisme: Sebuah Teori dan Upaya Mewujudkannya”. Malam lainnya, ruang garasi itu hidup dengan pembahasan “Membaca Ki Hajar Dewantara: Laku Hidup dan Perjuangannya”.
Tak jarang, diskusi mereka memasuki ranah aktual, seperti “Tadarus Politik Anggaran: Kebijakan Anggaran untuk Kemaslahatan dan Keadilan”, atau meresapi persoalan mendasar dalam “Menelisik Pendidikan Islam: Antara Idealisme dan Realitas”.
Seperti diungkapkan Paulo Freire (1970) dalam Pedagogy of the Oppressed, “Kesadaran kritis lahir dari dialog yang membebaskan, bukan dari ceramah yang memaksa.” Dialog di Garasi Diskusi menjadi wujud nyata kalimat itu—setiap kata menghidupkan, bukan memenjarakan.
Tradisi Pergerakan yang Harus Dilestarikan
Ruang diskusi seperti ini adalah bagian dari tradisi pergerakan yang patut dilestarikan. Kita belajar dari Revolusi Prancis abad ke-18, yang sebagian benihnya tumbuh dari percakapan kecil di kafe-kafe pinggiran kota Paris. Sejarawan Steven Kaplan (1991) dalam The Bakers of Paris and the Bread Question, 1700–1775 mencatat bahwa kafe kala itu menjadi tempat rakyat dan intelektual bertukar pikiran tentang keadilan dan masa depan bangsa.
Indonesia pun memiliki jejak serupa. Forum Selasa Kliwonan yang digagas H.O.S. Cokroaminoto di Surabaya menjadi ruang bagi para pemuda pergerakan awal abad ke-20. Dari diskusi sederhana di rumah Cokroaminoto, lahir tokoh-tokoh besar seperti Soekarno, Tan Malaka, dan Semaoen (Shiraishi, 1990, An Age in Motion: Popular Radicalism in Java, 1912–1926).
Garasi Diskusi adalah warisan semangat yang sama—meski skalanya kecil, denyutnya sama dengan ruang-ruang percakapan yang dahulu melahirkan perubahan besar.
Sejarah Panjang Literasi dalam Peradaban Islam
Bagi umat Islam, literasi adalah bagian dari iman. Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah membaca: “Iqra’” (QS. Al-‘Alaq: 1). Inilah pondasi peradaban yang melahirkan para ilmuwan, filsuf, dan cendekiawan.
Pada abad ke-9, Khalifah Al-Ma’mun mendirikan Bayt al-Hikmah (Baitul Hikmah) di Baghdad, pusat penerjemahan dan riset yang mengkaji naskah-naskah Yunani, Persia, dan India untuk diperkaya dalam kerangka ilmu Islam (Gutas, 1998, Greek Thought, Arabic Culture). Tradisi ini melahirkan kultur dialog lintas disiplin—teologi, filsafat, matematika, kedokteran—yang mengubah wajah dunia.
Di Nusantara, tradisi literasi berkembang di pesantren. KH. Hasyim Asy’ari (1934) dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim menegaskan bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya itu hanya akan menetap di hati yang bersih. Diskusi menjadi salah satu cara menjaga cahaya itu tetap menyala.
Garasi Diskusi adalah perpanjangan tangan dari tradisi besar ini—menghidupkan kembali semangat membaca, berdialog, dan mencari kebenaran dengan kerendahan hati.
Kekhawatiran di Kota Kembang
Namun, ada kekhawatiran yang menggelayuti. Bandung, Kota Kembang yang dibentengi kampus-kampus ternama seperti ITB, UNPAD, UPI, UIN, seakan perlahan kehilangan ruhnya. Budaya hedon dan apatis merasuki sebagian mahasiswa dan pemuda, menggantikan semangat kritis yang dahulu menjadi kebanggaan kota ini.
Ruang-ruang diskusi semakin jarang, tergantikan oleh hiburan instan yang cepat memuaskan namun tak meninggalkan bekas pemikiran. Kita lupa bahwa kampus dan kota ini pernah menjadi pusat lahirnya pemikir dan aktivis yang mengubah sejarah bangsa.
Tanpa ruang seperti Garasi Diskusi, generasi muda berisiko kehilangan medan tempur terpentingnya: medan tempur gagasan.
Literasi sebagai Obor dan Suluh
Garasi Diskusi percaya bahwa literasi adalah suluh yang tak boleh padam, apalagi dalam pendidikan Islam. Seperti diungkapkan KH. Hasyim Asy’ari, “Ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada hati yang gelap.”
Di ruang sederhana itu, cahaya ilmu dihidupkan kembali lewat tumpukan buku, lembar catatan, dan percakapan hangat yang kadang berlanjut hingga larut malam. Kegiatan ini bukan hanya menyampaikan isi buku, tetapi juga menghidupkan adab mencari ilmu: mendengar dengan seksama, berbicara dengan takzim, dan menghargai perbedaan pandangan.
Obor yang Tak Boleh Padam
Sejarah mencatat bahwa peradaban Islam tumbuh dari semangat membaca dan menulis. Tanpa tradisi literasi, mustahil lahir tokoh-tokoh besar yang menjadi rujukan ilmu pengetahuan dunia.
Garasi Diskusi, meski kecil, adalah upaya mengembalikan tradisi itu ke akar rumput. Setiap malam Kamis, obor pengetahuan dinyalakan kembali, meski hanya dihadiri segelintir orang. Sebab mereka tahu, api besar selalu bermula dari percikan kecil.
Sebagaimana dikatakan Jalaluddin Rumi (1250) dalam Masnawi: “Setetes cahaya cukup untuk mengusir beribu kegelapan.” Setetes cahaya dari sebuah garasi di Babakan Sari ini diharapkan menjalar, menyalakan rumah-rumah, sekolah-sekolah, dan hati-hati yang merindukan pengetahuan.
Fazar Rifqi As Sidik, M.Pd. (Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung)
