Tujuh tahun setelah tragedi Emiliano Sala, kisah Denis-Will Poha tidak hanya mengenang tragedi sepak bola tetapi juga menyoroti keseimbangan yang rapuh antara karier, takdir, dan bagaimana orang terus hidup dengan kenangan itu.
Pada 21 Januari 2019, dunia sepak bola diguncang ketika Emiliano Sala meninggal dalam kecelakaan pesawat dalam perjalanan ke Inggris. Tujuh tahun kemudian, kisah itu dilihat dari perspektif yang berbeda: Denis-Will Poha, yang nyaris berada di penerbangan nahas yang sama.
Panggilan Tak Terjawab dan Titik Balik dalam Kehidupan Seorang Pemain
Poha menceritakan sebuah detail yang tampaknya sepele. Sore itu, dia menunggu telepon sebelum pukul 7 malam. Jika telepon berdering, dia akan naik pesawat bersama pemain lain, terbang ke Inggris, dan langsung memulai latihan.
Tujuan panggilan itu adalah Cardiff City, klub yang sama yang akan segera didatangi Sala. Namun, panggilan itu tidak terhubung. Pukul 7 malam berlalu. Poha pergi tidur dengan perasaan kecewa, berpikir bahwa ia baru saja kehilangan kesempatan untuk bermain di Liga Premier.
Keesokan paginya, agennya mengirimkan pesan yang tidak biasa: “Berdoalah dan ucapkan terima kasih kepada Tuhan sebelum kamu melakukan apa pun.” Kabar yang menyusul mengubah perspektif Poha tentang karier dan hidupnya. Sala telah meninggal dunia. Penerbangan yang akan dinaikinya tidak pernah mendarat.
Dalam sepak bola, titik balik penting terkadang ditentukan oleh sebuah gol, cedera, atau kontrak. Bagi Poha, titik balik itu datang dari kesalahan wasit. Bukan karena dia menolak, bukan pula karena dia membuat pilihan yang salah, tetapi hanya karena waktunya tidak tepat. Garis antara “maju” dan “berhenti” sangat tipis.
Sepak Bola, Takdir, dan Bagaimana Menjalani Hidup Setelah Tragedi
Setelah tragedi itu, Poha meninggalkan Rennes dan meninggalkan ambisinya untuk pindah ke Inggris. Ia memilih Portugal sebagai tujuan berikutnya, bermain untuk Vitoria Guimaraes sebelum kemudian untuk Portimonense, Pau, Quevilly Rouen, dan Sion. Itu bukanlah jalan yang glamor seperti Liga Primer Inggris, tetapi itu adalah jalan yang dapat ia tempuh dengan lebih tenang.
Patut dicatat bahwa Poha tidak menceritakan kisahnya sebagai sebuah mukjizat atau “penyelamatan.” Ia menceritakannya dengan nada serius. Bagi Poha, tragedi Sala bukanlah sebuah keberuntungan, melainkan pengingat keras akan kerapuhan kehidupan seorang pesepakbola.
Kontrak bisa sangat dekat. Penerbangan bisa hanya beberapa langkah lagi. Dan semuanya bisa diputuskan dalam sekejap.
Dari pengalaman itu, Poha memilih untuk melihat sepak bola secara berbeda. Setelah meninggalkan klub, ia menghabiskan waktu menonton banyak pertandingan, menganalisisnya dari perspektif pemain profesional. Proyek The Ball lahir dari hal ini, bukan untuk menceritakan kisah mengatasi tragedi, tetapi untuk berbagi pengalamannya, membantu pemain muda lebih memahami permainan, posisi mereka, dan bagaimana meningkatkan bahkan detail terkecil sekalipun.
Poha juga menyelenggarakan sesi latihan individu, bekerja dengan para pemain yang mencoba menemukan ritme permainan mereka kembali. Ia berbicara tentang sepak bola dengan penuh kasih sayang. Bukan cinta romantis terhadap trofi, tetapi komitmen abadi dari seseorang yang telah melihat sisi tergelap dari profesi ini.
Yang selalu ditekankan Poha adalah persiapan. Persiapan fisik, persiapan mental, dan pola pikir penerimaan. Dia fokus pada apa yang bisa dia kendalikan, daripada terus memikirkan apa yang telah berlalu. Keluarga adalah prioritas utama. Sepak bola masih ada, sebagai bagian tak terpisahkan dari hidupnya, tetapi bukan lagi segalanya.
Tujuh tahun setelah hari yang menentukan itu, ungkapan “Saya bisa saja berada di pesawat itu” tidak lagi mengandung konotasi sensasional. Ungkapan itu telah menjadi tonggak sejarah. Sebuah pengingat bahwa sepak bola bukan hanya tentang taktik, ketenaran, atau bursa transfer . Di balik setiap pertandingan ada orang-orang, dan titik balik terkadang ditentukan oleh hal-hal yang sangat kecil.
Bagi Poha, melanjutkan keterlibatannya dalam sepak bola, dengan cara yang lebih tenang dan praktis, adalah jawabannya atas pertanyaan terbesar setelah tragedi itu: bagaimana melanjutkan hidup, setelah begitu dekat dengan titik tanpa kembali.
