Laptop Chromebook kembali ramai jadi perbincangan publik, termasuk disebut-sebut dalam kasus korupsi yang menyeret Menteri Pendidikan Nadiem Makarim.
Namun, sebenarnya apa itu Chromebook, dan mengapa perangkat ini dianggap begitu penting dalam dunia pendidikan hingga bisa menimbulkan pro dan kontra?
Chromebook adalah laptop yang menjalankan sistem operasi ChromeOS, buatan Google. Berbeda dengan laptop berbasis Windows atau macOS, Chromebook didesain untuk bekerja secara maksimal dengan dukungan internet.
Baca juga: Jejak Panjang Nadiem Makarim, Dari Jaket Hijau Sampai Rompi Oranye!
Namun, bukan berarti perangkat ini sepenuhnya tidak bisa dipakai offline. Aplikasi populer seperti Gmail dan Google Docs tetap dapat digunakan tanpa koneksi internet.
Data yang dikerjakan secara offline akan otomatis tersinkronisasi ketika perangkat kembali terhubung ke jaringan.
Beberapa aplikasi lain juga memiliki fitur serupa, meski kadang pengguna perlu melakukan pengaturan tambahan atau memasang ekstensi dari Chrome Web Store.
Keunggulan Chromebook
Bukan tanpa alasan Chromebook semakin populer di sektor pendidikan, terutama di negara-negara maju. Ada beberapa keunggulan yang membuatnya dilirik oleh sekolah maupun universitas:
- Harga Lebih Terjangkau
Karena ChromeOS disediakan secara gratis oleh Google, harga perangkat Chromebook cenderung lebih murah dibandingkan laptop berbasis Windows atau macOS. - Ringan dan Praktis
Desain Chromebook umumnya tipis dan ringan, sehingga mudah dibawa oleh pelajar. - Baterai Tahan Lama
Banyak seri Chromebook bisa bertahan hingga seharian penuh dengan sekali pengisian, membuatnya cocok untuk kegiatan belajar mengajar tanpa perlu sering mencari colokan. - Integrasi Cloud
Semua file, password, hingga ekstensi otomatis tersimpan di Google Drive. Hal ini membuat data lebih aman dan bisa diakses kapan saja dari perangkat lain. - Update Otomatis
Sistem operasi ChromeOS diperbarui secara otomatis di latar belakang, bahkan saat perangkat digunakan. Jadi, pengguna tidak perlu repot menunggu proses update atau restart yang lama.
Fokus pada Cloud Computing
Salah satu ciri khas utama Chromebook adalah ketergantungannya pada layanan komputasi awan (cloud computing). Hampir semua aktivitas pengguna diarahkan untuk berjalan lewat layanan Google, mulai dari penyimpanan file hingga penggunaan aplikasi.
Baca juga: Logo Hitam Jadi Bentuk Duka Mendalam Gojek Terhadap Affan Kurniawan
Dengan konsep ini, Chromebook tidak membutuhkan spesifikasi hardware tinggi. Itulah yang membuat harganya bisa ditekan lebih murah, tetapi tetap mumpuni untuk kebutuhan dasar seperti mengetik, mengakses internet, menonton video, atau menggunakan aplikasi berbasis web.
Sebagai informasi, Chromebook pertama kali diluncurkan pada 11 Mei 2011 dalam acara Google I/O. Dua produsen awal yang merilis perangkat ini adalah Acer dan Samsung.
Beberapa tahun kemudian, produsen besar lain seperti Lenovo, Hewlett-Packard (HP), hingga Google sendiri ikut masuk ke pasar Chromebook. Mulai 2013, perangkat ini semakin diterima luas, khususnya di sektor pendidikan.
Data pasar menunjukkan, Chromebook kini menguasai sebagian besar distribusi perangkat untuk sekolah, terutama di Amerika Serikat. Harganya yang terjangkau dan kemudahan penggunaan membuatnya jadi pilihan utama untuk program digitalisasi pendidikan.
Pro dan Kontra Chromebook di Indonesia
Meski punya banyak keunggulan, penggunaan Chromebook di Indonesia tidak lepas dari kontroversi. Salah satu alasannya adalah ketergantungan pada internet, yang masih menjadi tantangan di beberapa daerah dengan jaringan kurang stabil.
Selain itu, bagi sebagian orang, keterbatasan aplikasi native di ChromeOS dianggap sebagai kelemahan. Banyak software populer, khususnya untuk kebutuhan profesional, belum tersedia secara penuh di sistem operasi ini.
Namun, jika melihat tren global, Chromebook terus berkembang. Google bahkan mengintegrasikan teknologi AI generatif ke ChromeOS, menjadikannya perangkat yang semakin relevan untuk kebutuhan belajar, bekerja, maupun hiburan.
