Sriwijaya FC kalah 0-15 dari Adhyaksa FC pada pekan ke-18 Liga 2 2025/2026, Sabtu 31 Januari 2026. Hasil ini mengejutkan salah satu media Vietnam.
Di Stadion Internasional Banten (Serang), kekalahan terberat dalam sejarah sepak bola profesional Indonesia terjadi, yang membuat banyak orang mempertanyakan transparansi dan perilaku Sriwijaya.
Babak pertama berakhir dengan keunggulan 7-0 untuk tim tuan rumah, Adhyaksa FC, dan babak kedua menyaksikan delapan gol lagi, yang mengejutkan banyak orang.
Kejadian ini bahkan menarik perhatian media Vietnam, Znews, yang memuat judul “Sepak bola Indonesia terguncang oleh kekalahan 0-15”.
Banyak penggemar Indonesia yang geram, menuntut agar pihak berwenang di kepulauan ini menyelidiki Sriwijaya setelah kekalahan yang tak terduga ini.
Sampai saat ini, Sriwijaya telah kebobolan 69 gol hanya dalam 18 pertandingan di Divisi Pertama Indonesia musim ini. Namun, fakta bahwa mereka kebobolan 15 gol dalam satu pertandingan tanpa mencetak satu gol pun masih mengejutkan banyak orang.
Situasi Sriwijaya saat ini sangat buruk, karena tim tersebut menghadapi krisis keuangan yang berkepanjangan, termasuk rumor tentang gaji pemain yang belum dibayar. Hal ini juga menimbulkan pertanyaan tentang transparansi tim.
Sriwijaya pernah menjadi salah satu kekuatan utama dalam sepak bola Indonesia, memenangkan kejuaraan nasional dua kali pada musim 2007/08 dan 2011/12, serta memenangkan tiga gelar Liga Indonesia secara berturut-turut. Namun, sejak krisis keuangan pada tahun 2015, Sriwijaya mulai mengalami penurunan.
Nasib Sriwijaya FC di Ujung Tanduk
Rentetan hasil buruk di lapangan, ditambah krisis finansial yang berkepanjangan, membuat posisi Sriwijaya FC semakin terpuruk dan ancaman degradasi kian nyata.
Masalah keuangan membuat langkah klub berjuluk Laskar Wong Kito kian terseok. Klub kesulitan memenuhi kebutuhan operasional dasar, termasuk pembayaran gaji pemain.
Bahkan, beredar kabar bahwa nafas Sriwijaya FC kini hanya bertumpu pada iuran dari kantong pribadi sejumlah pegawai.
Dalam persaingan kasta kedua yang keras dan kompetitif, kondisi tersebut membuat Sriwijaya FC seolah tidak memiliki ruang untuk bangkit. Hingga saat ini, skuad asuhan Budi Surdarsono terdampar di dasar klasemen Grup A dengan raihan dua poin dari 18 pertandingan yang telah dijalani.
Budi Sudarsono memiliki catatan kurang baik selama menjadi pelatih Sriwijaya FC. Secara total, mantan striker Timnas Indonesia itu sudah memimpin Sriwijaya FC dalam 12 laga dengan rincian sekali imbang dan 11 kalah.
Kini, Sriwijaya FC total telah kebobolan sebanyak 23 gol dalam 8 pertandingan, hal ini membuat sang penjaga gawang, Rangga Pratama menjadi sasaran hujatan dari pemain lawan bahkan sebagian pengamat sepak bola.
Meskipun menjadi target hujatan, Rangga Pratama tetap fokus pada perbaikan diri dan berkomitmen membantu Sriwijaya FC meraih hasil lebih baik di laga-laga mendatang.
