Di tengah arus deras transformasi digital yang terus melaju, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam membangun literasi kecerdasan artifisial (AI) yang inklusif dan relevan. Teknologi AI kini bukan lagi sekadar wacana futuristik, melainkan telah menjadi bagian nyata dari ruang kelas, dunia kerja, hingga lini bisnis mikro.
Menyadari urgensi tersebut, MAXY Academy mengambil langkah strategis dengan menghadirkan pelatihan AI terbuka bagi masyarakat luas, sebagai bagian dari komitmen jangka panjang dalam membentuk generasi digital yang adaptif, produktif, dan berdampak.
Program pelatihan ini dirancang dengan pendekatan project-based learning yang praktis dan aplikatif, menjangkau berbagai lapisan masyarakat mulai dari mahasiswa, tenaga pendidik, hingga pelaku UMKM.
Tujuannya bukan hanya untuk mengenalkan konsep AI secara teknis, tetapi juga untuk membekali peserta dengan pemahaman fungsional yang dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan dunia kerja. Dari analisis data hingga strategi pemasaran digital, AI diposisikan sebagai alat bantu yang memberdayakan, bukan menggantikan.
CEO MAXY Academy, Isaac Munandar, menegaskan bahwa inisiatif ini lahir dari keprihatinan terhadap kesenjangan keterampilan digital yang masih lebar di Indonesia. Menurutnya, jika literasi AI tidak segera dibangun secara merata, Indonesia berisiko menjadi konsumen pasif dalam ekosistem teknologi global.
“Kami ingin mendorong masyarakat Indonesia untuk menjadi pelaku, bukan sekadar pasar. AI adalah realitas yang sudah hadir di berbagai lini kehidupan, dan kita harus siap menghadapinya,” ujar Isaac dalam keterangan tertulisnya.
MAXY Academy juga menekankan pentingnya akses yang luas dan kontekstual dalam edukasi AI. Oleh karena itu, pelatihan yang diselenggarakan tidak hanya berfokus pada teori atau pemrograman, tetapi juga pada bagaimana AI dapat dimanfaatkan untuk menyusun strategi bisnis, mendesain produk digital, dan meningkatkan efisiensi operasional.
Pendekatan ini menjadikan pelatihan lebih relevan dengan kebutuhan lokal, termasuk integrasi dengan dunia pendidikan melalui konversi SKS bagi mahasiswa dan pendampingan guru di berbagai daerah.
Selama tahun 2025, MAXY Academy telah berhasil menjangkau lebih dari 300 guru dan ribuan peserta pelatihan AI di berbagai kota di Indonesia. Capaian ini menjadi bukti nyata bahwa literasi AI dapat dibangun secara bertahap dan berkelanjutan, asalkan didukung oleh ekosistem pembelajaran yang kolaboratif dan aplikatif.
“Kami percaya bahwa perubahan tidak harus menunggu semua orang menjadi teknolog. Yang dibutuhkan adalah kesadaran, pemahaman, dan kemampuan memanfaatkan teknologi untuk kehidupan dan pekerjaan,” tambah Isaac.
Ke depan, MAXY Academy berencana memperluas cakupan pelatihan AI melalui kemitraan strategis dengan institusi pendidikan, pemerintah daerah, serta perusahaan teknologi nasional dan internasional.
Dengan membangun ekosistem pembelajaran yang inklusif dan berorientasi pada dampak nyata, MAXY berharap dapat menciptakan lebih banyak agen perubahan yang melek teknologi dan siap berkontribusi dalam pembangunan digital Indonesia.
