Manchester United dianggap telah membuat keputusan cerdas dengan menyetujui penunjukan Steve Holland sebagai asisten Michael Carrick, manajer interim tim Setan Merah.
Dengan pengalaman melatih selama 33 tahun, Holland memiliki senioritas dan kualifikasi tertinggi di antara para asisten Carrick, dibandingkan dengan yang lain seperti Jonathan Woodgate, Travis Binnion, atau Jonny Evans, mantan pemain Manchester United.
The Times menyebut Holland sebagai “asisten bintang” yang diinginkan banyak pelatih top sebagai asisten mereka. Setelah mengakhiri karier bermainnya lebih awal karena cedera, Holland memulai karier kepelatihannya pada usia 22 tahun, dan mendapatkan lisensi profesionalnya pada usia 27 tahun.
Sebelumnya, Holland pernah bekerja di bawah asuhan Carlo Ancelotti, Di Matteo, Rafael Benitez, Jose Mourinho , Guus Hiddink, dan Antonio Conte di Chelsea. Ia berkontribusi membawa “The Blues” meraih gelar Liga Champions dan dua gelar Liga Premier.
Pelatih Como, Cesc Fabregas pernah memuji “otak kepelatihan yang teliti” milik Holland. Ketika Chelsea mengalahkan Bayern Munich di final Liga Champions 2012, Holland memainkan peran penting dalam membantu manajer sementara saat itu, Di Matteo.
Ketika Benitez dan Mourinho mengambil alih Chelsea, keduanya membawa banyak asisten pribadi, tetapi mereka tetap mempertahankan Holland karena sangat menghargainya. Setelah meninggalkan Chelsea, Holland kemudian bekerja sebagai asisten Gareth Southgate di timnas Inggris U21 dan kemudian tim nasional senior, membantu “Three Lions” mencapai dua final Kejuaraan Eropa dan satu semifinal Piala Dunia.
Southgate selalu dengan rendah hati menyatakan bahwa “kekuatan” Holland mengimbangi “kelemahan”nya sendiri. Holland dipuji atas pekerjaannya dalam membantu pemain muda berintegrasi dan berkembang di dalam timnas Inggris. Ia disukai dan dihormati oleh banyak pemain karena kemampuan melatihnya.
Jelas, Holland pernah mencoba menjadi pelatih kepala tetapi tidak berhasil, dipecat oleh Yokohama F Marinos setelah hanya 4 bulan. Namun, sebagai asisten pelatih, Holland adalah salah satu tokoh terkemuka di sepak bola Eropa saat ini.
Michael Carrick Resmi Jadi Manajer Interim Manchester United, Akankah Karier Kobbie Mainoo Terselamatkan?
Sikap tegas Michael Carrick mengenai peran Kobbie Mainoo membuka arah baru bagi gelandang muda tersebut seiring Manchester United bersiap memasuki fase restrukturisasi.
Dalam program RioMeets milik Rio Ferdinand, Michael Carrick memberikan komentar penting tentang Kobbie Mainoo. Mantan gelandang Manchester United itu menyatakan bahwa ia tidak menganggap Mainoo sebagai gelandang bertahan.
“Saya rasa dia lebih cocok sebagai pemain menyerang. Saya tidak melihat Mainoo cocok untuk peran yang lebih bertahan,” kata Carrick.
Menurut Carrick, posisi ideal Mainoo adalah satu lini lebih maju di lapangan, di mana ia dapat bermain dengan lebih leluasa. “Ia harus diberi lebih banyak kebebasan berkreasi,” tegas Carrick. Pernyataan ini menunjukkan pendekatan yang berbeda dibandingkan dengan Mainoo yang sering ditempatkan dalam peran yang lebih dalam musim lalu.
Mainoo adalah salah satu dari sedikit pemain yang bersinar di Manchester United. Di usia 18 tahun, ia diberi kesempatan bermain secara reguler dan dengan cepat membuktikan kemampuannya berkat kontrol bola yang rapi, pergerakan yang cerdas, dan kecerdasan sepak bola yang melampaui usianya.
Namun, karena ditempatkan sebagai gelandang bertahan, Mainoo harus memikul beban pertahanan yang sangat besar, sehingga membatasi kemampuannya untuk menunjukkan kekuatan individunya.
Perspektif Carrick mencerminkan filosofi yang membawanya sukses di Manchester United: peran yang jelas dan memanfaatkan kekuatan daripada memaksa pemain untuk beradaptasi dengan sistem yang kaku. Bagi Mainoo, kebebasan bergerak dan keterlibatan di area lini tengah yang lebih maju bisa menjadi kunci pengembangan jangka panjang.
Saat Manchester United memulai siklus pembangunan kembali yang baru, suara-suara seperti Carrick merupakan sumber referensi yang sangat berharga. Dia memahami lingkungan Old Trafford dan tekanan yang menyertainya dengan memainkan pemain muda.
Bagi Mainoo, masalahnya bukan soal kemampuan. Yang dibutuhkan talenta muda ini adalah peran yang jelas. Dan Carrick – yang kemungkinan besar akan menjadi manajer interim Manchester United untuk sisa musim 2025/26, setidaknya secara teori – telah menunjukkan jalan tersebut.
