Puisi sering dianggap sebagai ruang keindahan bahasa dan permainan imajinasi, namun bagi Yatiman Yusof, penyair kelahiran Johor yang lama berkarya di Singapura, puisi adalah lebih dari sekadar estetika. Ia menjadi medium kritik sosial sekaligus refleksi nurani, tempat menyuarakan keadilan, moral, dan kesadaran budaya. Dalam konteks Asia Tenggara, puisi dapat berfungsi sebagai cermin masyarakat, menangkap denyut realitas politik, sosial, dan moral, tanpa kehilangan kekuatan estetika. Seperti yang dicatat oleh Berita Harian, antologi puisinya menjadi “cermin perjalanan kerjaya beliau sepanjang empat dekad, daripada guru, wartawan, editor, ahli politik, sehinggalah diplomat” (“Antologi Puisi Yatiman Cermin Kerjaya Sepanjang Empat Dekad”, Singapura: Berita Harian, 2024). Pernyataan ini menegaskan bahwa pengalaman hidup Yatiman melintasi pendidikan, jurnalisme, politik, dan diplomasi, memberikan kedalaman dan legitimasi pada suara puisinya.
Esai ini secara khusus memilih dua puisi, “Kapar-Kapar” dan “Kebohongan”, sebagai dasar argumentasi karena keduanya menampilkan secara paling jelas dimensi kritik sosial dan refleksi nurani dalam karya Yatiman. “Kapar-Kapar” menghadirkan citraan sampah di pantai sebagai simbol polusi moral, kerusakan budaya, dan penyakit kepemimpinan: “sampah busuk berserta botol beg plastik / mengguris lara di mata” (“Samudera Kata: Puisi-Puisi Yatiman Yusof”, Pekanbaru: tirastimes.com, 20 Maret 2021).
Sementara itu, “Kebohongan” menyingkap kegoncangan batin individu yang hidup di tengah dusta dan prasangka, menekankan pentingnya kejujuran dalam relasi sosial: “rongkongan ini memuntahkan dusta / sedang lidah pula mengulangi prasangka” (Tirastimes.com, Ibid.).
Pemilihan kedua puisi ini memungkinkan esai untuk mengembangkan analisis yang spesifik, mendalam, dan argumentatif, sekaligus menampilkan keseimbangan antara estetika dan etika yang menjadi ciri khas Yatiman. Melalui kedua puisi ini, pembaca dapat memahami bagaimana pengalaman hidup Yatiman sebagai politisi, diplomat, dan jurnalis menyatu dengan kesadaran moral dalam karyanya.
Bagaimana puisi-puisi Yatiman Yusof menyingkap kritik sosial dan nurani? Mengapa kedua puisi tersebut menjadi representasi utama dalam kajian esai ini? Dan mengapa membaca Yatiman Yusof penting, tidak hanya dari perspektif sastra, tetapi juga dari konteks sejarah politik dan budaya Singapura?
Pendekatan esai ini bersifat reflektif-argumentatif, menafsirkan karya Yatiman secara mendalam sekaligus mengaitkannya dengan pengalaman hidup, konteks sosial-politik, dan implikasi moral yang dihadirkan puisinya.
Latar Belakang Penyair
Yatiman Yusof lahir pada 22 September 1946 di Parit Pinang, Benut, Johor (National Archives of Singapore, Biographical Summary of Yatiman Yusof, Singapore: NAS, 2010). Perjalanan hidupnya yang panjang dan beragam memberikan fondasi kuat bagi kepenyairannya. Ia memulai karier sebagai guru, kemudian menjadi wartawan dan editor, sebelum terjun ke dunia politik sebagai anggota parlemen dan Setiausaha Parlimen Kanan bagi Ehwal Luar, Penerangan, dan Kesenian di Singapura. Pada tahap berikutnya, Yatiman juga dipercaya sebagai diplomat, termasuk sebagai Duta Tidak Bermastautin ke Kenya dan Rwanda. Riwayat profesional yang luas ini bukan hanya memberikan wawasan tentang dinamika sosial-politik, tetapi juga membentuk kepekaannya terhadap kondisi moral dan etika masyarakat, yang kemudian tercermin dalam puisinya (Berita Harian, Ibid.).
Dalam sejarah sastra Melayu-Singapura, Yatiman menempati posisi penting sebagai penyair yang menggabungkan pengalaman politik dengan visi puitik. Puisinya tidak hanya mengekspresikan keindahan bahasa, tetapi juga merekam observasi sosial dan refleksi moral. Hal ini terlihat dalam antologi puisinya, antara lain Titis Tinta (1991), yang memuat karya-karya awalnya; Percikan Kembara (2014), yang menampilkan pengalaman dan perjalanan hidupnya dalam bentuk puisi; serta Yang Terpendam (2014), antologi bersama yang menekankan tema sosial dan eksistensial (Ministry of Education Singapore Library, A Trail of Sparks: Percikan Kembara, Singapore: MOE Library Catalogue, 2014).
Pengalaman panjang Yatiman dalam dunia publik, baik sebagai politisi maupun diplomat, memperkaya dimensi puitiknya. Hubungan antara pengalaman politik dan visi puitik ini menjadi ciri khas karyanya. Sebagai contoh, kritik terhadap kepemimpinan, integritas moral, dan kesadaran sosial tidak muncul secara eksplisit melalui retorika politik, tetapi melalui simbolisasi, metafora, dan citraan puitis. Dengan kata lain, puisi Yatiman menjadi “sisi lain” dari perjalanan hidupnya: sebuah pencarian moral yang lahir dari hiruk-pikuk kuasa, sejarah, dan pengalaman manusiawi yang dialaminya secara langsung.
Seperti dicatat oleh Heng Swee Keat dalam pidatonya pada peluncuran buku antologi Yatiman, “As a journalist, he was not only recording history, but also activating the minds of the people, encouraging them to think about issues that mattered to the country.”; “Sebagai wartawan, beliau bukan saja mencatat sejarah, tetapi juga mengaktifkan pikiran rakyat, mendorong mereka untuk berpikir tentang isu-isu penting bagi negara.” (Keat, “Speech at the Book Launch of A Trail of Sparks by Mr Yatiman Yusof”. Singapore: Prime Minister’s Office, 2024).
Pernyataan ini menegaskan bahwa pengalaman profesional Yatiman tidak hanya membentuk pandangan sosial-politiknya, tetapi juga memperkaya karya puisinya dengan refleksi moral dan sosial yang mendalam. Puisi-puisinya menjadi medium dialog antara estetika dan etika, antara bahasa dan nurani, sehingga membaca Yatiman berarti sekaligus memahami perjalanan hidup, sejarah, dan nilai moral yang menjadi pijakan dalam karyanya.
Analisis Puisi “Kapar-Kapar”
Puisi “Kapar-Kapar” karya Yatiman Yusof adalah contoh jelas bagaimana simbol konkret dapat memuat kritik sosial yang mendalam. Kata “kapar”, secara harfiah merujuk pada kerikil atau serpihan di pantai, digunakan sebagai metafora bagi polusi moral dan budaya serta penyakit kepemimpinan yang merusak tatanan sosial. Dalam bait awal, Yatiman menampilkan pantai yang seharusnya bersih dan indah, namun ternoda oleh serpihan dan sampah:
KAPAR-KAPAR
kapar diteluk
memangteradat di mana-mana
mengotori bersih pantai putih
arus ombakangin musim
penyongkolpaling setia
indah bibir alam hilang pualamnya
sampah busuk berserta botol beg plastik
mengguris lara di mata
kapar didalam diri
menyolok mata membelit tangkai hati
lakumu tanpa pekerti
menginjak keharuman tingkah
susila junjungan terhumban ke tepi
kapar dibenak
mengerak ditangkai hati
terlurutlah nurani
menajaklah dengki khianat takbur riak
terusirlah keimanan diri
membikin budiman sirna budi
insan hilang kesantunan budaya tercinta
kapar dihati pemimpin
penyakit yang paling menggusarkan
kau kaup hak dari tangan retak rakyat di teratak
hitam mukamu ditutupi topeng kuasa mahumu terus kekal diatas takhta
tidak peduli najis apa melumuri nama
membawa kejatuhan untuk mu akhirnya
kapar oh kapar
kau bikin buana cacat lumpuh
malah mati kerananya
ambon, indonesia
(Tirastimes.com, 20 Maret 2021)
https://tirastimes.com/samudera-kata-puisi-puisi-yatiman-yusof-singapura/2021/03/20/
Bait pertama bukan sekadar deskripsi visual; ia menekankan simbolisasi polusi sosial-politik, di mana kerusakan lingkungan fisik diparalelkan dengan degradasi moral masyarakat. Konteks Singapura yang sangat menekankan kebersihan dan disiplin sosial memberi lapisan tambahan: polusi fisik dan moral menjadi dua sisi dari masalah yang sama: ketidakharmonisan masyarakat.
Struktur kritik sosial dalam puisi ini tersusun secara progresif dan sistematis. Yatiman bergerak dari lingkungan (pantai yang kotor) → personal (lakumu tanpa pekerti) → pemimpin (kapar di hati pemimpin). Dalam bait berikut, ia menegaskan bagaimana tindakan individu yang melanggar norma sosial dapat menggerogoti nilai budi pekerti: “kapar didalam diri / menyolok mata membelit tangkai hati / lakumu tanpa pekerti / menginjak keharuman tingkah / susila junjungan terhumban ke tepi”.
Kemudian, kritik diarahkan kepada pemimpin yang gagal menegakkan keadilan dan integritas moral: “kapar dihati pemimpin / penyakit yang paling menggusarkan / kau kaup hak dari tangan retak rakyat di teratak / hitam mukamu ditutupi topeng kuasa mahumu terus kekal diatas takhta / tidak peduli najis apa melumuri nama / membawa kejatuhan untuk mu akhirnya”.
Progresi ini menunjukkan alur moral dari luar ke dalam, dari individu ke kolektif, dan dari lingkungan ke negara. Strategi ini memperlihatkan kemampuan Yatiman dalam menata simbol puitis agar berfungsi sebagai kritik struktural: dari masalah sosial sederhana hingga korupsi sistemik. Menurut Heng Swee Keat, “His poetry reflects a consciousness that goes beyond the individual to society, urging moral responsibility in leadership and citizenry alike”; “Puisinya mencerminkan kesadaran yang melampaui individu, mendorong tanggung jawab moral baik pada kepemimpinan maupun masyarakat.” (Ibid.)
Dimensi nurani dalam “Kapar-Kapar” juga sangat menonjol. Kritik Yatiman tidak hanya bersifat politis, tetapi menyasar hilangnya budi, susila, dan kesantunan budaya, yang merupakan fondasi moral masyarakat. Ia menekankan bahwa degradasi moral akan merembet ke semua lapisan sosial, merusak interaksi manusia, dan melemahkan budaya yang diwariskan secara turun-temurun: “terusirlah keimanan diri / membikin budiman sirna budi / insan hilang kesantunan budaya tercinta”.
Secara reflektif-argumentatif, puisi ini berfungsi sebagai “amaran” (peringatan) bagi bangsa-bangsa modern, termasuk Indonesia, tentang bahaya polusi sosial-politik. Yatiman memperlihatkan bahwa kerusakan budaya dan moral, meski tampak kecil atau tersembunyi, seperti serpihan kapar di pantai, dapat menimbulkan efek yang luas dan merusak tatanan masyarakat. Dari perspektif etika sastra, puisi ini menegaskan bahwa estetika puitis dan kritik moral dapat berjalan beriringan, sehingga pembaca diajak merenungkan hubungan antara perilaku individu, integritas kepemimpinan, dan keberlanjutan budaya.
Dengan demikian, “Kapar-Kapar” bukan sekadar puisi deskriptif tentang sampah atau lingkungan, tetapi simbol moral yang menegaskan fungsi puisi sebagai ruang kritik sosial dan cermin nurani. Yatiman mengajak pembaca tidak hanya menikmati estetika bahasa, tetapi juga menyadari tanggung jawab moral dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari kolektif sosial.
Analisis Puisi “Kebohongan”
Puisi “Kebohongan” karya Yatiman Yusof menggambarkan kegoncangan batin individu yang hidup di tengah ketidakjujuran dan prasangka masyarakat. Suasana batin ini bergerak dari dingin yang membeku, hangat yang membakar, bergetar, hingga pudar, mencerminkan konflik psikologis dan moral yang dialami individu ketika menghadapi dusta yang meresap ke dalam struktur sosial:
KEBOHONGAN
dalam benak ini
ada dingin diam membeku
ada hangat serasa membakar
sebentar bergetar
sebentar pudar
namundalam tidur
dalam jaga pun ada garis fikir
menjulur patah
patahan bersabung
membisikkan madah
bahawa nadi di tubuh ini
sakit ditusuki duri
hingga pada tiap sentuhan
sakit juga mendahului rangsang balasan
maka terbenamlah dalam lingkaran
suara-suara pahit
nada-nada perit
bagaimana kita bisa bangkit berbicara
jika kesakitan yang tidak terhunjamkan
tampil mewarnai segala madah
dan rongkongan ini memuntahkan dusta
sedang lidah pula mengulangi prasangka
aku tidak akan boleh
menahan nafas
membetuli dusta yang terjulur
lalu memaniskan bicara
menutupi dusta
kerana di depan kita
sebenarnya ketahuan
yang terpacul itu
adalah kebohongan
singapura
(Tirastimes.com, 20 Maret 2021)
https://tirastimes.com/samudera-kata-puisi-puisi-yatiman-yusof-singapura/2021/03/20/
Kontras suhu batin ini menandai ketegangan eksistensial: individu terseret antara kejujuran, prasangka, dan rasa takut terhadap konsekuensi sosial dari menyingkap kebohongan. Puisi ini menekankan bahwa kebohongan bukan sekadar persoalan personal, tetapi meresap ke dalam struktur budaya, di mana bahasa, interaksi sosial, dan norma kerap memaniskan dusta. Yatiman menulis: “maka terbenamlah dalam lingkaran / suara-suara pahit / nada-nada perit”.
Melalui baris ini, pembaca melihat bagaimana kebohongan menjadi penyakit sosial: ia menggerogoti komunikasi, membungkam nurani, dan menanam prasangka yang memperkuat kemunafikan. Dalam konteks ini, puisi Yatiman sejalan dengan teori kritik sastra sosial, yang menekankan bahwa karya sastra dapat menyingkap struktur sosial yang tidak terlihat namun mempengaruhi perilaku kolektif.
Dimensi eksistensial puisi ini sangat kuat. Yatiman menegaskan perlawanan nurani terhadap kemunafikan, dengan menyatakan: “aku tidak akan boleh / menahan nafas / membetuli dusta yang terjulur / lalu memaniskan bicara / menutupi dusta”.
Baris ini menunjukkan bahwa individu yang sadar moral memiliki tanggung jawab untuk menyingkap kebohongan, meskipun kebenaran itu pahit dan berisiko menimbulkan konflik. Puisi ini, dengan demikian, menjadi manifesto etis, menekankan keberanian moral sebagai inti dari tanggung jawab sosial.
Dari perspektif reflektif-argumentatif, “Kebohongan” mengajarkan bahwa membungkam nurani atau menutupi dusta adalah bentuk partisipasi dalam penyakit sosial. Keberanian untuk menegakkan kebenaran, walau sulit, merupakan panggilan moral yang relevan bagi semua masyarakat modern. Yatiman memadukan estetika puitis dengan dimensi etis, sehingga pembaca tidak hanya merasakan pengalaman batin sang penyair, tetapi juga dihadapkan pada tuntutan moral untuk bertindak.
Lebih jauh, puisi ini menjadi kritik tersirat terhadap prasangka dan kepalsuan dalam budaya kontemporer, di mana bahasa sering digunakan untuk menipu atau menutupi fakta. Dengan demikian, “Kebohongan” memperluas cakupan kritik sosial Yatiman: dari lingkungan fisik dan kepemimpinan (“Kapar-Kapar”) ke struktur psikologis dan sosial yang lebih abstrak: mencakup norma, interaksi sosial, dan moral kolektif. Puisi ini mengajak pembaca untuk membaca realitas sosial dengan nurani, tidak hanya sekadar mata.
Secara keseluruhan, “Kebohongan” menegaskan bahwa puisi Yatiman Yusof bukan hanya karya estetis, tetapi ruang refleksi moral di mana pembaca diajak mempertanyakan diri, masyarakat, dan praktik sosial yang kadang membungkam kebenaran demi kepentingan sesaat. Pesan etis ini menjadikan karya Yatiman relevan lintas waktu dan wilayah, termasuk bagi pembaca Indonesia yang menghadapi tantangan serupa dalam integritas sosial-politik.
Kritik Sosial dan Nurani dalam Perpuisian Yatiman
Perpuisian Yatiman Yusof menampilkan kritik sosial yang berlapis-lapis, mencakup lingkungan, individu, hingga kepemimpinan. Dalam puisi “Kapar-Kapar”, Yatiman menggunakan simbol “kapar” sebagai metafora polusi moral dan politik. Sampah yang mengotori pantai putih menjadi representasi perilaku korup dan ketidakpedulian pemimpin terhadap rakyat: “kapar dihati pemimpin / penyakit yang paling menggusarkan / kau kaup hak dari tangan retak rakyat di teratak”.
Kritik ini bukan sekadar retorika politik, tetapi refleksi pengalaman Yatiman sebagai politisi dan diplomat, yang menyaksikan dampak keputusan kekuasaan terhadap masyarakat.
Sementara itu, puisi “Kebohongan” menyingkap runtuhnya integritas personal dan publik. “Kebohongan” diposisikan sebagai penyakit sosial yang merusak kepercayaan, hubungan, dan nilai moral individu: “rongkongan ini memuntahkan dusta / sedang lidah pula mengulangi prasangka”.
Yatiman menunjukkan bahwa integritas tidak hanya terancam oleh kepemimpinan yang korup, tetapi juga oleh norma sosial yang membungkam kebenaran dan memaniskan dusta, sehingga individu terperangkap dalam siklus kemunafikan.
Dimensi nurani menjadi basis estetika dalam karya Yatiman. Puisinya tidak ditulis semata untuk keindahan bahasa, tetapi untuk mengingatkan pembaca, mengaktifkan kesadaran moral, dan menegaskan tanggung jawab etis. Bait-bait Yatiman mencerminkan perpaduan antara etika Melayu klasik, yang menekankan budi pekerti dan susila, dengan pengalaman modern Singapura, sebuah negara dengan disiplin sosial tinggi dan politik yang kompleks: “terusirlah keimanan diri / membikin budiman sirna budi / insan hilang kesantunan budaya tercinta”.
Estetika dalam puisi Yatiman selalu diikat oleh dimensi moral dan sosial; keindahan bahasa berfungsi untuk memantulkan nurani, bukan sekadar hiburan literer.
Secara reflektif-argumentatif, perpuisian Yatiman dapat dipandang sebagai “cermin retak” masyarakat. Seperti cermin yang pecah, puisinya menyakitkan untuk dibaca, namun memantulkan kebenaran yang harus diakui: kegagalan moral, korupsi sosial-politik, dan kebohongan yang menggerogoti interaksi manusia. Yatiman menggunakan citraan konkret dan simbolisasi moral untuk menghadirkan kritik yang tajam namun estetis, sehingga pembaca diajak untuk merenungkan hubungan antara perilaku individu, integritas kepemimpinan, dan keberlanjutan budaya.
Dengan demikian, puisi-puisi Yatiman Yusof bukan hanya dokumentasi pengalaman sosial-politik, tetapi juga ruang refleksi moral. Kritik sosial dan nurani yang hadir di dalamnya menegaskan bahwa tanggung jawab estetika dan etika berjalan beriringan, membimbing pembaca untuk melihat dan menilai masyarakat dari sudut pandang nurani, bukan semata-mata logika atau kepentingan pragmatis.
Konteks Sosio-Politik Singapura
Perpuisian Yatiman Yusof tidak dapat dipisahkan dari konteks sosio-politik Singapura pada era 1960-an hingga 1990-an, periode transformasi cepat dari negara kolonial menjadi negara modern yang industrial, multikultural, dan stabil secara politik. Industrialiasi, urbanisasi, dan migrasi besar memunculkan dinamika sosial yang kompleks, sementara pemerintah menekankan stabilitas dan disiplin melalui kebijakan politik yang kuat (National Archives of Singapore, Ibid.). Kondisi ini menciptakan ketegangan antara kebutuhan modernisasi dan pelestarian nilai budaya, serta antara kepatuhan sosial dan kebebasan moral individu.
Dalam konteks ini, Yatiman menempati posisi ganda: sebagai insider, ia adalah politisi, wartawan, dan pejabat negara yang memahami mekanisme kekuasaan dan kebijakan publik; sebagai outsider, ia adalah penyair yang mengamati nurani masyarakat dengan kritis. Posisi ganda ini memungkinkan Yatiman menulis puisi sebagai “ruang alternatif” ekspresi kritik sosial, yang berbeda dari ruang politik resmi yang seringkali dibatasi oleh prosedur, hierarki, dan kepentingan pragmatis. Sebagaimana dicatat oleh Berita Harian, antologi puisinya “menunjukkan sisi lain daripada perjalanan kerjaya beliau, di mana bahasa menjadi alat refleksi moral dan kritik sosial, yang tidak selalu dapat diungkapkan di ruang politik formal” (Berita Harian, Ibid.).
Pengalaman politik Yatiman justru menajamkan kepekaan estetik dan moralnya. Dalam “Kapar-Kapar”, simbol polusi moral dan kepemimpinan korup mencerminkan pengamatan langsungnya terhadap praktik kekuasaan, sedangkan “Kebohongan” mengungkapkan bagaimana tekanan sosial dan prasangka meresap ke dalam kehidupan individu, menuntut refleksi batin. Heng Swee Keat menegaskan bahwa: “His career in public service informed his poetry, giving him insights into both the systemic challenges of governance and the moral imperatives that underpin societal well-being.”; “Kariernya dalam pelayanan publik memberi wawasan pada puisinya, memahami tantangan sistemik pemerintahan sekaligus menekankan imperatif moral yang mendasari kesejahteraan masyarakat.” (Ibid.).
Dengan demikian, puisi Yatiman bukan hanya karya estetis, tetapi produk kesadaran kritis yang lahir dari pengalaman nyata dalam politik dan masyarakat. Posisi insider-outsider ini memungkinkan puisinya menyeimbangkan antara pengamatan sosial yang akurat dan refleksi moral yang mendalam, sehingga pembaca dapat menangkap dinamika kekuasaan, ketidakadilan, dan tanggung jawab etis melalui medium sastra. Konteks sosio-politik Singapura, dengan modernisasi yang cepat dan struktur kekuasaan yang terpusat, memberikan latar kuat bagi puisinya untuk menjadi cermin moral dan sosial, yang tidak hanya relevan untuk masyarakat Singapura, tetapi juga bagi bangsa-bangsa lain yang menghadapi dilema serupa antara kemajuan dan etika publik.
Relevansi untuk Dunia Melayu-Indonesia
Puisi-puisi Yatiman Yusof, meskipun lahir dalam konteks Singapura, menyuarakan tema yang universal. Masalah sampah sosial, korupsi, dan dusta politik bukan monopoli satu negara, melainkan tantangan yang juga dialami di Indonesia dan berbagai negara lain. “Kapar-Kapar” dan “Kebohongan” menghadirkan kritik yang dapat dibaca lintas batas geografis: simbol kerikil di pantai dan batin yang terguncang karena kebohongan menjadi representasi permasalahan sosial-politik yang nyata di mana pun. Sebagaimana dicatat dalam catatan perpustakaan Ministry of Education Singapura: “His poetry addresses the moral and social dilemmas inherent in modern governance and society, which resonate beyond the immediate Singaporean context.”; “Puisinya menyingkap dilema moral dan sosial yang melekat dalam pemerintahan dan masyarakat modern, yang relevan melampaui konteks Singapura.” (Ministry of Education Singapore Library, Ibid.).
Dari perspektif nilai moral, puisi Yatiman menekankan pentingnya membangun kembali nurani budaya dan kepemimpinan yang beretika. “Kapar-Kapar” memperingatkan tentang kerusakan moral yang merusak budaya, sedangkan “Kebohongan” menegaskan tanggung jawab personal untuk menegakkan kejujuran dan integritas dalam kehidupan sosial. Pesan-pesan ini relevan bagi pembaca Indonesia yang tengah menghadapi tantangan korupsi, ketidakadilan, dan norma sosial yang memudar. Kritik Yatiman mengingatkan bahwa pembangunan sosial-politik yang sehat harus diawali dari perbaikan nurani individu dan kolektif, serta kepemimpinan yang beretika.
Secara reflektif, membaca Yatiman terasa seperti memandang cermin bangsa sendiri. Setiap bait menjadi amunisi introspektif: apakah kita, sebagai masyarakat, juga dikelilingi oleh “kapar”, polusi moral dan politik; atau “kebohongan”, prasangka dan tipuan yang merusak integritas sosial? Kesadaran ini menuntun pembaca untuk menilai ulang perilaku sosial-politik, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari komunitas yang lebih luas. Sebagaimana penulis reflektif ini rasakan: pengalaman membaca Yatiman bukan sekadar apresiasi sastra, tetapi juga panggilan moral, menuntut keberanian untuk menghadapi ketidakadilan dan ketidakjujuran yang tersembunyi di sekitar kita.
Dengan demikian, relevansi puisi Yatiman Yusof bagi dunia Melayu-Indonesia adalah ganda: estetika puitisnya mengundang kenikmatan literer, sedangkan kritik moral dan sosialnya membangkitkan kesadaran etis. Ia mengingatkan pembaca bahwa puisi bukan hanya media hiburan atau ekspresi pribadi, tetapi juga ruang refleksi nurani dan etika, yang mempersiapkan masyarakat untuk menghadapi tantangan sosial-politik dengan integritas dan kesadaran moral.
***
Puisi-puisi Yatiman Yusof memperlihatkan bahwa sastra tidak hanya menjadi wadah estetis, melainkan juga instrumen nurani dalam menghadapi persoalan sosial. Dalam konteks Singapura, karya-karyanya muncul dari pengalaman seorang penyair yang sekaligus politisi dan diplomat. Dari posisi inilah puisinya berfungsi sebagai “suara kedua”, suara yang lebih jujur, bebas dari kepentingan birokrasi, dan mampu mengungkap sisi gelap pembangunan serta kuasa yang sering ditutupi oleh retorika resmi. Dengan simbol-simbol sederhana seperti “kapar” dan “kebohongan”, Yatiman menghadirkan kritik sosial yang menyentuh akar persoalan moral bangsa kota itu: kerusakan budaya, runtuhnya integritas, dan krisis kepemimpinan yang bisa menggerogoti fondasi masyarakat modern.
Namun, suara Yatiman tidak berhenti di Singapura. Ia juga beresonansi dalam konteks keindonesiaan, sebab problem polusi moral dan politik, serta runtuhnya integritas sosial, bukan monopoli negeri seberang. Indonesia, dengan dinamika demokrasi dan keragaman budayanya, kerap menghadapi tantangan serupa: penyalahgunaan kuasa, manipulasi kebenaran, dan lemahnya kesadaran nurani dalam ruang publik. Membaca puisi Yatiman dari Indonesia bagaikan bercermin: kita tidak sedang menatap negeri lain, melainkan menatap wajah kita sendiri.
Karena itu, warisan puitis Yatiman Yusof tidak hanya menyimpan nilai sastra, melainkan juga pesan etis yang melintasi batas politik dan budaya. Puisinya mengingatkan bahwa tanpa nurani, pembangunan kehilangan arah; tanpa integritas, kekuasaan hanya menghasilkan kehancuran. Membaca Yatiman berarti menjaga api kecil kesadaran yang mampu menyalakan kembali moralitas, baik di Singapura, maupun di Indonesia, dua bangsa serumpun yang tengah berjuang mempertahankan martabat budaya dan keadilan sosial di tengah arus zaman.***
Abdul Wachid B.S. (Penulis adalah penyair, Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, dan Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di Purwokerto)
