Di tengah sorotan media global seperti CNN dan CNBC, Kodak kembali menjadi perbincangan hangat setelah laporan pendapatannya memunculkan kekhawatiran serius di kalangan investor. Dalam laporan tersebut, perusahaan menyatakan tidak memiliki “komitmen pembiayaan atau likuiditas yang tersedia” untuk memenuhi kewajiban utang yang jatuh tempo dalam 12 bulan ke depan.
Dikutip dari Techcrunch, Jumat (15/8/2025), pernyataan ini sontak memicu spekulasi tentang potensi kebangkrutan, mengingat sejarah panjang Kodak yang pernah mengalami masa kelam serupa pada tahun 2012.
Namun, Kodak dengan cepat merespons melalui siaran pers resmi yang membantah anggapan tersebut. Perusahaan menegaskan bahwa mereka tidak memiliki rencana untuk menghentikan operasi atau mengajukan perlindungan kebangkrutan.
Sebaliknya, Kodak menyampaikan strategi keuangan yang lebih optimis: mereka berencana untuk membayar, memperpanjang, atau membiayai kembali utang sebelum jatuh tempo, dengan harapan memiliki neraca keuangan yang lebih sehat pada awal tahun mendatang.
Hal ini menjadi titik balik penting dalam narasi publik yang sempat pesimistis terhadap masa depan perusahaan.
Sebagai bagian dari strategi pemulihan, Kodak mengungkapkan bahwa mereka akan memanfaatkan dana tunai sebesar $300 juta yang diterima pada Desember 2025 dari penghentian program pensiun. Dana ini akan digunakan untuk melunasi sebagian besar utang berjangka senilai $477 juta.
Sisanya, sebesar $177 juta, akan dilunasi secara bertahap, termasuk $100 juta saham preferen yang masih beredar. Langkah ini menunjukkan komitmen Kodak untuk memperkuat posisi keuangan dan menghindari skenario terburuk yang sempat dibayangkan oleh pasar.
Meski klarifikasi telah diberikan, tantangan Kodak tidak berhenti pada urusan utang semata. Perusahaan berusia 133 tahun ini telah lama bergulat dengan transisi teknologi, di mana dominasi digital secara perlahan menggeser kejayaan film analog yang dulu menjadi tulang punggung bisnis mereka.
Seperti diketahui, Kodak pernah menjadi ikon fotografi global, namun harus beradaptasi dengan cepat di tengah perubahan perilaku konsumen dan inovasi teknologi yang terus berkembang.
Menariknya, dalam beberapa tahun terakhir, muncul tren baru yang memberi angin segar bagi Kodak. Generasi Z, yang tumbuh di era digital, mulai menunjukkan ketertarikan terhadap teknologi lama sebagai bentuk nostalgia akan masa lalu yang belum pernah mereka alami.
Kamera saku, film analog, dan bahkan ponsel pintar dengan fitur retro kembali diminati sebagai simbol estetika dan ekspresi diri. Fenomena ini membuka peluang baru bagi Kodak untuk meredefinisi peran mereka di pasar modern, bukan hanya sebagai perusahaan fotografi, tetapi sebagai brand yang menghubungkan masa lalu dan masa kini.
Kodak kini berada di persimpangan penting: antara bayang-bayang utang dan peluang kebangkitan. Dengan strategi finansial yang lebih terstruktur dan tren konsumen yang mulai berpihak, perusahaan ini berpotensi menulis babak baru dalam sejarahnya.
Apakah Kodak akan berhasil mengubah tantangan menjadi momentum? Waktu akan menjawab, namun satu hal yang pasti ikon lama ini belum selesai bercerita.
