Di balik kemajuan pesat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dunia, ada sosok peneliti asal Indonesia yang turut berkontribusi langsung di jantung pengembangan teknologi tersebut.
Dia adalah Adhiguna Kuncoro, satu-satunya peneliti Indonesia yang bergabung di DeepMind, pusat riset AI terkemuka yang bermarkas di London.
Kehadirannya di DeepMind tidak hanya membanggakan, tetapi juga membawa misi besar yaitu memastikan bahwa teknologi AI tidak hanya menjadi konsumsi negara maju, melainkan juga memberi manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia.
Misi Membawa AI untuk Indonesia
Adhiguna percaya bahwa Indonesia bisa ikut merasakan dampak positif dari pemanfaatan AI, asalkan ada dorongan kolaborasi nyata, terutama lewat ilmuwan diaspora seperti dirinya.
Baca juga: Deretan Fitur Fotografi Baru Pixel 10 yang Wajib Kamu Coba
Dilansir dari BBC (20/08/25), Ia menekankan pentingnya menjembatani pengetahuan, teknologi, dan sumber daya global untuk menyelesaikan persoalan lokal yang selama ini menjadi tantangan besar.
Salah satu contoh konkret yang ia soroti adalah kekurangan tenaga pendidik di daerah pelosok. Menurut Adhiguna, jumlah guru di Indonesia masih terbatas, apalagi di wilayah terpencil yang sulit dijangkau. Kondisi ini membuat kualitas pendidikan tidak merata.
“Dengan AI, murid-murid bisa mendapat pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Misalnya, seorang siswa sudah mahir dalam perkalian, tetapi masih kesulitan dalam pembagian, maka AI dapat memberikan latihan khusus untuk mengatasi kelemahan itu,” jelas Adhiguna.
AI Sebagai Solusi Pendidikan di Daerah Terpencil
Visi Adhiguna tentang AI dalam pendidikan bukanlah mimpi kosong. Saat ini, teknologi AI sudah mampu menyediakan sistem pembelajaran adaptif yang bisa menyesuaikan materi dengan tingkat kemampuan masing-masing siswa.
Jika diterapkan di Indonesia, khususnya di pelosok, hal ini bisa menjadi terobosan besar untuk menutup kesenjangan pendidikan.
Bayangkan murid di daerah terpencil bisa mengakses materi pelajaran melalui perangkat sederhana, lalu mendapat bimbingan digital layaknya seorang tutor pribadi. AI bisa melacak perkembangan siswa, mengukur tingkat pemahaman, hingga merekomendasikan strategi belajar yang lebih efektif.
Baca juga: Pemerintah AS Kuasai 10% Saham Intel Demi Revitalisasi Industri Chip
Dengan begitu, keterbatasan jumlah guru tidak lagi menjadi penghalang besar bagi anak-anak di pelosok untuk mendapatkan pendidikan berkualitas.
Pemanfaatan AI di Bidang Kesehatan
Selain pendidikan, Adhiguna juga menyoroti potensi besar AI dalam bidang kesehatan. Ia mencontohkan bagaimana AI dapat membantu tenaga medis memberikan informasi lebih akurat ketika menangani pasien, khususnya di wilayah yang sulit dijangkau dokter spesialis.
“AI bisa menjadi asisten tenaga kesehatan dengan memberikan rekomendasi diagnosa awal atau membantu membaca hasil pemeriksaan medis. Hal ini sangat penting bagi daerah terpencil di mana akses ke layanan kesehatan masih terbatas,” ujarnya.
Teknologi semacam ini dapat menjadi penyelamat, karena membantu dokter atau perawat mengambil keputusan medis lebih cepat dan tepat. Misalnya, sistem AI bisa menganalisis gejala pasien lalu memberi kemungkinan diagnosa yang relevan, sehingga penanganan bisa dilakukan lebih dini.
Meski peluangnya besar, Adhiguna tidak menutup mata terhadap tantangan penerapan AI di Indonesia. Masalah infrastruktur digital, keterbatasan akses internet, serta minimnya pemahaman masyarakat tentang teknologi menjadi hambatan yang perlu segera diatasi.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya regulasi yang jelas agar penggunaan AI tidak disalahgunakan. Keamanan data, etika penggunaan, dan tanggung jawab sosial harus menjadi fondasi dalam setiap implementasi teknologi ini.
Namun, dengan semangat kolaborasi dan keterlibatan ilmuwan diaspora, Adhiguna optimistis Indonesia dapat mengejar ketertinggalan. AI bukan hanya tentang kecanggihan teknologi, tetapi juga tentang menciptakan solusi yang benar-benar relevan untuk masyarakat.
