Ketika Max Keenan bergabung dengan Y Combinator pada musim panas 2022, ia tidak menyangka bahwa perjalanannya sebagai founder akan berbelok tajam dari dunia salon rambut ke jantung sistem tanggap darurat Amerika.
Saat itu, Keenan tengah membangun Aurelian, sebuah startup yang mengotomatiskan pemesanan janji temu untuk salon. Namun, sebuah percakapan sederhana dengan kliennya membuka pintu menuju masalah yang jauh lebih kompleks dan lebih mendesak.
Dikutip dari Techcrunch, Jumat (29/8/2025), salah satu klien salon Aurelian mengeluhkan jalur carpool sekolah yang kerap menghalangi akses parkir bisnisnya. Ketika mencoba melaporkan masalah tersebut melalui nomor non-darurat kota, ia harus menunggu hingga 45 menit sebelum akhirnya terhubung dengan operator.
Frustrasi itu berujung pada satu pertanyaan yang mengubah segalanya: “Max, kamu mau bantu saya?” Dari sana, Keenan mulai menyelami cara kerja pusat panggilan non-darurat kota dan menemukan fakta mengejutkan banyak panggilan non-darurat ternyata ditangani oleh operator yang sama dengan panggilan 911.
Melihat celah yang begitu besar dalam sistem layanan publik, Aurelian pun bertransformasi. Startup ini beralih dari layanan salon ke pengembangan asisten suara berbasis AI yang dirancang khusus untuk membantu pusat panggilan 911 memilah dan menangani panggilan non-darurat.
Pada Agustus 2025, Aurelian mengumumkan telah meraih pendanaan Seri A senilai $14 juta yang dipimpin oleh NEA, sebuah langkah besar yang memperkuat komitmen mereka dalam mendukung sektor keselamatan publik.
Asisten suara AI milik Aurelian dirancang untuk menangani keluhan yang tidak memerlukan respons langsung, seperti laporan kebisingan, pelanggaran parkir, atau kehilangan barang. Sistem ini mampu mengidentifikasi apakah sebuah panggilan merupakan keadaan darurat yang sebenarnya, dan jika ya, langsung meneruskannya ke operator manusia.
Dalam kasus lain, AI akan mengumpulkan informasi penting, menyusun laporan, dan mengirimkannya ke pihak berwenang untuk ditindaklanjuti tanpa membebani operator 911 yang sudah bekerja di bawah tekanan tinggi.
Sejak peluncuran resminya pada Mei 2024, Aurelian telah digunakan di lebih dari selusin pusat komunikasi darurat di Amerika Serikat, termasuk Snohomish County di Washington, Chattanooga di Tennessee, dan Kalamazoo di Michigan. Keberhasilan ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal relevansi sosial.
Pusat panggilan darurat menghadapi krisis tenaga kerja yang serius, dengan tingkat pergantian staf yang tinggi dan jam kerja yang ekstrem. Banyak operator harus bekerja 12 hingga 16 jam sehari, membuat burnout menjadi ancaman nyata.
Keenan menyadari bahwa solusi yang ditawarkan Aurelian bukan sekadar efisiensi, tetapi juga empati.
“Kami ingin para operator ini punya waktu untuk istirahat, bahkan untuk sekadar pergi ke toilet,” ujarnya.
Visi ini mendapat dukungan penuh dari NEA. Mitra NEA, Mustafa Neemuchwala, menyatakan bahwa Aurelian tidak menggantikan manusia, melainkan mengisi kekosongan tenaga kerja yang selama ini tidak bisa dipenuhi.
“Yang digantikan adalah orang yang ingin mereka pekerjakan tetapi tidak bisa,” katanya.
Meski bukan satu-satunya pemain di sektor ini Hyper dan Prepared juga mengembangkan solusi AI untuk panggilan non-darurat Aurelian percaya bahwa mereka memiliki keunggulan nyata.
Menurut Neemuchwala, Aurelian adalah satu-satunya startup yang benar-benar aktif menangani ribuan panggilan nyata setiap hari, bukan sekadar uji coba atau simulasi. Dengan sistem yang telah terbukti di lapangan, Aurelian kini menjadi pionir dalam membentuk masa depan layanan tanggap darurat yang lebih cerdas dan manusiawi.
Di tengah tantangan global dalam sektor layanan publik, Aurelian menunjukkan bahwa inovasi teknologi bisa menjadi solusi konkret. Bukan hanya mempercepat respons, tetapi juga mengurangi beban kerja, meningkatkan efisiensi, dan yang terpenting menjaga kualitas hidup para pekerja di garis depan.
Dari salon rambut ke pusat 911, perjalanan Aurelian adalah bukti bahwa empati dan teknologi bisa berjalan beriringan.
