Thobib Al Asyhar (Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik, Dosen SKSG Universitas Indonesia)
Musuh terbesar manusia bukanlah orang lain. Musuh itu ada di dalam dirinya sendiri. Pepatah berkata, seribu teman terasa kurang, satu musuh terlalu banyak. Dan sering kali, musuh yang satu itu justru diri kita sendiri.
Sejarah mencatat banyak pemimpin besar yang akhirnya hancur. Bukan karena lawan politiknya. Bukan pula karena musuh dari luar. Tetapi karena gagal mengendalikan diri.
Ambil contoh Napoleon Bonaparte, penguasa besar Prancis abad ke-19. Jenius dalam strategi militer. Berhasil membangun kekaisaran Eropa dengan tangan dinginnya. Namun, ambisi yang tak terkendali membuatnya runtuh.
Merasa tak terkalahkan, Napoleon menyerang Rusia pada 1812. Keputusan itu menjadi bencana. Kekalahan telak mengubah arah sejarah. Andai dia mampu menahan ambisinya, mungkin Eropa akan lama berada di bawah kekuasaannya.
Kisah serupa terjadi pada Adolf Hitler. Pemimpin karismatik, berhasil membangkitkan semangat Jerman pasca Perang Dunia I. Bahkan mampu menggerakkan ekonomi yang sempat runtuh. Padahal, ia bukan siapa-siapa sebelumnya. Seorang pelukis jalanan gagal. Hidup di pinggiran.
Namun, saat berada di puncak kuasa, Hitler jatuh pada godaan ambisi. Obsesi ras superior. Hasrat menguasai dunia. Semua mendorongnya ke perang besar yang justru menghancurkan bangsanya sendiri. Ia pun memilih mengakhiri hidup dengan tragis.
Sejarah Islam pun menyimpan kisah yang sama. Khalifah Yazid bin Muawiyah misalnya. Ia berhasil melanjutkan kekuasaan Dinasti Umayyah, menjaga stabilitas pemerintahan. Tetapi, namanya tercoreng karena tragedi Karbala dan al-Harrah. Kekerasan yang dipilihnya menjadi tanda kegagalan mengendalikan ego.
Al-Walid II, cucu Hisyam bin Abdul Malik, juga mengalami hal serupa. Ia menghadirkan seni dan kemewahan ke istana Umayyah. Namun, tenggelam dalam foya-foya dan syahwat, ia dibenci rakyat dan bangsawan. Akhir hidupnya ditutup dengan kudeta berdarah.
Sultan Muhammad II al-Mu’tamid di Sevilla juga demikian. Pecinta sastra, pelindung seni, menjadikan Sevilla pusat kebudayaan. Tetapi, ia terlalu larut dalam kemewahan. Kerajaannya rapuh. Sevilla jatuh ke tangan Almoravid. Sang sultan wafat dalam pengasingan.
Polanya sama. Awalnya besar. Disegani. Membawa kemajuan. Tapi ketika ego menguasai, ambisi meluap, atau nafsu berkuasa tak terkendali, semua runtuh.
Dari sejarah ini, kita belajar. Kuasa bukan sekadar soal takhta. Kematangan pemimpin ditentukan oleh kemampuannya mengendalikan diri. Tidak pamer kemewahan. Tidak flexing di depan publik. Tidak merasa lebih dari yang lain.
Karena alam punya caranya sendiri. Ia mencatat. Dan suatu saat, ia akan menagih. Wallahu a‘lam.
Thobib Al Asyhar (Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik, Dosen SKSG Universitas Indonesia)
