Merayakan Usia, Merawat Makna
Apa yang bisa kita rayakan dari usia ke-81 seorang penyair besar seperti Gus Mus? Barangkali bukan sekadar pertambahan umur, melainkan pendalaman makna hidup—yang terpantul dari tutur, laku, dan diamnya. Lahir 1944 di Rembang, pada 10 Agustus 2025, Dr. (H.C.) K.H. Ahmad Mustofa Bisri, yang akrab dipanggil Gus Mus, genap berusia 81 tahun. Di tengah kegaduhan zaman yang kerap kehilangan arah ruhani, kehadiran Gus Mus menjelma oase makna yang meredam dahaga spiritual umat.
Gus Mus bukan hanya seorang kiai, budayawan, dan intelektual; beliau adalah penyair yang menjadikan bahasa sebagai tangga menuju Yang Maha Lembut. Puisinya adalah doa yang menjelma bait, dan baitnya adalah cermin dari pengalaman ruhani yang dalam. Dalam khasanah sastra Indonesia modern, Gus Mus menempati ruang yang istimewa: ia menulis bukan untuk menggurui, melainkan untuk menemani. Puisinya tidak menunjuk arah dengan telunjuk, melainkan mengulurkan tangan dalam keheningan.
Dalam satu refleksi yang sering ia sampaikan, Gus Mus mengingatkan bahwa menulis adalah bagian dari ibadah. Puisi, bagi beliau, adalah ikhtiar meniru akhlak Nabi Muhammad SAW, yang membawa rahmat, bukan ancaman. Dalam suatu forum, beliau menyatakan: “Islam itu ajakan, bukan paksaan. Bukan perintah. Maka dakwah ya seharusnya seperti ajakan orang yang cinta” (dalam pidato penerimaan “Ma’arif Award”, 2018).
Ungkapan itu bukan sekadar kalimat manis seorang penyair, melainkan prinsip hidup yang meresap dalam karya-karyanya. Gus Mus menegaskan bahwa istilah “amar makruf nahi munkar” sering disalahpahami sebagai bentuk dominasi moral. Padahal, hakikat dakwah adalah mengajak dengan kelembutan, bukan mendikte dengan kekuasaan.
Dalam pidato Doktor Honoris Causa, Gus Mus pernah membandingkan kata “amar” dengan “dakwah”: Kalau ‘amar’, itu perintah. Terasa seperti memaksa. Tapi kalau ‘dakwah’, itu ajakan. Lebih halus. Seperti suami yang merayu istrinya yang dicintai (UIN Sunan Kalijaga, 30 Mei 2009).
Dari sinilah tampak bahwa bagi Gus Mus, sastra profetik bukan alat dakwah yang menyudutkan, tetapi pelukan yang merangkul. Ia tidak menggunakan sastra sebagai mimbar penghakiman, melainkan sebagai cermin cinta. Karya-karyanya adalah perwujudan dari “rahmatan lil ‘alamin” dalam bentuk paling halus: kata.
Sastra Gus Mus mengajak kita untuk kembali pada fitrah dakwah: menyentuh, bukan menaklukkan; mengasihi, bukan menakuti. Maka, jika banyak orang menulis untuk memerintah, Gus Mus menulis untuk mengajak—sebagaimana Nabi mengajak umatnya: dengan kelembutan, kesabaran, dan cinta.
Sastra sebagai Jalan Iman: Landasan Profetik Gus Mus
Dalam perjalanan kreatifnya, Gus Mus tidak pernah memisahkan antara iman dan keindahan. Ia meyakini bahwa sastra bukan sekadar alat ekspresi estetika, melainkan jalan menuju kesadaran ilahiah. Setiap bait puisinya merupakan ikhtiar batin untuk menyentuh makna terdalam kehidupan, yang ia temukan dari sumber hakiki: al-Qur’an dan teladan akhlak Nabi Muhammad SAW.
Dalam berbagai ceramah dan tulisan, Gus Mus menegaskan bahwa al-Qur’an bukan hanya kitab suci untuk dilafalkan, tetapi sumber kelembutan, kasih sayang, dan keindahan yang harus tercermin dalam hidup dan karya. Baginya, akhlak Nabi adalah bentuk puncak dari estetika spiritual, dan sastra hanya akan bernilai jika mengandung nur dari akhlak tersebut. Ia kerap merujuk pada firman Allah: “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Q.S. al-Qalam: 4).
Menurut Gus Mus, ayat ini tidak hanya menggambarkan keutamaan moral Nabi, melainkan menjadi dasar bagi siapa pun yang ingin menempuh jalan kenabian—jalan cinta, bukan kuasa; jalan lembut, bukan kasar. Inilah yang menjadi landasan etik dan estetik dalam sastra profetik ala Gus Mus: sastra yang menuntun, bukan menghakimi.
Dalam sebuah wawancara, ia mengungkapkan secara jujur dan rendah hati: Saya tidak pernah merasa sebagai penyair. Saya hanya kadang-kadang merasa perlu menyair untuk menertawakan diri saya sendiri, menertawakan kepalsuan saya, kemunafikan saya, kebodohan saya, dan kadang-kadang untuk menangisi dosa-dosa saya (lihat juga dalam, K.H. A. Mustofa Bisri, Wekwekwek Sajak-sajak Bumilangit, Surabaya: Risalah Gusti, 1996).
Pernyataan ini memperlihatkan bahwa Gus Mus menulis bukan dari ruang intelektual yang angkuh, melainkan dari ruang batin yang penuh pengakuan dan perenungan. Puisi baginya adalah zikir yang terbaca, dialog sunyi antara seorang hamba dan Tuhannya, antara jiwa manusia dan nuraninya sendiri.
Contoh kuat dari ini dapat dilihat dalam puisinya yang berjudul “Doa Rasulullah SAW” (Wekwekwek, 1996:73) :
Ya Allah ya Tuhanku
AmpunanMu lebih kuharapkan
daripada amalku
RahmatMu lebih luas
daripada dosaku
Ya Allah ya Tuhanku
Bila aku tak pantas
mencapai rahmatMu
RahmatMu pantas mencapaiku
Karena rahmatMu mencapai apa saja
Dan aku termasuk apa saja
Ya Arhamarrahimin!
1415 H
Dalam bait pendek ini, Gus Mus membangun spiritualitas yang bersahaja namun kuat. Doanya bukan untuk kemenangan, melainkan untuk kerendahan hati, untuk tetap ingat langit di tengah hiruk-pikuk dunia, dan untuk senantiasa berpihak pada yang terpinggirkan.
Konsep profetik dalam perpuisian Gus Mus tidak lepas dari pandangan tasawuf yang menempatkan puisi sebagai media tazkiyah (penyucian diri). Gus Mus menjadikan puisi sebagai jalan menuju ma’rifat, dengan keindahan dan kebenaran sebagai napas yang satu. “Puisi Gus Mus adalah pancaran kesadaran ruhani yang terus-menerus bersujud di hadapan realitas ilahiah. Ia tidak sedang menciptakan puisi untuk disanjung, melainkan sebagai jalan sunyi untuk menyucikan diri” (Wachid B.S., Dimensi Profetik dalam Puisi Gus Mus, Bandung: Nuansa, 2020).
Inilah yang membedakan Gus Mus dari banyak penyair lainnya. Ia tidak menggiring pembacanya untuk setuju atau berdebat, melainkan mengajak untuk merenung dan menyelami. Puisinya hadir bukan sebagai opini, tetapi sebagai pantulan nur yang lembut. Di tangan Gus Mus, kata-kata tidak menjadi alat kuasa, melainkan taman keheningan tempat manusia belajar mendekat kepada Yang Maha Lembut.
Mengajak, Bukan Memerintah: Etika Dakwah dalam Sastra
Dalam lanskap sastra religius, banyak penyair tergoda menjadi juru bicara kebenaran mutlak—menggunakan diksi yang otoritatif, bahkan menghakimi. Namun, Gus Mus menghadirkan pendekatan yang berbeda. Ia membedakan secara tajam antara “amar” (perintah) dan “da’wah” (ajakan). Menurutnya, “amar” cenderung mengandung unsur pemaksaan, sementara “da’wah” lebih bersifat persuasif dan penuh kasih sayang. Pernyataan ini bukanlah permainan semantik, melainkan pijakan etis bagi dakwah yang lembut. Gus Mus tidak menjadikan puisi sebagai alat untuk mendikte, tetapi sebagai jalan untuk menyentuh nurani pembaca secara halus dan mendalam.
Dalam banyak puisinya, Gus Mus menolak pendekatan dakwah yang keras, menggurui, atau penuh klaim kebenaran sepihak. Ia mengambil teladan dari Nabi Muhammad SAW yang menyampaikan kebenaran dengan kelembutan, seperti ditegaskan dalam firman Allah: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekelilingmu” (Q.S. Ali Imran: 159).
Ayat ini menjadi roh dakwah Gus Mus. Ia tidak ingin puisinya menjadi tembok yang menjauhkan, tetapi menjadi pintu yang mengundang manusia masuk ke ruang kesadaran dan keinsafan. Ia menulis dalam puisinya “Kau Ini Bagaimana Atawa Aku Harus Bagaimana” (Ohoi, 1991:37):
Kau ini bagaimana?
Kau bilang aku merdeka
kau memilihkan untukku segalanya.
Kau suruh aku berpikir
Aku berpikir kau tuduh aku kapir.
Aku harus bagaimana?
Kau bilang bergeraklah
Aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah
Aku diam saja kau waspadai
…..
Puisi ini mencerminkan corak dakwah Gus Mus yang tidak membentak, melainkan bertanya dengan lirih. Justru karena lirih itulah, suaranya menggema lebih dalam. Ia tidak menyodorkan jawaban, tapi mengajak pembaca untuk berpikir dan merenung sendiri. Pendekatan ini merupakan bagian dari etika sufistik, yaitu dakwah dengan cara “mengajak tanpa menggurui, dan menyentuh tanpa menyakiti”. Estetika dakwah dalam puisi Gus Mus pun dilandasi oleh etika sufistik ini.
Dengan demikian, puisi Gus Mus tidak hadir sebagai propaganda, tetapi sebagai simfoni sunyi yang menyapa jiwa. Ia tidak menjadikan puisi sebagai medium kekuasaan, tetapi sebagai napas cinta yang membersihkan. Sebuah dakwah yang tidak berambisi menguasai ruang publik, tetapi ingin hadir secara spiritual di ruang batin pembacanya.
Dalam puisi Gus Mus, kita menemukan wajah Islam yang ramah, bukan marah. Sebuah wajah yang mengajak dengan senyum, bukan menunjuk dengan telunjuk. Itulah etika dakwah dalam sastra yang diwariskan Gus Mus—jalan sunyi yang justru paling terang.
Profetisme dan Kesadaran Kemanusiaan
Tak ada kesalehan sejati tanpa cinta kepada sesama. Kesadaran ketuhanan dan kesadaran kemanusiaan, sebagaimana ditegaskan Kuntowijoyo dalam Identitas Politik Umat Islam (2013), bukanlah dua kutub yang saling menegasikan, melainkan dua sisi dari satu substansi iman yang utuh. Ia menulis: “Kesadaran ketuhanan melahirkan kesadaran kemanusiaan, dan keduanya harus seimbang.”
Dalam terang pemikiran profetik itu, Gus Mus hadir sebagai salah satu teladan yang langka: seorang penyair yang tidak hanya menulis tentang Tuhan dan kemanusiaan, tetapi menghidupi nilai-nilai itu dalam laku sehari-hari. Bagi Gus Mus, profetisme bukan sekadar gagasan sastra atau jargon intelektual, melainkan cara mencintai—baik kepada Allah, maupun kepada manusia.
Puisi-puisi Gus Mus tidak berbicara keras, tidak menuding atau menghakimi. Ia lebih memilih menyentuh secara halus, membisikkan makna, dan membangunkan nurani. Menulis, baginya, adalah ibadah; sebuah amal ruhani yang tak harus dipertontonkan, tetapi cukup dijalani dalam keheningan batin. Dalam salah satu puisinya, “Kalau Kau Sibuk Kapan Kau Sempat” (Ohoi, 1991:22), ia menulis:
Kalau kau sibuk berteori saja
Kapan kau sempat menikmati mempraktekkan teori?
Kalau kau sibuk menikmati praktek teori saja
Kapan kau sempat memanfaatkannya?
…..
Puisi ini menunjukkan bahwa Gus Mus tidak sedang menegur atau merasa lebih suci, tetapi menyampaikan pilihan spiritualnya: memilih keheningan daripada keramaian yang riuh dengan debat. Ini adalah bentuk profetisme yang rendah hati—sebuah jalan sunyi yang penuh cahaya.
Pendekatan ini mencerminkan integrasi antara spiritualitas dan kemanusiaan yang tidak retoris, melainkan eksistensial. “Puisi Gus Mus adalah refleksi dari kesadaran profetik yang tidak menggurui, tetapi menyadarkan; tidak menghakimi, tetapi mengasihi” (Wachid B.S., Ibid.).
Kesadaran profetik inilah yang menjadikan sastra Gus Mus tampil bukan sebagai monumen artistik belaka, melainkan sebagai dzikir dalam bentuk kata—mengalir dari pengalaman batin menuju ruang publik yang haus keteduhan. Ia tidak menjadikan puisi sebagai senjata ideologis, tetapi sebagai taman sunyi tempat manusia boleh beristirahat sejenak, menundukkan ego, dan mengingat Tuhan.
Dalam banyak ceramah dan tulisannya, Gus Mus menekankan bahwa agama bukan alat untuk meninggikan diri, tetapi jalan untuk merendahkan hati. Ia menolak pemakaian agama sebagai alat klaim kebenaran yang eksklusif. Sikap ini terlihat jelas dalam puisinya yang rendah hati namun mendalam, yang justru lebih mampu menggerakkan kesadaran kemanusiaan ketimbang doktrin-doktrin yang kaku.
Di tengah dunia yang gaduh oleh ujaran kebencian dan arogansi moral, Gus Mus hadir sebagai penyejuk. Puisinya adalah ruang kontemplatif, tempat kata-kata kembali kepada fungsinya yang mulia: menghidupkan hati. Maka tidak berlebihan bila kita mengatakan bahwa puisi Gus Mus adalah bentuk dakwah yang paling halus: ia tidak menyeru dari mimbar tinggi, tetapi menyapa dari dalam jiwa.
Dengan demikian, profetisme Gus Mus bukan slogan yang berjarak dari realitas, tetapi napas yang menyatu dengan laku hidup: antara iman dan kemanusiaan, antara keindahan dan keinsafan. Ia tidak memisahkan langit dan bumi, sebab baginya, mencintai manusia adalah salah satu cara terbaik untuk mendekat kepada Tuhan.
Sastra Profetik di Tengah Dunia yang Lelah
Di tengah dunia yang gaduh, lelah, dan kehilangan makna, sastra profetik hadir bagaikan embun subuh yang menyejukkan luka-luka batin manusia modern. Dunia yang dikepung oleh materialisme, dikaburkan oleh layar-layar digital, dan dilanda kekeringan ruhani, membutuhkan suara yang tidak berteriak, melainkan membisikkan keinsafan. Di sinilah puisi-puisi Gus Mus menemukan relevansinya. Sastra, dalam pandangannya, bukanlah alat kuasa atau propaganda moral, melainkan wajah cinta yang mengajak manusia kembali kepada fitrahnya—kepada kedalaman spiritual yang lembut dan membebaskan.
Profetisme Gus Mus bukan sekadar strategi estetik, melainkan jalan hidup. Ia tidak hanya menulis sajak, tetapi membangun jembatan antara batin manusia dan nilai-nilai kenabian. Dalam kesaksian puisinya, Gus Mus membaca keresahan zaman dan meresponsnya bukan dengan perintah, melainkan ajakan; bukan dengan kemarahan, melainkan pelukan. Ia tahu bahwa manusia modern tengah letih—diburu waktu, disesatkan algoritma, dan tercerabut dari kedalaman dirinya sendiri. Maka, puisi bagi Gus Mus bukan semata ekspresi, tetapi “ziarah batin” yang mengantar manusia pulang ke dalam dirinya, dan kembali kepada Tuhannya.
Refleksi ini sejalan dengan renungan D. Zawawi Imron dalam bukunya Sate Rohani dari Madura (2023), yang menegaskan bahwa sastra profetik adalah jalan sunyi menuju Allah melalui keteladanan Nabi. Ia menulis: “Meniru Nabi Muhammad SAW adalah cara paling benar dalam mengabdi.”
Dalam pengertian ini, Gus Mus menapaki jalan profetik bukan dengan meniru bentuk lahir kenabian, melainkan meneladani ruhnya: kelembutan, kasih sayang, dan kejujuran batin. Dalam puisi pendeknya “Ya Rasulullah”, Gus Mus menulis:
Ya Rasulallah aku ingin seperti santri berbaju putih
yang tiba-tiba datang menghadapmu
duduk menyentuhkan kedua lututnya pada lutut agungmu
dan meletakkan telapak tangannya di atas paha-paha muliamu
lalu aku akan bertanya
Ya Rasulallah tentang islamku?
ya Rasulallah tentang imanku?
ya Rasulallah tentang ihsanku?
…..
(NU Online, Ahad, 22 Oktober 2022): https://nu.or.id/nasional/puisi-kerinduan-gus-mus-pada-nabi-muhammad-Ghljc
Dalam dunia yang dikuasai kecepatan, visual, dan kapital, puisi Gus Mus adalah “rem spiritual” yang menghentikan kita sejenak untuk merenung. Ia mengajak pembaca menunduk, bukan untuk menyerah pada nasib, tetapi untuk menyadari bahwa kebenaran seringkali ditemukan dalam keheningan. Maka puisi Gus Mus menjadi ruang suci, ruang kontemplatif, tempat kita memulihkan diri dari luka-luka eksistensial yang nyaris tak terucapkan.
Ketika kita berbicara tentang sastra profetik dalam karya Gus Mus, yang kita bicarakan bukan hanya estetika yang sarat nilai-nilai ilahiah, tetapi juga keberanian untuk melawan dunia yang kehilangan arah tanpa mengangkat senjata. Gus Mus tidak menolak dunia, tetapi juga tidak tunduk kepadanya. Ia menawarkannya kembali dalam bentuk baru: dunia yang disentuh oleh cinta, dibasuh oleh nurani, dan disinari oleh rahmat.
Inilah yang bisa kita sebut sebagai sastra kasih, bukan sastra kuasa. Sastra yang merawat, bukan menyerang. Sastra yang membangunkan, bukan menggurui. Dan mungkin, di usia ke-81 Gus Mus tahun ini, inilah “harta pusaka” paling bermakna: puisi yang memeluk jiwa manusia—dalam keheningan, dalam kelembutan, dan dalam cinta.
Warisan Profetik untuk Umat dan Bangsa
Usia hanyalah angka. Namun pada sebagian manusia pilihan, usia menjadi penanda kedewasaan ruhani dan kedalaman hikmah. Di usia ke-81 tahun ini, Dr. (H.C.) K.H. Ahmad Mustofa Bisri, atau yang lebih akrab disapa Gus Mus, bukan hanya tampak sebagai ulama kharismatik atau penyair senior, tetapi sebagai teladan hidup bagaimana agama dan sastra berpadu menjadi jalan kasih.
Gus Mus, dalam diamnya yang bersahaja, terus mengajarkan bahwa agama sejatinya bukan untuk menakuti, melainkan menenangkan. Ajarannya tidak meledak-ledak di mimbar, tetapi meresap melalui bait puisi dan petuah bijak yang disampaikan dengan nada rendah hati. Di dunia yang sering menjadikan agama sebagai alat menghakimi, Gus Mus justru menjadikan iman sebagai ruang teduh untuk merangkul.
Sastra Gus Mus, dalam kerangka itu, menjadi warisan profetik—yakni warisan spiritual yang mengajak, bukan memerintah; yang memeluk, bukan mendorong; yang menyapa nurani, bukan menyakiti logika. Dalam karya dan laku hidupnya, Gus Mus telah menjelmakan sastra sebagai ibadah, bukan sekadar ekspresi estetis atau panggung identitas.
Sebagaimana yang pernah ia bagikan melalui akun Twitter pribadinya (Senin, 23 Januari 2017), Gus Mus menulis puisi berjudul,
Dzikir
dzikir
setiap saat
setiap mengingatmu
aku menyebutmu
setiap saat
setiap menyebutmu
aku mengingatmu
setiap saat
(2017)
(NU Online, Kamis, 26 Januari 2027): nu.or.id/puisi/puisi-gus-mus-dzikir-uFwWq
Puisi pendek ini mencerminkan intisari laku kepenulisan Gus Mus—sebuah dzikir estetis yang senantiasa menghidupkan hati. Ia tidak membentak, tidak membujuk, melainkan mengajak manusia kembali kepada keheningan batin, kepada sikap mengingat dalam menyebut, dan menyebut dalam mengingat.
“Kesadaran ketuhanan melahirkan kesadaran kemanusiaan, dan keduanya harus seimbang”. Maka dalam Gus Mus, kita melihat bagaimana iman dan kemanusiaan bukan dua kutub yang saling menegasikan, melainkan dua cahaya yang saling menguatkan.
Kini, di titik usia yang penuh berkah ini, Gus Mus telah mewariskan kepada kita cara pandang yang jernih dan jalan hidup yang lembut, sebuah profetisme sunyi yang menyentuh akal dan hati. Ia tidak meninggalkan kita dengan jargon, melainkan dengan keteladanan; tidak dengan ambisi politik, melainkan dengan cahaya spiritual yang terus hidup dalam kata dan sikapnya. Seperti yang pernah dituliskannya dalam refleksi penuh cinta: “Mari menulis seperti mencintai. Mengajak seperti Nabi. Dan membaca seperti mendekat kepada Tuhan” (“Ma’arif Award”, 2018).
Dan begitulah Gus Mus: mengajak kita menulis dengan cinta, berbicara dengan kasih, dan hidup dengan hikmah. Karena sejatinya, umat dan bangsa ini tak sedang kekurangan suara—melainkan kekurangan kelembutan yang mencerahkan. Dalam keteduhan sastra Gus Mus, kita menemukan secercah cahaya itu.***
Abdul Wachid B.S. (Penulis adalah penyair, Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di Purwokerto)
