Intel, raksasa semikonduktor global, tengah menjalani transformasi besar-besaran sejak Lip-Bu Tan resmi menjabat sebagai CEO pada Maret lalu. Di bawah kepemimpinan barunya, perusahaan ini tidak hanya merombak struktur eksekutif, tetapi juga memperkuat fondasi teknologinya untuk menghadapi tantangan industri yang semakin kompetitif.
Langkah-langkah strategis ini menandai babak baru dalam perjalanan Intel menuju inovasi yang lebih agresif dan kolaboratif. Salah satu perubahan paling mencolok adalah pengunduran diri Michelle Johnston Holthaus, sosok yang telah mengabdi lebih dari tiga dekade di Intel dan terakhir menjabat sebagai CEO produk.
Meski meninggalkan posisi eksekutifnya, Johnston Holthaus akan tetap berperan sebagai penasihat strategis, memastikan transisi berjalan mulus dan visi jangka panjang perusahaan tetap terjaga. Kepergiannya menjadi simbol dari pergeseran generasi kepemimpinan yang kini dipimpin oleh figur-figur baru dengan latar belakang teknis dan industri yang kuat.
Berdasarkan informasi dari Techcrunch, Rabu (10/9/2025), Intel juga mengumumkan pembentukan Central Engineering Group, sebuah unit teknik pusat yang akan fokus membangun bisnis silikon khusus untuk pelanggan eksternal. Grup ini dipimpin oleh Srinivasan “Srini” Iyengar, yang bergabung dari Cadence Design Systems pada Juli lalu.
Penunjukan Srini mencerminkan komitmen Intel untuk menyelaraskan inovasi dan eksekusi secara lebih erat, terutama dalam menghadirkan solusi chip yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar global.
Tak berhenti di situ, Intel juga merekrut Kevork Kechichian, mantan CEO ARM, sebagai kepala grup pusat data. Sementara itu, Jim Johnson ditunjuk sebagai wakil presiden senior dan manajer umum grup komputasi klien, memperkuat lini produk yang menjadi tulang punggung Intel selama bertahun-tahun.
Naga Chandrasekaran, yang sebelumnya memimpin teknologi dan operasional di Intel Foundry, kini mengambil peran lebih besar dalam mendorong unit bisnis pengecoran chip untuk pelanggan eksternal.
Dalam siaran pers resmi, Lip-Bu Tan menegaskan bahwa restrukturisasi ini bukan sekadar pergantian nama dan jabatan, tetapi bagian dari strategi menyeluruh untuk mempercepat inovasi dan eksekusi.
Tan menyebut Srini, Kevork, dan Jim sebagai pemimpin dengan ketajaman teknis dan jaringan industri yang luas, yang akan memainkan peran penting dalam membentuk masa depan Intel. Fokus utama perusahaan kini adalah menghadirkan produk kelas dunia dan memberdayakan tim teknik untuk bergerak lebih cepat dan lebih presisi.
Perubahan ini terjadi di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi yang semakin kompleks. Beberapa minggu sebelumnya, pemerintah Amerika Serikat mengumumkan rencana untuk mengonversi hibah pemerintah menjadi 10% saham Intel, sebagai bentuk pengawasan terhadap kepemilikan unit pengecoran chip.
Jika Intel menurunkan kepemilikan di bawah 50%, sanksi akan diberlakukan. Langkah ini menunjukkan betapa pentingnya posisi Intel dalam ekosistem teknologi nasional dan global.
Restrukturisasi yang dilakukan Intel sepanjang tahun ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya bereaksi terhadap tekanan eksternal, tetapi juga secara proaktif membentuk ulang strategi internalnya.
Pengangkatan Lip-Bu Tan sebagai CEO pada Maret lalu menjadi titik awal dari gelombang perubahan ini. Pada Juli, Intel juga merekrut empat eksekutif baru di bidang penjualan dan teknik, termasuk Greg Ernst sebagai Chief Revenue Officer, memperkuat tim yang akan mendorong pertumbuhan pendapatan dan penetrasi pasar.
Dengan kombinasi kepemimpinan baru, fokus pada bisnis silikon khusus, dan dorongan untuk mempercepat inovasi, Intel kini berada di jalur yang lebih agresif untuk merebut kembali posisi dominan di industri semikonduktor global.
Transformasi ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang membangun budaya perusahaan yang lebih adaptif, kolaboratif, dan siap menghadapi masa depan yang terus berubah.
