Intel, salah satu raksasa teknologi Amerika Serikat, tengah menghadapi tantangan serius dalam memenuhi ekspektasi para pemegang sahamnya. Di tengah tekanan pasar dan penurunan performa keuangan, muncul kabar mengejutkan bahwa pemerintah AS sedang mempertimbangkan langkah strategis untuk mengambil alih sebagian kepemilikan perusahaan pembuat chip tersebut.
Dikutip dari Engadget, Selasa (19/8/2025), menurut laporan eksklusif dari Bloomberg dan The New York Times, pemerintahan Donald Trump berencana mengakuisisi hingga 10 persen saham Intel sebagai bagian dari inisiatif besar untuk memperkuat produksi semikonduktor dalam negeri.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari strategi nasional untuk mengurangi ketergantungan pada rantai pasok global, khususnya dari Asia, dan memperkuat posisi Amerika Serikat dalam industri chip yang semakin krusial.
Pemerintah dilaporkan sedang meninjau kemungkinan mengubah hibah federal senilai $10,86 miliar yang sebelumnya diberikan kepada Intel melalui Undang-Undang Chip dan Sains menjadi bentuk ekuitas. Meski keputusan final belum ditetapkan, Gedung Putih dikabarkan sedang menimbang besaran saham yang akan diambil sebagai bagian dari restrukturisasi strategis.
Intel sendiri telah mengumumkan rencana pembangunan fasilitas semikonduktor besar-besaran di Ohio sejak tahun 2022, saat Pat Gelsinger masih menjabat sebagai CEO. Namun, proyek ambisius tersebut mengalami sejumlah penundaan signifikan.
Dalam laporan pendapatan kuartalan terbaru, manajemen Intel menyatakan akan memperlambat laju pembangunan fasilitas tersebut, membatalkan beberapa ekspansi internasional, dan melakukan pemangkasan tenaga kerja sebagai bagian dari efisiensi operasional.
Potensi akuisisi oleh pemerintah AS menandai perubahan besar dalam hubungan antara Intel dan otoritas federal. Hanya beberapa waktu lalu, Presiden Donald Trump sempat menyerukan pengunduran diri salah satu eksekutif Intel karena dugaan keterkaitan dengan Tiongkok.
Namun, pertemuan terbaru antara Trump dan CEO Intel saat ini, Lip-Bu Tan, menunjukkan adanya pergeseran sikap yang lebih positif terhadap kepemimpinan perusahaan tersebut.
Dalam pernyataan resmi kepada kantor berita Bloomberg, juru bicara Intel menegaskan bahwa perusahaan tetap berkomitmen penuh untuk mendukung visi Presiden Donald Trump dalam memperkuat kepemimpinan teknologi dan manufaktur nasional.
Meski enggan mengomentari spekulasi yang beredar, Intel menyatakan siap melanjutkan kerjasama strategis dengan pemerintah untuk mendorong prioritas bersama di sektor teknologi tinggi.
Jika rencana akuisisi ini terealisasi, maka Intel akan menjadi salah satu perusahaan teknologi besar pertama yang dimiliki sebagian oleh pemerintah AS dalam konteks modern. Hal ini berpotensi membuka babak baru dalam hubungan antara sektor publik dan swasta, serta memperkuat posisi Amerika Serikat sebagai pusat inovasi semikonduktor global.
Di tengah persaingan geopolitik dan perlombaan teknologi, keputusan ini bisa menjadi titik balik penting bagi masa depan industri chip nasional. Pasalnya, para produsen chip kebanyakan datang dari Cina.
Ke depan, industri chipset bakal semakin menarik dengan bergabungnya Amerika Serikat dan para produsen kendaraan serta smartphone akan banyak pilihan.
