Di tengah arus perubahan teknologi yang semakin cepat dan dinamis, pengembangan sumber daya manusia (SDM) berbasis digital menjadi kunci utama dalam membentuk tenaga kerja yang adaptif, terampil, dan inovatif.
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin), menegaskan komitmennya untuk memperkuat penguasaan teknologi digital demi menciptakan generasi industri yang mampu bersaing di panggung global.
Langkah strategis ini terlihat nyata saat Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengunjungi Apple Developer Academy @BINUS Bali.
Dalam kunjungannya, Agus menyampaikan bahwa kehadiran akademi ini bukan sekadar fasilitas canggih berbalut arsitektur modern, melainkan simbol dari mimpi besar: menjadikan Indonesia sebagai pusat lahirnya talenta digital kelas dunia.
Akademi ini menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda yang ingin berkontribusi dalam ekosistem teknologi global, bukan hanya sebagai pengguna, tetapi sebagai pencipta.
Sejak pertama kali hadir di Indonesia pada tahun 2018, Apple Developer Academy telah mencetak lebih dari 2.000 alumni. Menariknya, hampir 90 persen dari mereka langsung terserap ke dunia kerja, mulai dari startup teknologi, industri keuangan, sektor kesehatan, hingga manufaktur. Ini membuktikan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis proyek nyata dan kolaboratif mampu menjawab kebutuhan industri digital yang terus berkembang.
Di sisi lain, pemerintah juga mencatat lonjakan signifikan dalam industri perangkat digital nasional. Melalui kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), produksi perangkat teknologi lokal meningkat drastis dari hanya 20 persen pada 2015 menjadi lebih dari 94 persen saat ini.
Indonesia kini memiliki 15 perusahaan produsen dan lima perusahaan EMS dengan kapasitas produksi mencapai 118 juta unit per tahun. Ini bukan sekadar angka, tapi bukti bahwa Indonesia mulai bertransformasi dari pasar konsumen menjadi pemain aktif dalam rantai pasok teknologi global.
“Pencapaian ini harus menjadi batu loncatan menuju fase berikutnya: menjadikan Indonesia sebagai pencipta solusi digital. Bukan hanya memproduksi perangkat keras, tetapi juga melahirkan aplikasi, layanan, dan inovasi berbasis ide-ide segar dari generasi muda. Di sinilah peran Apple Developer Academy menjadi sangat krusial sebagai inkubator talenta yang mampu menjawab tantangan nyata di lapangan,” jelas Menperin.
Program pembelajaran selama 10 bulan di akademi ini dirancang untuk lebih dari sekadar mengasah keterampilan teknis. Peserta diajak untuk berani mencoba, berani gagal, dan berani bangkit kembali.
Menurut Agus, kegagalan bukan akhir, melainkan awal dari inovasi yang lebih tajam. Semangat ini menjadi fondasi penting dalam membentuk mindset kreatif dan resilien yang dibutuhkan oleh para inovator masa depan.
Lebih jauh, Kemenperin juga membuka ruang kolaborasi antara lulusan akademi dengan kebutuhan industri, pemerintah, dan masyarakat. Ini adalah bentuk sinergi antara pendidikan, industri, dan kebijakan publik yang saling memperkuat.
Ke depan, kolaborasi antara Apple dan pemerintah Indonesia akan diperluas secara masif. Rencana besar ini mencakup pembukaan lima Developer Academy baru di berbagai wilayah, pendirian Apple Innovation and Software Technology Institute, Apple Professional Developers Institute, hingga pusat riset dan pengembangan (R&D) perangkat lunak Apple di Indonesia.
Agus menutup dengan optimisme tinggi bahwa generasi muda Indonesia akan menjadi motor utama dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Transformasi digital bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kualitas hidup, dan membangun bangsa yang mandiri secara teknologi.
“Saya percaya, para peserta Apple Developer Academy adalah calon pemimpin inovasi yang akan membawa Indonesia ke level yang lebih tinggi bukan hanya sebagai konsumen atau produsen, tetapi sebagai pemain utama dalam ekosistem digital dunia,” tutup Agus.
