Drs. H. Abdurrosyad Sholeh, salah seorang senior Kementerian Agama yang pernah menjabat Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Urusan Haji pada dekade 1990-an wafat Rabu 30 Juli 2025 di Yogyakarta dalam usia 85 tahun.
Tokoh birokrat dan aktivis kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur, 27 Juli 1940 itu adalah putra dari pasangan K.H. A. Sholeh Hasyim dan H. Siti Mursyidah. Ia menamatkan Madrasah Ibtidaiyah (1953) dan PGAN (1957) di Bojonegoro. Kemudian, melanjutkan pendidikan di PHIN (Pendidikan Hakim Islam Negeri) Yogyakarta tamat tahun 1960. Sejak itu ia meniti karier sebagai pegawai negeri sipil Kementerian Agama mulai 1960 dalam berbagai tugas dan jabatan.
Dalam perjalanan karier yang panjang di lingkungan Kementerian Agama selama beberapa dekade, Rosyad Sholeh pernah bertugas pada Bidang Penerangan Agama Islam Kantor Wilayah Departemen Agama Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 1976. Pengalaman lapangan menempanya menjadi birokrat yang matang dan berpandangan luas.
Kemampuan manajerial yang baik mengantarkannya dipromosikan menjadi Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Gunung Kidul (1984) dan Kepala Bidang Perguruan Agama Islam. Pada tahun 1989 dilantik oleh Menteri Agama Munawir Sjadzali menjadi Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama D.I. Yogyakarta.
Rosyad Sholeh ditarik ke Jakarta menjadi Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Urusan Haji. Ia menjabat Sekretaris Ditjen Bimas Islam dan Urusan Haji di masa Dirjen Drs. H. Amidhan dan dilanjutkan Drs. H. Ahmad Ghozali. Saya menilpon mantan Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji Ahmad Ghozali, ingin mendengar apa kesan beliau tentang almarhum Rosyad Sholeh. Pak Ghozali mengenang dua hal pada sosok almarhum, yaitu integritas dan kejujurannya.
Dalam struktur organisasi dan tata kerja kementerian, Sekretaris Direktorat Jenderal mempunyai tugas pokok dan fungsi mengkoordinasikan pelaksanaan tugas dan pemberian dukungan administrasi kepada seluruh unit organisasi di lingkungan direktorat jenderal.
Semasa Ahmad Ghozali menjabat Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji, dibantu Sesditjen Abd Rosyad Sholeh, mengupayakan untuk menurunkan biaya haji yang harus disetor jemaah, dahulu ONH (Ongkos Naik Haji), namun tidak berhasil karena terlalu banyak rintangannya, meski kata Pak Ghozali, saat itu Presiden Soeharto mengangguk-angguk ketika menerima proposal usulan penurunan ONH terutama komponen biaya pesawat Garuda, dari Menteri Agama Tarmizi Taher didampingi Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji Ahmad Ghozali. Pak Ghozali kemudian dirotasi kembali menjabat Sekjen Kementerian Agama dan Pak Rosyad Sholeh setelah itu memasuki masa pensiun.
Di kalangan koleganya baik di birokrasi maupun di lingkungan organisasi, Rosyad Sholeh dikenal sebagai pribadi yang rendah hati, santun dan apa adanya. Rosyad Sholeh adalah profil seorang administratur yang tekun. Ia pimpinan birokrasi yang menguasai seluk-beluk organisasi dan manajemen secara detail. Seorang koleganya di Jogja mengenang almarhum bukan tipe orang yang suka tampil di depan. Meski begitu, kiprahnya terasa nyata. Ia seorang organisator yang rapi dan pendidik yang tekun. Ia menghindari popularitas, tetapi tidak pernah menolak amanah. Rosyad Sholeh penggerak yang diam. Ia bekerja dalam senyap, tapi tanpa dia roda organisasi tak akan berputar.
Setelah purnatugas dari Kementerian Agama, dalam pengabdian tanpa jeda, ia aktif secara totalitas di Muhammadiyah menunaikan amal kemasyarakatan. Rosyad Sholeh adalah salah satu pendiri awal IMM (Ikatan Muhasiswa Muhammadiyah) bersama Mohamad Djazman Al Kindi dan Sudibyo Markus. Ia terpilih sebagai Anggota PP Muhammadiyah sejak 1975 hingga tahun 2000, di masa kepemimpinan K.H. A.R. Fachruddin. Dalam beberapa periode kepengurusan Rosyad Sholeh dipercaya menjadi Sekretaris PP Muhammadiyah, Wakil Ketua PP Muhammadiyah, Wakil Pemimpin Umum Majalah Suara Muhammadiyah, dan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah (2005 – 2010). Sampai usia lanjut masih diminta sebagai konsultan ahli di lingkungan amal usaha ormas Islam yang berdiri tahun 1912 itu.
Dalam derap langkah pengabdiannya sebagai PNS, karier birokrasi dan pengabdian organisasi keumatan berjalan beriringan. Ia bekerja secara profesional dan tanpa konflik kepentingan.
Sebagai pejabat Kementerian Agama dengan pengalaman tugas bersentuhan dengan pembinaan umat, organisasi Islam dan lembaga dakwah, Rosyad Sholeh sempat menerbitkan buku berjudul Manajemen Dakwah Islam. Ia mendefinisikan dakwah adalah suatu proses aktivitas untuk mengubah suatu kondisi kepada kondisi lain yang lebih baik dan dilakukan secara sadar, sengaja dan berencana.
Dalam sebuah tulisannya, ia bahkan menjelaskan bahwa untuk menghadapi masalah-masalah dakwah yang berat dan meningkat, tidak mungkin dapat dilakukan secara individual atau sambil lalu saja. Dakwah harus diselenggarakan melalui pola kerja sama dalam kesatuan-kesatuan yang teratur dan rapi, dipersiapkan dan direncanakan secara matang serta menggunakan sistem kerja yang efektif dan efisien.
Pengabdian tanpa jeda almarhum Abdurrosyad Sholeh semasa hidupnya patut menjadi teladan bagi aparatur Kementerian Agama dan kader-kader umat di berbagai lingkaran pengabdian. Seperti dikutip dari IB Times, almarhum pernah menulis sebait kalimat puitis yang mempunyai makna mendalam: “Hati ini bukan buku, yang bila usai dibaca bisa langsung ditutup. Tapi kuyakini, ketika langkah sudah kuayunkan, harus mantap.”
Semoga almarhum memperoleh tempat terbaik di Jannatun Naim. Aamiin.
M. Fuad Nasar (Direktur Jaminan Produk Halal Kementerian Agama)
