Nina adalah seorang guru honorer yang selama puluhan tahun mengajar agama di salah satu SMP Negeri di Jakarta. Nina (bukan nama sebenarnya) bukanlah lulusan Perguruan Tinggi Keguruan, apalagi keagamaan. Karena ketersediaan guru agama yang mengajar di sekolah negeri sangat terbatas, mendorong Nina untuk berani mengajar Agama dengan sukarela. Hanya dengan semangat ingin melayani, walaupun pengetahuan agamanya kurang, dengan bekal kursus evangelisasi dan Kitab Suci, Nina memberanikan diri untuk mengajar Agama. Honor yang dia terima setiap bulan tidak cukup untuk biaya transpotnya, tapi tidak mengurangi semangat Nina tetap setia menjalankan tugasnya dengan baik.
Nina sebagai seorang guru agama berlatarbelakang Pendidikan Sarjana Ekonomi berusaha mengajar agama dengan baik. Ia dirindukan oleh siswanya, dan apa yang dinasehatkan oleh bu Nina diikuti oleh siswanya. Nina berusaha mengikuti Pendidikan Keagamaan untuk meningkatkan kapasistasnya sebagai seorang guru agama, sambil mengajar paroh waktu di sekolah sebagai Guru honorer. Dan Nina menyelesaikan studinya lulus dengan sangat memuaskan. Dan walaupun honor yang ia terima sangat jauh berbeda dari rekan-rekannya Guru Agama yang ASN (Rp. 600.000 berbanding Rp. 9.000.000), Nina tetap setia mengajar dengan sepenuh hati.
Sebagai seorang guru honorer, Nina tidak hanya mengajar Agama. Karena dedikasinya yang tinggi, Nina dipercaya oleh Kepala Sekolah mengajar pelajaran selain agama, seperti Prakarya/Keterampilan. Hal yang menarik dari pengalaman Nina adalah, setiap kelas yang anak-anaknya tergolong ‘nakal’, sering ribut di kelas, dan kelas itu dihindari oleh Guru-guru pada umumnya, justru kelas itu diserahkan untuk diajar oleh bu Nina. Dan Kepala Sekolah bersama Wakil Kepala Sekolah merasa kagum memperhatikan kelas yang diajar oleh bu Nina berubah menjadi kelas yang tenang, nyaman, anak-anak tidak ada yang ribut, dan mereka mengikuti pembelajaran dengan baik.
Nina selalu menyapa anak-anak dengan simpati, tulus dan penuh kasih sayang. Bahkan di luar kelas Ibu Nina selalu mendekati anak-anak, menyapa dan bertanya apakah mereka sudah serapan dari rumah ? Apakah sudah makan siang ? Dan Ibu Nina dengan penuh keibuan menyapa, dan dengan ringan tangan memberikan uang jajan kepada anak-anak jika belum serapan dari rumah atau yang belum makan siang.
Kepala Sekolah dan Guru-guru senior, merasa kagum dan bertanya kepada Ibu Nina; mengapa setiap kelas yang diajar oleh Bu Nina selalu berubah menjadi kelas yang kondusif, nyaman, anak-anak tenang mengikuti pembelajaran ? Apa yang bu Nina lakukan ? Tanya Kepala Sekolah. Bu Nina dengan tenang dan spontan menjawab: saya hanya mengajar mereka dengan Cinta, hati yang tulus, Ikhlas, jawab bu Nina.
Kurikulum Cinta
Pendidikan agama di sekolah seharusnya membawa kabar gembira, kabar suka cita bagi anak-anak. Tapi, dalam prakteknya Pendidikan Agama tidak jarang membosankan bagi anak-anak. Dan ironisnya, guru agama yang sejatinya mengajarkan cinta kasih tanpa sadar atau tidak, berubah mengajarkan kebencian atas nama agama terhadap agama atau kelompok yang berbeda dengannya. Peran guru menjadi sangat penting dan strategis untuk menanamkan cinta kasih sebagai inti dari setiap ajaran agama, sebab agama merupakan ekspresi cinta manusia kepada Allah sang pencipta.
Sistem pendidikan holistik-integral berbasis cinta dan ekoteologi yang menjadi Asta Protas Menteri Agama, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA., mendesak untuk dilaksanakan sejak anak usia dini, dan menjadi kunci mewujudkan generasi yang cerdas secara intelektual, kuat dalam moral-spiritual, dan peka secara sosial-ekologis. Pendidikan yang demikian mampu menjawab tantangan abad ke-21, seperti krisis lingkungan, ketimpangan sosial, serta degradasi solidaritas akibat perkembangan digital dan kecerdasan buatan. Pendekatan pendidikan berbasis neoroscience dan kognitif (dalam konteks Artificial Inteligent) tidak akan berhasil dengan baik tanpa menghasilkan elemen terdalam pendidikan yakni cinta. Cinta dalam proses pendidikan (pedagogik holistik) bukan sekedar perasaan melainkan sikap dasar dimana seorang guru harus mampu membangun ruang yang nyaman, empatik, dan manusiawi dalam proses belajar yang saling meneguhkan.
Cinta akan menumbuhkan rasa ingin tahu, keberanian untuk mencoba dan siap untuk gagal, dan menumbuhkan relasi antar manusia, melahirkan motivasi yang dapat meneguhkan arti dan makna pendidikan. Dalam konteks ini, seorang guru diharapkan dapat menjadikan proses pendidikan menjadi ruang pembebasan dan pemanusiaan, yang menanamkan kesadaran kritis, cinta kasih universal, dan tanggung jawab ekologis, peduli dan bijaksana dalam menjaga bumi serta memulihkan keutuhan martabat sesama.
Pertemuan antara Imam Besar Istiqlal, Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, dengan Paus Fransiskus merupakan perjumpaan (Encounter) yang dilandasi oleh cinta yang hendak menegaskan pentingnya dialog lintas iman dalam menghadapi tantangan dehumanisasi berupa konflik dan kekerasan. Dalam konteks Indonesia yang kaya akan keberagaman budaya, agama, aliran kepercayaan, serta keanekaragaman hayati, tantangan dehumanisasi dan kerusakan ekologis menjadi persoalan yang rumit dan kompleks, terutama jika tidak dikelola secara holistik dan integral. Kedua pemimpin besar ini sepakat bahwa pendidikan adalah sarana utama untuk membangun peradaban cinta kasih. Untuk mewujudkan harapan dan cita-cita ini, dibutuhkan peran Guru-guru yang dapat mendidik dengan cinta, mampu mendesain sebuah sistem pendidikan yang tepat, pendidikan yang mengutamakan cinta kasih. Kurikulum Berbasis Cinta hadir untuk menanamkan nilai kasih, empati, penghormatan terhadap martabat manusia, dan tanggung jawab bersama demi terciptanya dunia yang damai, adil, dan merdeka.
Bell Hooks, dalam bukunya, “Teaching to Transgress Education as the Practice of Education”, menyatakan bahwa cinta adalah kekuatan transformatif dalam pendidikan. Proses pendidikan yang berlangsung dalam relasi yang berlandaskan pada kepercyaan (trust), empati dan kasih antara guru dan siswa (sebagaimana yang dialami bu Nina) akan menumbuhkan proses pembelajaran yang memerdekakan. Pengalaman akan cinta menumbuhkan rasa aman untuk tidak selalu sukses, keberanian untuk bertanya, dan hasrat untuk tumbuh bersama dalam sebuah komunitas pembelajar.
Kurikulum yang menekankan cinta kasih dan persaudaraan menjadi hal yang dibutuhkan, karena Kurikulum Berbasis Cinta bertujuan membangun generasi yang mampu mencintai dirinya sendiri, sesama, alam semesta, dan Tuhan. Dengan demikian, pendidikan menjadi jalan nyata menuju kebebasan, kedamaian, keadilan, dan kehidupan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.
Kurikulum Berbasis Cinta merupakan respons strategis terhadap tantangan dehumanisasi serta kekosongan spiritual di era digital dan kecerdasan buatan perlu diterapkan sejak dini. Pendidikan harus kembali menempatkan cinta kasih yang bersumber dari Allah ada dalam hati manusia sebagai inti pembentukan manusia utuh yang berpikir kritis, berempati, dan bertindak penuh kasih.(bdk. DN. Art 15). Kurikulum Berbasis Cinta, menjadi bagian dari proyek besar membangun peradaban cinta sejak anak usia dini, di mana setiap proses belajar mengarah pada penghargaan terhadap sesama, alam semesta, dan pemuliaan Allah Sang Sumber Kasih. Dengan demikian, penguasaan ilmu pengetahuan secara mendalam (deep learning) melalui teknologi dan AI bukan menjadi ancaman, melainkan instrumen untuk menanamkan nilai-nilai cinta, rasa empati dalam setiap praktik pembelajaran yang digunakan secara bijak oleh seorang guru, khususnya dalam melayani kemanusiaan dan mewujudkan tatanan dunia yang lebih adil, damai, dan bermakna.
Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dalam pembelajaran di sekolah merupakan hal penting dalam membentuk generasi yang unggul secara intelektual, matang dalam aspek spiritual dan moral, serta berperilaku selaras dengan ajaran yang menekankan cinta kasih sebagai inti dari ajaran agama, dan kehidupan manusia. Kurikulum berbasis cinta di sekolah dapat secara efektif membentuk pribadi anak yang berbelarasa, peduli terhadap sesama dan alam, serta mampu memuliakan Allah dalam tindakan nyata mulai dari hal-hal sederhana sesuai perkembangan siswa membangun peradaban cinta kasih persaudaraan manusia semesta.
Cinta dalam Kurikulum Berbasis Cinta dipahami secara multidimensi, bukan sekadar emosi pribadi tetapi sebagai kekuatan transformatif dan moral dalam pendidikan. Filsuf Plato dan Aristoteles menekankan cinta sebagai jalan menuju kebaikan dan kebenaran tertinggi. Pemikir seperti Erich Fromm melihat cinta sebagai seni dan tindakan aktif yang mengandung unsur perhatian, tanggung jawab, rasa hormat, dan pengetahuan, serta sebagai kekuatan yang mengatasi keterasingan manusia dalam dunia modern. Filsafat Barat kontemporer (Fromm) dan Timur (Buddhisme, Taoisme) menekankan cinta sebagai seni hidup, welas asih, dan hubungan harmonis dengan seluruh makhluk hidup, yang menekankan kesadaran batin, kebajikan, dan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Ketiga perspektif ini menunjukkan bahwa cinta bukan sekadar emosi, tetapi kekuatan transformatif yang mendalam dan esensial dalam kehidupan umat manusia.
Dalam perspektif psikologi positif (Fredrickson) menjelaskan cinta sebagai hubungan positif yang mendukung kesejahteraan psikologis. Cinta dipandang sebagai kekuatan karakter yang mendorong individu untuk membangun hubungan yang penuh kasih, dan sebagai fondasi penting dalam pembentukan kebahagiaan, yang mendukung pertumbuhan pribadi dan hubungan sosial yang sehat. Teologi spiritual (Agustinus, Aquinas, Fransiskus dari Assisi, Paus Fransiskus) menempatkan cinta sebagai hubungan ilahi antara manusia dengan Tuhan dan sesama, serta dengan alam semesta. Ilia Delio menekankan bahwa cinta adalah energi evolusioner yang menjadi daya pengikat seluruh ciptaan dalam relasi dinamis menuju kepenuhan dalam Allah. Dengan demikian, cinta dalam agama dan kepercayaan adalah prinsip transendental yang mengarahkan manusia pada hubungan yang penuh welas asih, hormat, dan tanggung jawab terhadap sesama dan alam semesta.
Dalam filsafat pendidikan, cinta dipandang sebagai landasan etis dan spiritual yang esensial dalam hubungan antara guru dan anak, serta sebagai kekuatan transformatif dalam proses pembelajaran. Paulo Freire, menekankan bahwa pendidikan sejati harus dilandasi oleh cinta, karena hanya melalui cinta guru dapat mengajar dengan cinta, melihat potensi kemanusiaan dalam setiap anak dan membebaskan mereka dari penindasan struktural. Cinta dalam filsafat pendidikan adalah kekuatan relasional dan eksistensial yang memungkinkan proses pendidikan menjadi ruang pembentukan manusia yang utuh dan merdeka.
Mengajar dengan Cinta
Profesor Benyamin Bloom mengatakan bahwa siswa-siswi akan dapat belajar dengan baik jika gurunya tahu bagaimana caranya mengajar. Hasil pengamatan penulis pernah bertugas sebagai Pengawas Pendidikan Agama di DKI Jakarta, guru-guru yang notabene sudah mendapatkan kesejahteraan yang sangat baik; mendapatkan gaji sebagai guru PNS, menerima tunjangan profesi, dan mendapatkan tunjangan kinerja daerah (TKD) yang jumlahnya lebih dari cukup, tetapi belum memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan kualitas Pendidikan (Agama) di sekolah.
Dan masih ditemukan cukup banyak guru mengajar hanya sekedar melaksanakan tugas, minim pengabdian, pengetahuan keagamaan, miskin penguasaan model-model pembelajaran sehingga proses pembelajaran kurang menyenangkan bagi siswa. Ironisnya, masih ada guru agama mengajar bukan membawa kabar gembira, kabar suka cita bagi siswa tetapi mengajarkan kebencian kepada anak didiknya. Dalam konteks ini, pendidikan berbasis cinta kasih menjadi dasar kuat yang dapat menghubungkan spiritualitas, kebangsaan, dan kemanusiaan.
Teori-teori pedagogik, psikologi pendidikan, strategi dan model-model pembelajaran merupakan modal awal sebagai keterampilan bagi seorang guru dalam mengajar. Tetapi yang terutama diharapkan dari seorang guru adalah menempatkan siswa dalam pusat kegiatan proses pembelajaran, membangun sebuah relasi personal agar mampu mengajar (lah) dengan hati. Hanya proses belajar yang membawa kebahagiaan yang akan mengarahkan siswa agar mempunyai sikap yang positif terhadap pembelajaran, dan yang akan mengarahkan siswa untuk terus belajar sepanjang hayat.
Revolusi mental guru nyata dalam perubahan mindset guru dan kemampuannya untuk mengajar dengan cinta. Guru diharapkan dapat mengembangkan pendidikan yang memberdayakan hidup, menggairahkan siswa belajar dan membuat siswa semakin berbudaya dan bermartabat. Proses belajar-mengajar dengan cinta akan menumbuhkan proses pembelajaran yang dialogal dan terbuka dalam pergulatan hidup siswa dan guru dengan mengolah realitas kehidupan yang seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi siswa dalam menginternalisasikan nilai-nilai kehidupan sebagai kristalisasi proses belajar untuk menumbuhkan sikap dan karakter, disposisi batin siswa yang semakin berpengharapan dan bermartabat.
Kita memerlukan suatu revolusi dalam pendidikan dan merevitalisasi profesi guru sebagai sebuah panggilan membawa pulang anak-anak yang tersesat karena ulah para orang dewasa, orangtua dan guru (cura personalis). Guru bukan lagi pahlawan tanpa tanda jasa melainkan pahlawan yang berjasa karena dari tangan-tangan gurulah lahir pemimpin-pemimpin besar bangsa. Inilah yang melandasi Presiden Prabowo dalam kebijakan Pendidikannya memberikan perhatian serius terhadap peningkatan kesejahteraan dan kompetensi Guru.
Guru yang mangkus dapat melakukan revolusi dalam pengajaran. Salah satu cara belajar yang mangkus adalah dengan melakukan (learning to do) dimana siswa terlibat aktif dan proses pembelajaran berbasis aktivitas (tindakan). Pendidikan yang mangkus adalah tindakan, bukan studi. Studi hanyalah permulaan dari pendidikan. Maka peran guru sebagai role model menjadi sangat penting dalam pendidikan di sekolah. Parker J. Palmer, menegaskan bahwa, bahan pengajaran yang paling memiliki dampak terhadap kehidupan siswa adalah pribadi guru itu sendiri yang mengajar dengan cinta. Guru dipanggil untuk setia dan kembali ke asal panggilan hidupnya sebagai guru yang seharusnya digugu dan ditiru. Guru dipanggil untuk menyelamatkan jiwa-jiwa muda yang tersesat karena ulah Orang-orang dewasa, para elit politik yang mempertontonkan keserakahan, ketidak jujuran, kuasa dan pencitraan.
Menurut Edgar Morin, sosiolog, filsuf, dan kepala peneliti di International Centre for Scientific Research (CNRS), menegaskan bahwa tugas utama guru yang paling fundamental pada abad XXI justru menyiapkan anak agar siap menghidupi realitas kehidupan yang semakin kompleks dan penuh tantangan. Guru diharapkan dapat membawa lilin terang bagi kegelapan di masyarakat dan kompleksnya persoalan pendidikan kita di Indonesia.
Guru yang mampu mendidik dengan cinta akan membangun sebuah ekosistem pendidikan yang utuh, seimbang dan manusiawi. Dan ditengah gempuran tehnologi Artificial Intelligent (AI) dan disrupsi informasi, pendekatan pendidikan holistik akan memperkuat jati diri siswa sebagai mahluk sosial yang berpikir, merasa dan mencintai. Disinilah peran guru mengajar (lah) dengan cinta menjadi sebuah panggilan profetis bukan sekedar profesi (guru profesional).
Dr. Salman Habeahan, S.Ag. MM (Direktur Urusan Agama Katolik, Pengajar Pascasarjana UBL)
