Kalau ada lagu yang paling sering disalahpahami orang, barangkali itu adalah Genjer-genjer. Lagu yang diciptakan oleh Muhammad Arief, seorang seniman Banyuwangi pada masa penjajahan Jepang, sering kali terdengar seperti hantu bagi sebagian orang Indonesia. Begitu namanya disebut, banyak yang buru-buru menutup telinga, seakan-akan lagu itu membawa kutukan masa lalu. Padahal, bila kita mau jujur, Genjer-genjer mula-mula hanyalah lagu sederhana, nyanyian rakyat kecil yang hidup di pinggir sawah, nyanyian orang lapar yang mencari daun genjer untuk sekadar dimasak sebagai sayur.
Tidak ada niat buruk di dalamnya, tidak ada ideologi bersembunyi di balik syairnya. Ia lahir dari perut lapar, dari wajah anak-anak yang menunggu makanan. Tetapi, begitulah nasib seni: begitu ia keluar dari rahim rakyat, ia bisa dipungut oleh siapa saja, dipakai untuk tujuan apa saja. Pada tahun 1960-an, lagu ini kemudian dinyanyikan oleh kelompok politik tertentu, dijadikan alat penggalang massa, lalu dianggap simbol dari gerakan pemberontakan. Dari situ, Genjer-genjer seakan-akan dilabeli dosa, meskipun sejatinya ia hanya sebuah lagu rakyat biasa.
Bayangkan begini: ada sebilah sabit, tajam dan berkilau dalam cahaya mentari, seolah menyimpan rahasia bumi dan langit. Petani akan menggunakannya untuk memotong padi, menundukkan bulir-bulir emas yang sejak lama berdoa di sawah, lalu menghadirkannya di meja makan sebagai rezeki yang halal. Gembala akan memakainya untuk mencari rumput, menyabit hijau daun bagi ternak-ternaknya, agar hidup tetap tumbuh dalam putaran kasih Ilahi. Tetapi orang yang gelap mata bisa saja menggunakannya untuk membunuh sesama, menjadikannya senjata, mengotori tajamnya dengan darah, mengkhianati maksud penciptaannya. Apakah sabitnya yang bersalah? Tentu tidak. Sabit hanyalah benda; ia sekadar alat. Yang bersalah adalah hati yang lupa Tuhan, tangan yang dikuasai hawa nafsu, jiwa yang memutus ikatan dengan Yang Maha Suci.
Begitu pula dengan lagu Genjer-genjer. Ia tumbuh di air, sederhana, tak pernah memilih untuk menjadi simbol apa pun, daunnya hijau, batangnya lembut, sekadar sayuran bagi perut lapar, sekadar nyanyian bagi mulut-mulut yang ingin bernada. Namun ketika manusia menempelkan makna gelap padanya, menjeratnya dengan sejarah luka, ia tiba-tiba dianggap dosa. Padahal, genjer tetaplah genjer: tumbuhan ciptaan Allah, tunduk pada takdir-Nya, bertasbih dalam diam. Jika ada yang menggunakannya untuk tujuan muram, bukanlah genjer yang bersalah. Yang bersalah adalah manusia yang mengingkari cahaya. Maka, apakah kita akan menyalahkan sabit atau genjer? Atau justru kita harus bercermin pada hati sendiri: adakah ia menjadi ladang subur bagi iman, atau medan perang bagi nafsu? Karena pada akhirnya, setiap ciptaan Allah adalah ayat. Ada yang membacanya dengan mata kasih, lalu menemukan rahmat. Ada pula yang membacanya dengan mata dendam, lalu menemukan laknat.
Banyuwangi memang sering mengalami nasib semacam itu: apa yang lahir dari rahimnya, yang mula-mula sederhana, tiba-tiba mendapat makna yang lebih besar, lebih rumit, bahkan lebih menakutkan. Daerah di ujung timur Jawa ini seperti ladang cerita yang tak habis-habis. Ia bukan hanya dikenal karena gunung Ijen dengan api birunya, bukan hanya karena Gandrung yang sekarang dijadikan ikon pariwisata, tetapi juga karena sejarah yang berliku-liku, sering kali getir, namun selalu menyisakan cahaya. Seperti tanah yang dicium embun subuh, Banyuwangi menyimpan rahasia yang seakan hanya bisa dibaca dengan hati yang berzikir. Sungainya mengalir membawa doa, gunung-gunungnya menjulang laksana mihrab yang menantikan sujud, dan desau angin lautnya terdengar bagai tasbih yang tak pernah berhenti. Sejarah getir itu yang kadang berbalut luka, kadang dibasuh air mata, selalu melahirkan cahaya, seolah Tuhan sengaja menanamkan pesan bahwa dari kelam pun akan tumbuh terang, di mana setiap halamannya penuh dengan ayat-ayat kehidupan. Ada yang ditulis dengan tinta darah perjuangan, ada yang diukir dengan peluh petani, ada pula yang tercatat dengan lantunan doa para kiai di surau-surau tua. Dari sanalah lahir kebijaksanaan yang membuat orang-orang percaya, bahwa tanah ini adalah rahim yang melahirkan bukan hanya sejarah, tetapi juga iman, harapan, dan cinta yang lebih besar dari sekadar dunia.
Banyuwangi sejak dulu adalah perahu yang berlayar di antara dua arus besar: Jawa dan Bali. Perahu itu bukan hanya perahu kayu yang singgah di pelabuhan Ketapang atau Gilimanuk, melainkan perahu kultural yang mengangkut bahasa, keyakinan, tarian, juga ingatan. Di barat, Gunung Gumitir menjulang, menjadi tembok alam yang membatasi gerak orang Banyuwangi ke Jember dan ke dunia Jawa yang lebih luas. Orang baru bisa menembus batas itu dengan lebih mudah setelah tahun 1904, ketika jalur kereta api dibuka dari Banyuwangi ke Jember lalu terhubung ke Surabaya. Sebelum rel itu dibentangkan, perjalanan ke barat adalah urusan berat: menempuh jalan setapak, melintasi hutan, berhadapan dengan terjal pegunungan.
Itu sebabnya, ketika mendengar logat Osing, logat yang menjadi identitas etnik di wilayah ini. Tari-tarian yang kita kenal sebagai tari tradisi Banyuwangi, seperti Gandrung, Janger, atau Seblang, adalah tarian yang akarnya berkelindan dengan Bali. Bahkan, hingga abad ke-19, hubungan politik Banyuwangi dan Bali begitu erat, atau begitu rumit, dalam catatan sejarah. Kerajaan Blambangan, misalnya, sejak abad ke-17 selalu menjadi rebutan antara Mataram di Jawa dan kerajaan-kerajaan Bali di seberang selat.
Orang-orang Belanda yang menulis laporan kolonial pada awal abad ke-20 kerap menyebut Banyuwangi sebagai een overgangsgebied, sebuah daerah peralihan. Tidak sepenuhnya Jawa, tidak sepenuhnya Bali, melainkan perahu yang singgah di dua dermaga sekaligus. Jejak itu masih terasa hari ini: gamelan Banyuwangi dengan irama kendang kempul yang berbeda dari gamelan Jawa; upacara adat seperti Kebo-Keboan yang lebih dekat ke ritus-ritus desa Bali; atau kesenian janger yang hingga kini masih hidup di desa-desa osing.
Banyuwangi adalah perahu yang berlayar di antara dua arus, dan barangkali memang ditakdirkan begitu. Sebab selat yang memisahkan Banyuwangi dan Bali bukanlah jurang pemisah, melainkan jembatan cair yang setiap hari dilewati penyeberangan, membawa manusia, membawa ingatan, membawa kebudayaan. Dan selama arus itu terus berputar, Banyuwangi akan tetap menjadi daerah peralihan, daerah perahu, daerah persilangan. Saya masih ingat cerita orang-orang tua: pada dekade 1990-an ke bawah, radio-radio di Banyuwangi lebih sering menangkap siaran dari Bali daripada dari Surabaya atau Malang. Artinya, orang Banyuwangi sejak lama terbiasa hidup dalam percampuran budaya. Di satu sisi, mayoritasnya Muslim, tetapi mereka juga terbiasa mendengar gamelan Bali, terbiasa melihat upacara Hindu, terbiasa dengan tari-tarian yang berbeda. Ada yang menyebutnya sebagai miniatur Indonesia, karena di sana ada banyak suku, banyak agama, dan mereka hidup berdampingan.
Dari percampuran itulah seni lahir. Gandrung muncul dari tradisi rakyat, mula-mula sebagai tari pergauan dan juga perjuangan, lalu dipakai pula untuk ritual dan upacara. Pada masa tertentu, organisasi politik pernah memanfaatkan Gandrung untuk mengumpulkan massa. Karena itu, kelompok lain lalu menampilkan seni tandingan: Rodat, Samroh, atau Hadrah, yang lebih bernuansa Islami. Seolah-olah kesenian pun ditarik ke dalam gelanggang politik.
Dari tanah dari tanah yang sama pula lahir karya yang berbeda nasib: Sholawat Badar. Pada dekade 1960-an, sejarah mencatat bahwa Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi kala itu adalah KH. Ali Mansur. Beliau bukan sekadar pejabat negara yang terikat pada urusan administrasi, melainkan seorang pengembara ruhani yang menulis dengan tinta iman. Sosoknya ibarat pohon yang berakar pada bumi dan sekaligus menjulang ke langit: seorang birokrat yang ulama, ulama yang penyair, penyair yang negarawan. Jejak hidupnya pernah menapaki lembaga tinggi negara, menjadi anggota Konstituante, sebuah majelis yang kala itu ditugaskan merumuskan dasar hukum dan arah bangsa. Namun, di balik hiruk pikuk politik dan perdebatan ideologi, ia tetap menautkan jiwanya pada mihrab doa. Sebab baginya, pena dan sajadah adalah dua jalan yang sama: jalan menuju kebenaran.
Dari tafakkurnya atas Perang Badar,sebuah peristiwa agung di mana iman menaklukkan jumlah, dan keberanian mengalahkan ketakutan, lahirlah syair berbahasa Arab yang kelak menyeberangi desa-desa, pesantren, hingga masjid-masjid. Syair itu bukan sekadar rangkaian kata, melainkan doa yang dipanjatkan, pujian yang dilantunkan, sekaligus semangat perlawanan yang menggetarkan hati. Dalam Sholawat Badar, kita mendengar gema sejarah yang dibawa ke masa kini. Seolah-olah KH. Ali Mansur menuliskan bait-baitnya di atas kertas, namun hakikatnya ia sedang menyalakan api di dalam jiwa umat. Syair itu menjadi pengingat bahwa kemenangan bukan hanya hasil dari pedang, melainkan buah dari keyakinan, pengorbanan, dan kesetiaan kepada Allah.
Dengan demikian, Sholawat Badar bukan sekadar karya sastra atau nyanyian ritual. Ia adalah cahaya ruhani, lahir dari dada seorang hamba yang menggabungkan kebijaksanaan birokrat, kedalaman ulama, dan kelembutan penyair. Sebuah warisan yang hingga kini masih mengalun, mengikat kita pada kisah para pejuang Badar, dan meneguhkan bahwa dari Banyuwangi pernah tumbuh seorang manusia yang menulis bukan dengan tinta semata, melainkan dengan cahaya doa dan darah sejarah.
Perang Badar adalah perang yang tidak seimbang: tiga ratus lebih sedikit pasukan Muslim melawan seribu lebih pasukan Quraisy. Sejarah mencatat kemenangan ada di pihak yang lemah jumlahnya. KH. Ali Mansur melihat semangat itu, lalu menuangkannya ke dalam syair yang kemudian dikenal sebagai Sholawat Badar. Syair itu dibacakan berulang di majelis-majelis, dinyanyikan di langgar-langgar, dan sampai hari ini bergema di seluruh dunia Islam.
Betapa indah nasib Sholawat Badar: dari Banyuwangi ia lahir, dari rahim bumi yang basah oleh doa dan keringat para kiai, ia menyebar menyeberang ke pesantren-pesantren, lalu ke tanah suci, lalu ke berbagai negeri jauh yang tak pernah dibayangkan penulisnya. Ia diterima sebagai doa, sebagai pujian, sebagai cahaya yang tidak pernah padam, seperti obor yang terus dinyalakan dari hati ke hati, dari bibir ke bibir, dari langgar bambu sampai menara megah. Sholawat Badar menjadi air penyejuk, menjadi udara yang menghidupi, menjadi jembatan antara hamba yang rapuh dengan Tuhan Yang Maha Luhur.
Bandingkanlah dengan nasib Genjer-genjer. Dari tanah yang sama ia lahir, dari rawa dan lumpur Banyuwangi ia tumbuh sebagai nyanyian rakyat jelata, sebagai jeritan dari perut yang lapar, sebagai bahasa sederhana untuk menyebut hidup yang getir. Tetapi sejarah tidak memberi ruang baginya untuk sekadar menjadi lagu rakyat. Ia dihantui stigma politik, dibungkus oleh darah dan trauma, diikat oleh narasi kekuasaan. Maka yang tersisa bukan lagi sekadar lagu, melainkan bayang-bayang ketakutan yang membuat orang enggan menyebut namanya.
Genjer-genjer dan Sholawat Badar, sama-sama lahir dari keresahan manusia. Yang satu lahir dari perut lapar, jeritan cangkul yang tak lagi mampu melawan tanah kering. Yang lain lahir dari hati yang ingin menguatkan iman, dari dada yang bergetar menahan ketakutan perang, dari jiwa yang hanya menemukan ketenangan dengan menyebut nama Allah dan Rasul-Nya. Keduanya sama-sama jujur, sama-sama suara rakyat kecil yang hidup di bawah bayang-bayang zaman. Tetapi tangan sejarah menariknya ke arah yang berbeda. Sholawat Badar diangkat ke langit, dipeluk sebagai doa, dimuliakan sebagai cahaya. Sedangkan Genjer-genjer dibenamkan ke tanah, dicap sebagai kutukan, dijauhkan dari panggung kemanusiaan. Padahal keduanya hanya ingin bicara tentang hidup: tentang lapar dan iman, tentang tubuh yang merintih dan jiwa yang merindukan Tuhan. Apakah nasib sebuah nyanyian ditentukan oleh kata-katanya, atau oleh tangan-tangan sejarah yang menafsirkannya? Apakah doa lebih beruntung daripada keluh kesah, ataukah keduanya sebenarnya sama-sama suci, hanya manusia saja yang mewarnainya dengan stigma dan puja?
Mungkin memang begitu takdir seni: ia bisa dipeluk sebagai doa, bisa juga dituduh sebagai dosa. Ia bisa menjadi jembatan, bisa pula menjadi jurang. Semua tergantung siapa yang memegangnya, siapa yang memakainya.
Di Banyuwangi, saya melihat itu dengan jelas. Gandrung pernah dianggap tarian liar, bahkan ada yang ingin melarangnya. Lalu kemudian ia justru dijadikan ikon pariwisata, dipromosikan di brosur-brosur, ditampilkan di festival. Seni Janger, Seblang, Barong, Kuntulan, semuanya mengalami nasib serupa: kadang dituduh membawa malapetaka, kadang dielu-elukan sebagai warisan luhur. Dan inilah yang membuat saya percaya bahwa seni dan sastra tidak pernah bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Sastra bukan hanya kitab-kitab kuno seperti Al-Barzanji atau Pararaton. Ia hidup dalam lagu rakyat, dalam tembang-tembang wali, dalam sholawat yang digubah ulama, dalam puisi yang ditulis penyair modern. Ia bahkan bisa hidup di media digital, di status WhatsApp, di unggahan media sosial.
Yang abadi dari sastra bukan bentuknya, melainkan kerinduan manusia di dalamnya, rakyat kecil yang lapar pada masa Jepang menulis kerinduan itu lewat Genjer-genjer. KH. Ali Mansur menuliskannya lewat Sholawat Badar. Para wali songo menuliskannya lewat tembang Jawa. Semua sama: suara manusia yang rapuh, tetapi ingin mendekat kepada yang Mahakuat. Kadang saya berpikir, mungkin beginilah cara Tuhan bekerja. Dari daerah yang sering dipinggirkan, dari tanah yang jauh di timur, justru lahir karya-karya yang mengguncang dunia. Banyuwangi, yang dulu dianggap hanya kota kecil di ujung Jawa, ternyata menyimpan suara yang bergema hingga ke mancanegara.
Maka, bila suatu hari Anda mendengar Genjer-genjer, jangan buru-buru berprasangka. Dengarkan dengan hati terbuka. Di dalamnya ada suara rakyat yang lapar, ada tangisan yang jujur, ada harapan untuk merdeka. Dan bila suatu hari Anda mendengar Sholawat Badar, dengarkan dengan penuh khusyuk. Di dalamnya ada doa yang tak pernah padam, ada keyakinan bahwa jumlah kecil bukan berarti kalah, ada keyakinan bahwa Allah selalu bersama hamba-hamba-Nya. Banyuwangi, dengan segala kisahnya, sedang mengajarkan kepada kita satu hal yang sederhana: seni dan sastra itu netral. Ia hanya cermin. Kalau kita membawa wajah teduh, cermin akan memantulkan keteduhan. Kalau kita membawa wajah bengis, cermin akan memantulkan kebengisan. Dan barangkali, tugas kita hanyalah menjaga agar seni tetap menjadi doa, bukan dosa.
Sastra lahir dari hati manusia, dari getaran jiwa yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan akal semata. Di dalam bait-bait puisi, di dalam narasi cerita, seringkali terselip doa yang tidak sempat diucapkan di sajadah. Ada tasbih yang bergetar di balik kata, ada zikir yang bersemayam di balik metafora. Banyuwangi, dengan keragaman budaya dan sejarah religiusnya, menegaskan bahwa sastra bukan sekadar hiburan, melainkan jalan hening menuju kesadaran. Namun, arus sastra itu harus terus dijaga. Ia tidak boleh berhenti hanya menjadi gemerlap panggung atau sekadar selebrasi. Ia harus terus mengalir seperti sungai yang membawa kesejukan ke sawah-sawah, menghidupi jiwa yang haus makna. Di sinilah peran insan Kementerian Agama menemukan relevansinya. Mereka bukan hanya penjaga ritual, tetapi juga penjaga makna. Mereka bukan hanya pengurus administrasi peribadatan, tetapi juga pengawal agar sastra tidak kehilangan arah religiusitasnya.
Seni bisa menjadi doa, bila dipeluk dengan niat yang tulus. Tapi seni juga bisa berubah menjadi dosa, bila diperalat oleh ego, kesombongan, dan hawa nafsu. Maka, sastra harus ditempatkan pada posisinya yang luhur, sebagai jalan dakwah yang halus, sebagai jembatan persaudaraan, dan sebagai cermin kehidupan yang tidak pernah berdusta. Insan Kementerian Agama harus berani menulis, berani membaca, dan berani merenung melalui sastra. Sebab, di tengah derasnya arus budaya modern, hanya dengan melekatkan sastra pada nilai-nilai religius, kita bisa tetap tegak berdiri, sastra yang religius tidak kaku, justru ia lentur, mengalir, menyapa siapa saja, tanpa memandang perbedaan.
Arus itu harus terus, tidak boleh berhenti, sebab jika arus sastra berhenti, doa pun akan kehilangan bahasa. Jika doa kehilangan bahasa, manusia kehilangan arah. Dan Banyuwangi, sekali lagi, telah berbisik kepada kita: jagalah sastra, jagalah doa, agar hidup selalu menemukan cahaya.
Syafaat (ASN Kementerian Agama / Ketua Lentera sastra Banyuwangi)
