Setelah sempat mengalami gangguan layanan yang cukup signifikan, Microsoft akhirnya mengonfirmasi bahwa platform cloud andalannya, Azure, telah kembali beroperasi normal.
Gangguan tersebut dipicu oleh insiden pemutusan kabel serat optik bawah laut di wilayah Laut Merah pada Sabtu pagi, yang menyebabkan lonjakan latensi dan gangguan konektivitas bagi pengguna di kawasan Timur Tengah. Meski terdengar teknis, dampaknya terasa nyata bagi bisnis dan pengguna yang mengandalkan Azure untuk operasional digital mereka.
Dikutip dari Engadget, Selasa (9/9/2025), dalam pernyataan resminya, Microsoft menjelaskan bahwa gangguan tersebut berhasil diatasi pada Sabtu malam, berkat sistem perutean alternatif yang memungkinkan lalu lintas data dialihkan melalui jalur lain.
Langkah ini menunjukkan ketangguhan infrastruktur Azure dalam menghadapi situasi darurat, sekaligus menegaskan komitmen Microsoft untuk menjaga stabilitas layanan cloud globalnya. Namun, di balik pemulihan cepat tersebut, tersimpan kekhawatiran yang lebih besar tentang kerentanan jaringan bawah laut yang menjadi tulang punggung internet dunia.
Kabel serat optik bawah laut bukan sekadar komponen teknis mereka adalah jalur vital yang menghubungkan benua, mentransfer miliaran gigabyte data setiap hari. Letaknya yang tersembunyi di dasar laut membuatnya rentan terhadap gangguan, baik yang bersifat alami maupun buatan manusia.
Dalam beberapa kasus, kabel ini rusak akibat jangkar kapal atau aktivitas seismik. Namun, sejarah juga mencatat insiden yang lebih mengkhawatirkan: pada tahun 2024, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menuduh kelompok Houthi sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pemutusan kabel di Laut Merah, sebuah tindakan yang diduga disengaja dan berdampak luas pada konektivitas regional.
Meski Microsoft tidak memberikan penjelasan rinci mengenai penyebab pemutusan kabel dalam insiden terbaru ini, mereka menegaskan bahwa proses perbaikan kabel bawah laut bukanlah hal yang instan.
Dibutuhkan waktu, koordinasi lintas negara, dan teknologi khusus untuk mengakses dan memperbaiki kabel yang berada jauh di bawah permukaan laut.
Sementara itu, Microsoft berkomitmen untuk terus memantau kondisi jaringan, menyeimbangkan kembali lalu lintas data, dan mengoptimalkan perutean demi meminimalkan dampak terhadap pelanggan.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa meskipun kita hidup di era cloud dan konektivitas nirkabel, infrastruktur fisik seperti kabel bawah laut tetap menjadi fondasi utama dari internet global.
Ketika satu titik terganggu, efeknya bisa merambat ke berbagai sektor dari layanan streaming hingga sistem keuangan. Dalam konteks ini, transparansi dan kesiapan respons dari penyedia layanan seperti Microsoft menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik dan kelangsungan bisnis digital.
Dengan Azure kembali stabil, pengguna di Timur Tengah kini bisa melanjutkan aktivitas digital mereka tanpa hambatan. Namun, insiden ini juga membuka ruang diskusi tentang pentingnya diversifikasi jalur data, peningkatan keamanan infrastruktur bawah laut, dan perlunya kolaborasi internasional untuk menjaga ekosistem digital tetap tangguh di tengah ancaman yang semakin kompleks.
