Bek tengah Manchester United, Matthijs de Ligt tidak puas dengan penampilan timnya setelah kekalahan 0-1 dari Everton pada pekan ke-12 Liga Inggris 2025/2026, Selasa 25 November 2025 dini hari WIB.
Setelah gol pembuka babak pertama, Everton langsung bermain lebih ke dalam, membangun blok pertahanan yang rapat di depan kotak penalti Jordan Pickford. Sementara MU, alih-alih memanfaatkan jumlah pemain untuk mengurai pertahanan tim tamu, “Setan Merah” justru terjebak dalam jebakan lawan dengan terus-menerus mengumpan bola dari kedua sayap dan berharap mendapatkan bola mati.
Absennya Benjamin Sesko, striker yang mampu bersaing dan menciptakan dukungan di area penalti, membuat taktik sundulan silang menjadi tak berarti.
Statistik jelas menunjukkan kebuntuan MU dengan 38 umpan silang dan 9 tendangan sudut, tetapi tanpa efek apa pun terhadap bek-bek Everton yang tinggi.
Setelah pertandingan, bek tengah Matthijs de Ligt mengungkapkan kekecewaannya: “Kami kurang bergerak, kami kurang efektif menembus area penalti. Everton memang kuat di udara, tetapi kami terus mengumpan bola, rasanya seperti membenturkan kepala ke dinding.”
Bek tengah asal Belanda ini yakin Manchester United kurang urgensi dan determinasi di momen-momen krusial.
“Jika Anda tidak punya keinginan untuk membuat perbedaan, Anda tidak akan mencetak gol dan Anda akan kalah dalam pertandingan seperti ini,” ujar De Ligt.
Kritik terhadap De Ligt menambah tekanan pada pelatih Ruben Amorim, yang dianggap terlalu kaku dan lambat menyesuaikan taktik. Amorim dikritik karena memainkan Joshua Zirkzee, karena penyerang Belanda itu hampir tidak berbahaya sepanjang pertandingan.
Bintang Everton Bayar Harga Mahal Usai Menang Lawan Manchester United
Kartu merah di Old Trafford hanyalah awal dari masalah yang dihadapi Idrissa Gana Gueye. Gelandang Everton ini terancam larangan bermain tiga pertandingan berdasarkan aturan Liga Inggris karena menampar Michael Keane.
Foto Gueye yang diusir keluar lapangan setelah mengacungkan tangannya ke wajah Keane saat timnya menang 1-0 atas MU di pekan ke-12 Liga Primer pada 25 November menjadi viral di media sosial. Momen itu sungguh mengejutkan, dan hukuman serta sanksi internal dari Komite Penyelenggara Liga Primer pasti akan menyusul.
Peraturan liga menyatakan bahwa setiap tindakan kekerasan yang mengakibatkan kartu merah langsung dapat mengakibatkan skorsing minimal tiga pertandingan. Fakta bahwa orang yang diserang adalah rekan satu tim tidak mengubah hukuman. Oleh karena itu, Everton berisiko kehilangan pemain kunci di tengah jadwal yang padat.
Gueye langsung meminta maaf secara terbuka setelah pertandingan. Ia mengakui reaksi impulsifnya dan berkata, “Tidak ada yang membenarkan tindakannya.” Namun, penjelasan dan kemauannya untuk belajar tidak akan membantunya lolos dari hukuman berat.
Pelatih Everton, David Moyes juga mengakui ini sebagai “momen gila”. Namun, secara mengejutkan ia berbagi perspektif yang berbeda: “Saya suka ketika pemain berdebat sengit jika seseorang melakukan kesalahan. Gueye telah meminta maaf kepada seluruh tim dan memahami tanggung jawabnya.”
Everton baru saja meraih kemenangan dramatis di Old Trafford, tetapi insiden Gueye telah memperkeruh suasana tim. Skorsing tersebut, yang hampir pasti, akan memaksa Moyes untuk mengevaluasi kembali lini tengahnya dalam beberapa minggu mendatang.
