Fazar Rifqi As Sidik, M.Pd (Dosen Manajemen Pendidikan islam UIN SGD Bandung)
Hari itu saya berdiri di depan mahasiswa, menyampaikan perkuliahan sebagaimana biasanya. Namun berbeda dari pertemuan lain, topik yang kami bahas adalah etika, sesuatu yang jejaknya sudah jauh lebih tua dari ruang kelas yang kami tempati. Saya ajak mereka berjalan menembus waktu, ke masa Yunani kuno dua ribu tahun sebelum Masehi, ketika Socrates, Plato, dan Aristoteles mulai merumuskan dasar-dasar filsafat moral. Lalu ke Eropa abad pertengahan yang dikuasai hegemoni gereja, di mana kitab Taurat dan Zabur dijadikan sumber etika. Hingga kita tiba pada masa pra-Islam di jazirah Arab yang diliputi jahiliyah, sampai cahaya risalah Nabi Muhammad SAW menerangi gelapnya peradaban. Akhlak kemudian dikokohkan dalam risalah-risalah Ali bin Abi Thalib, dan diperdalam oleh Imam al-Ghazali melalui mahakarya Ihya Ulumuddin—kitab yang menjadi lentera perjalanan jiwa manusia mencari kebajikan.
Di tengah uraian itu, seorang mahasiswa semester satu mengangkat tangan. Wajahnya masih menyimpan aroma putih abu-abu masa SMA, dan pertanyaannya sederhana sekaligus menggugah: “Bagaimana etika yang seharusnya dijalankan oleh generasi Z hari ini?” Seketika kelas menjadi riuh dialog. Pertanyaan itu seperti membuka jendela lebar ke dunia nyata yang mereka huni: dunia media sosial, dunia algoritma, dunia yang menjadikan jempol sebagai mulut baru umat manusia.
Saya menjelaskan bahwa dahulu orang berkata “mulutmu harimaumu”, kini mulut itu telah bermetamorfosis menjadi jempol. Jempol yang menekan tombol like atau dislike, jempol yang bisa mengangkat atau meruntuhkan harga diri seseorang, jempol yang bisa menjadi sumber apresiasi atau bencana depresi. Kasus demi kasus membuktikan betapa berbahayanya komentar digital. Jacques Ellul dalam karyanya Propaganda: The Formation of Men’s Attitudes (1964) pernah menulis bahwa kata-kata yang disebarkan secara masif mampu membentuk perilaku manusia lebih tajam daripada pedang.
Data juga bicara lantang. Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII, 2025), jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai 229,4 juta jiwa atau 80,66 persen populasi. Generasi Z menjadi pengguna dominan, menyumbang sekitar 25,54 persen dari total, dan menurut BPS melalui GoodStats, mereka bahkan mencapai 34,49 persen dari seluruh pengguna internet. Angka-angka ini menegaskan bahwa Gen Z adalah penguasa jagat maya, generasi yang paling banyak menghabiskan waktu dalam ruang digital.
Fenomena di berbagai negara memperlihatkan bagaimana etika—orang memilih untuk menjaganya atau melupakannya—dapat mengubah arah sejarah. Di Nepal, Agustus lalu, ribuan massa turun ke jalan setelah melihat pejabat memamerkan kemewahan di tengah penderitaan rakyat. Gen Z memainkan algoritma media sosial untuk menggulirkan gelombang protes, hingga rezim pun terguncang. Di Indonesia, kita pun menyaksikan bagaimana pejabat yang berlenggak-lenggok di media sosial, pamer harta atau bercanda tanpa sensitivitas budaya, berakhir dengan amarah sosial, bahkan penjarahan rumah. Semua itu adalah contoh bahwa tanpa etika, media sosial bisa menjadi senjata makan tuan.
Namun kita juga belajar bahwa Gen Z memiliki kekuatan besar untuk menjadikan media sosial sebagai taman kebaikan. Aristoteles dalam Nicomachean Ethics menegaskan bahwa kebajikan lahir dari kebiasaan, bukan sekadar pengetahuan. Maka generasi muda hari ini harus membiasakan diri untuk tidak mudah terprovokasi, tidak menyebarkan hoaks tanpa verifikasi, tidak memelintir simbol agama menjadi bahan kebencian, tidak melukai martabat orang lain hanya demi viralitas. Dalam Islam, Nabi Muhammad SAW telah memberi teladan dengan sabdanya: “Innamā bu’itstu liutammima makārimal akhlāq”—Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (HR. Ahmad). Artinya, fondasi etika digital pun seharusnya berpijak pada nilai spiritual yang diwariskan sejak empat belas abad silam.
Di ruang kuliah itu saya menutup dengan ajakan: gunakanlah jempol bukan sebagai harimau, tetapi sebagai pena dakwah. Isi dunia maya dengan konten yang mendamaikan, yang mendidik, yang membangkitkan harapan, yang mencerminkan nilai moderasi beragama dan akhlak Islami. Jangan biarkan algoritma mencuri nurani, tetapi biarkan akhlak menuntun jari-jemari kita. Sebab di balik layar gawai itu, yang sesungguhnya sedang kita ukir adalah jejak peradaban. Dan sejarah akan mencatat, apakah Gen Z hanya menjadi konsumen riuh digital, atau pelita yang menyalakan etika di tengah gelapnya jagat maya.
Fazar Rifqi As Sidik, M.Pd (Dosen Muda Manajemen Pendidikan islam UIN SGD Bandung, Awardee LPDP Beasiswa Indonesia Bangkit 2025)
