Agustus selalu datang membawa haru: kibaran merah putih di langit, nyanyian Indonesia Raya yang menggema, dan ingatan tentang darah, air mata, serta doa yang menjadi saksi lahirnya bangsa ini. Tanah air ini tidak hanya milik generasi sekarang, tetapi juga anak cucu kita kelak. 80 tahun yang lalu, Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya. Namun, apakah kita sudah benar-benar merdeka jika sungai-sungai tercemar, udara penuh polusi, dan hutan-hutan ditebang demi rakus yang tidak berkesudahan? Di sinilah ekoteologi, sebagai jembatan antara iman dan lingkungan, hadir untuk mengingatkan: mencintai tanah air tak bisa dilepaskan dari mencintai bumi.
Dalam Al-Qur’an, hubungan antara manusia dan alam bukanlah hubungan antara penguasa dan objek, melainkan antara amanah dan tanggung jawab. Manusia memang diberi keistimewaan sebagai khalifah—pemimpin di muka bumi (QS. al-Baqarah/2:30), namun keistimewaan itu datang bersama beban yang besar: menjaga keseimbangan dan keberlangsungan ciptaan Tuhan.
Alam dalam Al-Qur’an bukan benda mati yang sekadar dipakai, diambil, dan dihabiskan. Ia adalah ayat-ayat Tuhan—tanda-tanda kebesaran dan kasih sayang-Nya. Gunung, laut, tumbuhan, hewan, bahkan angin dan hujan—semuanya disebut dalam Al-Qur’an bukan sebagai dekorasi narasi, tetapi sebagai entitas yang membawa pesan ilahiah.
Dalam QS. al-An’am/6:141, Allah melarang untuk berperilaku konsumtif yang berlebihan. Lebih dari itu, ayat ini merupakan seruan agar manusia tidak rakus mengeksploitasi alam, karena kerakusan adalah akar dari kerusakan ekologis.
Lebih jauh, Al-Qur’an mengajarkan prinsip mīzān, yang bisa berarti keseimbangan. Secara eksplisit, QS. ar-Rahman/55:7-9 merupakan seruan tegas untuk menjaga harmoni ekologis. Artinya, perusakan lingkungan bukan hanya tindakan destruktif, tapi juga bentuk ketidakadilan dan pelanggaran spiritual. Dalam kerangka inilah, ekoteologi hadir—sebagai jembatan antara iman dan aksi ekologis. Ia mengajak umat Islam untuk melihat bumi bukan sebagai milik mutlak manusia, tetapi sebagai titipan Tuhan yang harus dijaga. Sebab, kerusakan di bumi adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah ilahiah. Seperti ditegaskan dalam QS. al-A’raf/7:56, yang melarang umat manusia untuk berbuat kerusakan di bumi sekaligus untuk senantiasa berdoa kepada-Nya.
Doa yang sungguh-sungguh harus dibarengi dengan tindakan yang sungguh-sungguh pula. Tak cukup hanya memohon keselamatan dari bencana, jika tangan kita sendiri yang menggali lubangnya. Melalui ekoteologi, kita diingatkan bahwa keimanan sejati tak berhenti di sajadah, tapi juga meluas ke sawah, hutan, sungai, dan langit. Setiap langkah kecil dalam menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah. Setiap upaya melestarikan bumi adalah bagian dari syukur atas hidup dan kemerdekaan yang telah Allah anugerahkan kepada kita.
Syukur bukan hanya ucapan, melainkan juga tindakan. Mengucap Alhamdulillah atas kemerdekaan yang telah diraih bangsa Indonesia adalah awal yang baik. Namun, syukur sejati adalah saat nikmat kemerdekaan itu diwujudkan dalam perilaku yang menjaga, bukan merusak—termasuk terhadap alam.
Al-Qur’an secara konsisten mengaitkan syukur dengan penggunaan nikmat secara tepat dan bertanggung jawab. Ketika manusia menyalahgunakan nikmat, yang datang bukan berkah, melainkan bencana. Ini tercermin dalam banyak ayat, termasuk QS. Ibrahim/14:7.
Kemerdekaan adalah nikmat, maka syukur atas kemerdekaan harus menyentuh seluruh aspek kehidupan, termasuk cara kita memperlakukan lingkungan hidup. Maka dari itu, mari kita sadari, apakah kita sudah bersyukur dengan cara menjaga alam yang menopang kehidupan bangsa ini?
Saat kita membiarkan sungai-sungai kotor, membiarkan pohon ditebang tanpa kendali, dan membuang limbah tanpa peduli, sejatinya kita sedang mengkhianati amanah kemerdekaan. Bukan hanya kepada bangsa, tapi kepada Tuhan yang menganugerahkannya. Ekoteologi mengajarkan bahwa merawat bumi adalah bagian dari syukur kepada Allah. Ia juga bagian dari cinta kepada tanah air. Sebab, apa artinya mencintai Indonesia jika tanahnya rusak, udaranya sesak, airnya tak layak dikonsumsi, dan anak cucu kita mewarisi tanah air yang sakit?
Cinta tanah air dan cinta bumi bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan satu kesatuan yang utuh dalam pandangan ekoteologi. Al-Qur’an mengajarkan bahwa bumi adalah amanah dari Allah yang harus dijaga, dan bangsa yang merdeka adalah bangsa yang mampu bersyukur melalui tindak nyata—termasuk dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Kemerdekaan Indonesia tidak hanya tentang lepas dari penjajahan fisik, tetapi juga pembebasan dari pola pikir eksploitatif terhadap alam. Dengan menghidupkan nilai-nilai ekoteologis seperti amanah, keseimbangan, dan kesadaran tauhid, bangsa Indonesia dapat menempuh jalan syukur yang lebih substantif dan transformatif.
Kini, saat kita memperingati hari kemerdekaan, mari kita refleksikan: apakah kita sudah merdeka dalam cara kita memperlakukan bumi? Sudahkah rasa cinta tanah air kita terwujud dalam tindakan konkret merawat alam yang menopang kehidupan bersama? Ekoteologi mengajak kita untuk tidak hanya mencintai Indonesia sebagai tanah kelahiran, tetapi juga mencintainya sebagai rumah bersama yang harus dijaga, dihormati, dan diwariskan dalam keadaan lestari. Sebab mencintai bumi—tempat kita berpijak dan berjuang—adalah bentuk tertinggi dari syukur kepada Tuhan dan hormat kepada para pejuang yang telah mendahului kita. Merdeka adalah merawat, dan syukur yang sejati adalah menjaga.
Abdul Aziz Sidqi (Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an)
