Di tengah persaingan sengit industri kecerdasan buatan, xAI perusahaan AI milik Elon Musk mengguncang dunia teknologi dengan gugatan hukum yang menuduh mantan karyawannya mencuri rahasia dagang.
Gugatan yang diajukan awal pekan ini menyebut nama Xuechen Li, yang dituduh membawa informasi rahasia dari xAI sebelum bergabung dengan OpenAI, salah satu rival terdekat dalam perlombaan inovasi AI.
Berdasarkan informasi dari Techcrunch, Senin (1/9/2025), tuduhan ini bukan sekadar soal pelanggaran etika kerja, tetapi menyangkut potensi kebocoran teknologi mutakhir yang menjadi tulang punggung Grok, chatbot andalan xAI.
Menurut dokumen gugatan, Li diduga menyalin sejumlah file penting dari laptop perusahaan ke perangkat pribadinya. xAI mengklaim bahwa teknologi yang dicuri memiliki fitur yang lebih unggul dibandingkan ChatGPT dan produk AI lainnya yang beredar di pasar saat ini.
Jika benar digunakan oleh pesaing, informasi tersebut bisa menjadi jalan pintas yang menghemat miliaran dolar dalam riset dan pengembangan, sekaligus mempercepat proses rekayasa yang biasanya memakan waktu bertahun-tahun.
Dalam gugatan itu, xAI juga menuduh Li melakukan berbagai upaya untuk menyembunyikan jejaknya, mulai dari mengganti nama file, mengompres data, hingga menghapus riwayat peramban.
Tak berhenti di situ, gugatan tersebut mengungkap bahwa sebelum hengkang dari xAI, Li sempat meminta perusahaan untuk membeli kembali saham senilai sekitar $7 juta yang diberikan sebagai bagian dari kompensasi.
Permintaan ini muncul tepat sebelum ia bergabung dengan OpenAI, menambah lapisan kompleks dalam kasus yang sudah panas. xAI kini meminta pengadilan untuk mengeluarkan perintah penahanan sementara, yang akan memaksa Li menyerahkan akses ke semua perangkat pribadi dan layanan penyimpanan daring yang mungkin menyimpan data rahasia.
Selain itu, perusahaan juga ingin memblokir sementara Li dari bekerja di OpenAI atau perusahaan pesaing lainnya, setidaknya sampai semua informasi sensitif berhasil dipulihkan.
Gugatan ini muncul di tengah gelombang besar yang disebut sebagai “perang bakat AI,” di mana perusahaan-perusahaan teknologi berlomba merekrut peneliti terbaik dengan tawaran gaji fantastis yang bisa mencapai $250 juta. Dalam lanskap yang semakin kompetitif, talenta AI menjadi komoditas paling berharga, dan setiap kebocoran informasi bisa mengubah arah permainan.
xAI sendiri telah aktif merekrut dari Google dan OpenAI untuk memperkuat Superintelligence Lab mereka, sebuah divisi yang dirancang untuk mendorong batas kemampuan AI masa depan.
Namun, konflik ini bukan hanya soal individu dan data. Gugatan terhadap Li hanyalah satu bagian dari strategi hukum yang lebih luas. Elon Musk dan xAI sebelumnya juga menggugat OpenAI dan Apple, menuduh kedua perusahaan tersebut bekerja sama untuk mempertahankan dominasi pasar dan menciptakan monopoli dalam industri AI.
Tuduhan ini memperlihatkan bahwa persaingan di dunia kecerdasan buatan tak lagi terbatas pada inovasi teknologi, tetapi juga mencakup pertarungan hukum, strategi bisnis, dan perebutan pengaruh global.
Dengan gugatan yang kini menjadi sorotan, xAI tampaknya ingin mengirimkan pesan tegas: bahwa mereka tidak akan tinggal diam jika rahasia teknologi mereka terancam bocor. Di era di mana satu baris kode bisa menentukan masa depan industri, menjaga integritas dan keamanan inovasi menjadi prioritas utama.
