Kemunculan Lionel Messi di Kolkata, India berubah menjadi kekacauan ketika ribuan penggemar yang marah melemparkan kursi dan botol hanya beberapa menit setelah superstar Argentina itu melangkah ke lapangan.
Kedatangan Leo diharapkan akan menciptakan sensasi di sirkuit Salt Lake, tetapi kegembiraan itu dengan cepat berubah menjadi bencana.
Foto-foto yang beredar di media sosial menunjukkan kerumunan orang menyerbu lapangan, dengan cepat menyebabkan situasi menjadi di luar kendali. Messi hanya berjalan sebentar, melambaikan tangan kepada para penggemar sebelum harus mundur karena benda-benda dilemparkan ke lapangan dari tribun. Bahkan patung setinggi 21 meter yang baru-baru ini diresmikan untuk merayakan Leo pun dirusak oleh penggemar India.
Bintang Inter Miami itu tampil bersama rekan setimnya, Luis Suarez dan Rodrygo de Paul, yang dikawal ketat oleh petugas keamanan.
Pemandangan penggemar yang berteriak, bentrok dengan pasukan keamanan, dan merusak fasilitas stadion adalah hal yang biasa. Banyak yang menuduh penyelenggara memprioritaskan hak istimewa VIP, sehingga mencegah ribuan pemegang tiket untuk melihat idola mereka.
Pengusaha Nabin Chatterjee mengatakan: “Melihat Messi adalah impian saya, tetapi saya kehilangan kesempatan itu karena kurangnya perencanaan.”
Salah seorang penonton berbagi: “Acara itu mengerikan. Dia hanya berada di sana sekitar 10 menit, dikelilingi oleh para pemimpin dan pejabat, dan kami tidak bisa melihat apa pun. Begitu banyak uang, emosi, dan waktu yang terbuang sia-sia.”
Polisi segera turun tangan untuk memulihkan ketertiban, tetapi banyak kursi yang rusak dan sampah berserakan di seluruh area.
Menyusul insiden tersebut, Ketua Menteri Bengal Barat Mamata Banerjee menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dan mengumumkan penyelidikan: “Saya meminta maaf kepada Messi dan semua penggemar atas insiden yang tidak menyenangkan ini.”
Ini adalah kunjungan pertama Leo ke India sejak pertandingan persahabatan internasional tahun 2011. Selama perjalanan tiga harinya, Messi diperkirakan akan mengunjungi empat kota dan mungkin bertemu dengan Perdana Menteri Narendra Modi.
Para penggemar India sangat antusias untuk bertemu idola mereka, tetapi semuanya berubah menjadi bencana.
Mimpi Buruk Bagi Penyelenggara
Kunjungan Lionel Messi ke India untuk acara pertukaran khusus dengan cepat berubah menjadi mimpi buruk bagi para penyelenggara.
Pada Sabtu 13 Desember 2025, Messi tiba di Kolkata bersama dua rekan setimnya, Rodrigo De Paul dan Luis Suarez, menarik perhatian besar dari para penggemar India. Puluhan ribu penonton membanjiri Stadion Salt Lake dengan harapan dapat melihat dan berinteraksi dengan idola mereka. Namun, keadaan dengan cepat menjadi di luar kendali karena penyelenggaraan acara tidak berjalan sesuai rencana.
Menurut polisi Kolkata, kemarahan muncul ketika para penggemar menyadari bahwa Messi tidak akan bermain atau berpartisipasi dalam kegiatan temu penggemar yang mereka harapkan. Sebaliknya, pemain nomor 10 Argentina itu hanya muncul sebentar untuk menyapa dan bertemu beberapa tamu sebelum meninggalkan stadion. Hal ini membuat banyak penonton, yang telah membayar sejumlah besar uang untuk tiket, merasa “tertipu.”
Rajeev Kumar, Direktur Jenderal Kepolisian di Benggala Barat, membenarkan bahwa pihak berwenang telah menangkap kepala panitia penyelenggara setelah menerima pengaduan resmi mengenai insiden di stadion tersebut.
“Kekecewaan dan kemarahan para penggemar muncul dari kesadaran bahwa Messi tidak bermain. Rencana sebenarnya hanyalah menyapa, bertemu, dan pergi,” kata Kumar. Penyelenggara juga berjanji untuk mengembalikan uang tiket kepada para penonton.
Saat Messi dikawal keluar lapangan, suasana menjadi tegang. Beberapa penggemar yang tidak tertib melemparkan benda-benda ke lapangan, memaksa petugas keamanan untuk turun tangan guna mencegah situasi meningkat menjadi kerusuhan. Untungnya, ketertiban kemudian dipulihkan.
Menyusul protes publik, Mamata Banerjee, ketua pendiri All India Trinamool Congress dan Kepala Menteri Bengal Barat, secara terbuka meminta maaf kepada Messi dan para penggemar melalui media sosial. Ia mengaku “terkejut dan kecewa” dengan buruknya penyelenggaraan acara tersebut.
Pemerintah negara bagian Benggala Barat juga telah membentuk komite investigasi independen yang dip возглави oleh mantan hakim Ashim Kumar Ray, dengan partisipasi pejabat senior urusan dalam negeri. Komite ini bertugas untuk mengklarifikasi tanggung jawab semua pihak yang terlibat dan mengusulkan langkah-langkah untuk mencegah insiden serupa terulang di masa mendatang.
