Kamaruddin Amin membunyikan otok-otok saat pembukaan Temu Nasional Jaringan GUSDURian Tahun 2025
Jakarta (Kemenag) — Deru suara otok-otok serentak menggema memenuhi ruangan. Suara sederhana dari mainan bambu itu justru terasa begitu istimewa, melambangkan kebersamaan. Irama musik tradisional Betawi mengalun mengiringi gerak penari yang menampilkan Tari Ondel-Ondel. Gerakan luwes berpadu dengan kostum penuh warna itu menambah suasana meriah sekaligus hangat.
Dalam suasana akrab itu, Sekjen Kemenag Kamaruddin Amin menyebut peran GUSDURian tak hanya sebagai komunitas, tetapi sebagai pilar yang mengokohkan Indonesia.
“GUSDURian adalah salah satu pondasi infrastruktur sosial Indonesia. Maka dari itu, saya berani menyebut bahwa ini adalah characteristic of future Indonesian muslim,” ucapnya, disambut tepuk tangan meriah peserta.
Ucapan itu seakan meneguhkan kembali nilai-nilai Gus Dur yang sejak awal telah diwariskan, di antaranya ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, kekesatriaan, dan kearifan tradisi. Nilai-nilai yang tetap relevan dan menjadi suluh di tengah derasnya arus perubahan zaman.
Sekjen menambahkan, keberadaan GUSDURian terbukti mampu menjaga harmoni bangsa. “Di tengah pluralitas dan keberagaman masyarakat Indonesia, kita masih bisa menjaga kondusifitas sosial politik Indonesia yang tentunya dirawat kerukunannya oleh ormas-ormas keagamaan,” ungkapnya dengan penuh keyakinan, Jumat (29/8/2025).
Di sela acara, Koordinator Sekretariat Nasional Jaringan GUSDURian, Jay Akhmad bertukar cerita tentang bagaimana nilai-nilai Gus Dur memberi arah dalam perjuangan mereka di daerah. Ada yang bercerita tentang gerakan pendidikan inklusif, ada pula yang mengisahkan kerja-kerja advokasi kemanusiaan di komunitasnya. Semua kisah berjalin, menghidupkan semangat Gus Dur dalam wajah Indonesia hari ini.
Bagi banyak orang, acara ini bukan sekadar temu nasional. Ini adalah ruang perjumpaan, ruang untuk kembali mengingatkan diri bahwa Indonesia berdiri kokoh karena nilai kemanusiaan, keberagaman, dan persaudaraan yang diwariskan Gus Dur.
Seperti deru otok-otok yang terdengar serentak di awal acara, GUSDURian menjadi suara bersama yang sederhana namun kuat, mengingatkan bahwa merawat Indonesia adalah tugas semua anak bangsa.
