Yundarini, petugas safari wukuf.
Makkah (Kemenag) — Kesabaran dan keuletan menjadi modal para petugas Safari Wukuf Khusus Lansia dalam menjalankan tugasnya. Jemaah yang rata-rata lansia, memiliki penyakit dan disabilitas ini sudah mereka anggap sebagai keluarga, orang tua, kakek dan nenek sendiri.
Yundarini adalah satu dari sekitar 120 petugas Safari Wukuf Khusus Lansia yang bertugas mendampingi dan merawat jemaah safari wukuf saat wukuf di Arafah dan dirawat di hotel transit.
Yundarini mengatakan, ia telah menganggap jemaah seperiti kakek dan nenek sendiri. Untuk itu, dia terus berupaya untuk merawat dengan sepenuh hati dan menjadikan mereka layaknya raja dan ratu.
“Kita bilang ke mereka, Bapak/Ibu adalah jemaah terpilih untuk haji di Tanah Suci. Kita anggap sebagai keluarga baru, kakek dan nenek sendiri,” kata Yundarini, Senin (9/6/2025) di hotel transit safari wukuf, Makkah.
Yundarini dan petugas lainnya berjibaku melayani jemaah haji, mulai dari mengganti popok, membersihkan buang air, menyuapin makanan, hingga menggendong mereka. “Jadi kalau ada hal-hal berat, misalnya jemaah nggak mau makan, ngambek, ya kita layani dengan senang hati. Kita lakukan sebagai suatu kebiasaan.Walaupun sehari-hari kita punya jabatan, tapi jabatan itu lepas semua di sini untuk melayani tamu Allah,” akunya haru.
Yundarini pun terharu, ketika ada jemaah yang meminta namanya, untuk dicatat kemudian akan dibacakan setiap kali jemaah tersebut berdoa. “Ibu minta namanya Nak. Mau ibu bawa pulang. Setiap hari mau Ibu doakan sebagai balas budi,” katanya menirukan ucapan jemaah.
Kebutuhan semua jemaah safari wukuf pun dipenuhi, mulai dari pampers dan obat-obatan. Ia dan petugas safari wukuf lainnya kerap mendapatkan pelukan dan ciuman dari jemaah. “Ya Allah Nak, semoga engkau begini-begini,” Yundarini kembali menirukan ucapan jemaah.
Bagi Yundarini dan petugas lainnya, kebahagiaan jemaah adalah segalanya. Ia membaktikan diri sepenuhnya untuk jemaah. Seringkali, ia mengajak bercanda jemaah, bercerita lucu atau membantu menelponkan mereka untuk menghubungi keluarga. “Itu ha-hal yang sepele, tapi luar biasa bagi mereka,” ucapnya.
Yundarini bercerita pula hal-hal lucu bersama mereka. Ada sebagian jemaah yang tidak mengerti cara menggunakan pemanas air. Mungkin karena mereka tidak pernah memakai pemanas air di kamar mandi dan pemanas air untuk membuat kopi. “Mereka kaget kok airnya hangat. Ternyata selama ini mereka mandi pakai air dingin,” ceritanya.
Cerita Yundarini dan sekitar 120 petugas safari wukuf lainnya menyisakan kenangan, memilki keluarga yang menyenangkan. Kerepotan tidak menjadi masalah. Karena bagi mereka itu adalah sebuah amanah.
