Duapuluh tahun silam cerita ini dimulai, “Santri Menjadi Dokter”. Gagasan mengkuliahkan para santri ke jenjang perguruan tinggi mengambil sains dan teknoloogi, datang dari Ahmad Qadri Abdillah Azizy, Direktur Jenderal Kelembagaan Agama Islam (Ditjen Bagais), sekarang di sebut Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama.
Terasa aneh, karena pada umumnya santri berorientasi menjadi ahli agama. Kyai, ustad, penghulu, penyuluh agama atau guru Madrasah. Ketika kuliah juga mengambil prodi-prodi keagamaan untuk memperdalam tafaqquh fiddin. Tidak kebayang menjadi dokter, digodok dalam kawah candradimuka Fakultas Kedokteran.
Tahun 2005, Ditjen Bagais menggandeng UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, agar para santri se-Indonesia mengambil studi studi Pendidikan Dokter dan Kesehatan Masyarakat. Sementara dengan Institut Pertanian Bogor (IPB), untuk studi ilmu-ilmu pertanian, peternakan, perkebunan, kehutanan, tata ruang, bahkan sebagian diantaranya STEM dan ilmu statistika.
25 orang santri kita kirim ke kampus IPB Darmaga Bogor, untuk mempelajari hal-hal yang sama sekali baru. Bertemu dengan para profesor dan dosen-dosen yang ahli di bidang pertanian. Sementara 15 orang menjadi duta pesantren, studi pada Fakultas Ilmu Kedokteran dan Kesehatan UIN Jakarta. 5 orang mengambil prodi Pendidikan Dokter dan 10 orang Kesehatan Masyarakat.
Empat puluh orang santri terbaik, dijaring dalam sistem seleksi yang ketat oleh Direktorat Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren (Pekapontren), kini bernama Direktorat Pesantren, yang sebelumnya Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (Pdpontren). Mereka mendapatkan beasiswa penuh (full scholarship) yang diberi nama Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB).
Tema santri menjadi dokter masih terasa asing di telinga banyak orang. Namun Sang Dirjen Qadri Azizy, bersikeras agar para santri lulusan Madrasah Aliyah/SMA di bawah naungan Pondok Pesantren di didik sains dan teknologi. UIN Jakarta diberikan mandat khusus mencetak para dokter dan ahli kesehatan berlatar belakang santri.
Pada tahun-tahun selanjutnya disusul UGM, UNAIR dan Universitas Islam Malang (UNISMA) menjadi tempat bersemainya para dokter santri, walau dalam jumlah yang tidak sebanyak UIN Jakarta, yang jika di rata-rata tiap tahun sekitar 20 orang.
Jika ditelisik secara saksama sejak 2005-2025 Kementerian Agama telah melahirkan 400-500 dokter berlatar belakang pesantren dari Sabang-Merauki. Jumlah tersebut khusus dokter belum termasuk Kesehatan Masyarakat, keperawatan, dan farmasi, yang jumlahnya tentu lebih banyak.
Menebus Dosa Sejarah
Ada tiga hal yang melatarbelakangi lahirnya PBSB, sebagai layanan beasiswa untuk para santri memasuki dunia intelektual. Dunia baru, keilmuan baru dan tradisi baru yang kini mereka sandang sebagai mahasiswa.
Pertama, menebus dosa sejarah negara atas komunitas pondok pesantren. Istilah menebus dosa sejarah saya kutip dari KH. Maftuh Basyuni, Menteri Agama RI kala itu. Diutarakan saat Halaqah 500 Kyai Pondok Pesantren dengan Civitas Akademika UGM Jogjakarta.
Maftuh memandang, negara berhutang dan mungkin berdosa, karena belum memberikan balasan atas jerih payah atas peran kyai, ustadz dan santri merebut Indonesia dari tangan penjajah. “Kini saatnya kita (pemerintah) menebus dosa sejarah, agar kaum pesantren duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan anak-anak bangsa lainnya di negeri ini”, demikian ungkap dihadapan 500-an kyai yang rata-rata dari Pesantren Salafiyah.
Halaqah Kyai Pondok Pesantren itu menjadi tonggak sejarah, dibukanya kerjasama Kementerian Agama dengan UGM dalam bentuk pemberian beasiswa santri untuk studi ke UGM. Rektor kala itu Prof. Sofyan Effendi menyambut baik ajakan Pak Maftuh membuka jalan para santri mengenyam Pendidikan tinggi bergengsi di kota gudeg itu.
Kedua, mengejar ketertinggalan kalangan pondok pesantren pada sains dan teknologi, yang sangat dibutuhkan oleh kehidupan. Sains dan teknologi menjadi pra syarat terbangunnya tata kehidupan yang bahagia dan sejahtera.
“Semua rukun Islam dari mulai syahadat hingga haji membutuhkan dukungan sains dan teknologi, dan santri harus mengambil peran ini”, kata Dr. Imam Safe’i, M.Pd Kasi Kesantrian, orang yang sejak awal menjadi bidan lahirnya PBSB bersama Direktur Pekapontren Dr. Amin Haedari, M.Pd dan Kasubdit Kerjasama Kelembagaan dan Pengembangan Potensi Pontren kala itu Dr. Rohadi Abdul Fatah, M.Ag.
Hadirnya lapisan baru kaum intelektual pesantren dalam dunia kampus bergengsi di negeri ini, apalagi mengambil Prodi Kedokteran yang masih dianggap sulit dan mahal, menjadi dambaan semua orang. Para Pimpinan Pondok Pesantren secara berlahan mulai memahami term-term keilmuan modern yang dikembangkan di Perguruan Tinggi Umum.
Ketiga, PBSB mencetak profil sarjana berkarakter sekaligus professional. Melalui pemberian beasiswa di PTN Ternama di Indonesia, seperti IPB, UGM, ITS, UNAIR, UI, ITB dan UIN, maka akan lahir tenaga-tenaga yang professional di bidangnya, sekaligus memiliki karakter yang kuat.
Berpadunya antara moralitas dan karakter di satu sisi dengan kecakapan professional di sisi yang lain, yang dimiliki kaum santri, akan mengubah dunia. Dimulai dari pesantren, digodok dalam kawah candradimuka perguruan tinggi, maka manfaatnya akan dirasakan tidak hanya oleh pesantren sendiri, tetapi oleh Masyarakat luas. Dokter yang santri dan santri yang dokter menjadi wajah baru dalam dunia kesehatan.
Dalam hal ini Sir William Olser (1849-1919) memberikan apresiasi kepada para dokter, ia mengatakan “… izinkan saya memberi selamat kepada Anda atas pilihan panggilan yang menawarkan kombinasi kepentingan intelektual dan moral yang tidak ditemukan dalam profesi lain.”
Kesuksesan Kemenag mendesain “Santri Jadi Dokter”, melalui Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB), di contoh oleh Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin dengan Bupati waktu itu Alex Nurdien dan dilanjutkan menjadi program Pemda Sumatera Selatan, ketika beliau menjadi Gubernur.
Beasiswa BIB-PBSB
Cerita sukses (sucses Story) mengantarkan para santri menjadi dokter, dilanjutkan oleh Kementerian Agama sampai sekarang. Dalam rentang wakru 2005-2024 PBSB yang didalamnya konsen pada Pendidikan Dokter menggunakan DIPA Ditjen Pendidikan Islam dan dikelola oleh Direktorat Pdpontren.
Mulai tahun 2025 penanganan PBSB ditransformasikan ke dalam lembaga baru Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (PUSPENMA). Sebuah lembaga di bawah dan bertanggungjawab kepada Menteri Agama melalui Sekretaris Jenderal, menjadi babak baru pengelolaan beasiswa pada Kemenag termasuk PBSB.(PMA 33 Tahun 2024). Pun dalam masalah pendanaan, yang semula dengan anggaran Rupiah Murni termaktub dalam DIPA-APBN Ditjen Pendidikan Islam, kini melalui anggaran Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), buah dari Beasiswa Kolaboratif antara LPDP-Kemenag.
Hari ini Rabu (13/08) dalam kapasitasnya sebagai Kepala PUSPENMA saya hadir mengikuti pembukaan matrikulasi bagi Awardee BIB-PBSB yang studi pada Pendidikan Dokter UIN Jakarta. Secercah harapan gagasan brillian the founding fathers PBSB Kemenag dapat dilanjutkan untuk mencetak Santri Menjadi Dokter. 22 Mahasiswa-Santri ditetapkan sebagai Awardee Pendidikan Dokter yang berasal dari berbagai pesantren di Nusantara.
Mencetak Santri Menjadi Dokter, harus menjadi komitmen (political will) para pimpinan Kemenag di tengah pemenuhan kebutuhan dokter secara nasional. Dokter-dokter berlatar belakang pesantren ini, akan mengisi Rumah Sakit yang dimiliki pesantren secara khusus dan akan menyebar dalam wilayah NKRI.
Data Kementerian Kesehatan RI menyebut Indonesia membutuhkan 270 ribu dokter, sesuai dengan jumlah penduduk 270 juta jiwa, mengacu kepada standar WHO, jumlah dokter ideal 1:1.000. Saat ini Indonesia baru memiliki 120.000 dokter untuk 270 juta penduduk.
Keberadaan Pos Kesehatan Pondok Pesantren (POSKESTREN) yang selama ini telah eksis, harus dikembangkan menjadi Poliklinik bahkan Rumah Sakit di pesantren-pesantren se-Indonesia. Sehingga dapat mengatasi problem rentannya komunitas pesantren akan pelbagai penyakit. Ikhtiar menciptakan eko pesantren dengan ketersediaan Rumah Sakit yang representative menjadi keharusan dan mendesak.
Program Santri Menjadi Dokter menjadi piranti mewujudkan mimpi-mimpi. Mimpi akan Indonesia yang sehat hingga Pondok Pesantren yang sehat. Dengan demikian BIB-PBSB berkontribusi secara signifikan bagi ikhtiar menyambut Indonesia Emas 2045.
Melalui pendanaan LPDP, PUSPENMA akan terus mencetak sarjana kedokteran untuk mengisi ruang-runag public yang kosong. Santri Menjadi Dokter adalah solusi terbaik, diantara focus Kemenag memberikan beasiswa untuk peningkatan sumber daya manusia. Wallahu a’lam bi al-shawab.
Ruchman Basori (Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan Setjen Kemenag)
