Proses pencarian pelatih baru untuk Timnas Indonesia memasuki fase kritis. Komite Eksekutif (Exco) PSSI telah menyaring dua nama kandidat utama yang akan menjalani wawancara mendalam untuk menduduki posisi pengganti Patrick Kluivert.
Anggota Exco PSSI, Sumardji, yang juga Ketua Badan Tim Nasional, mengonfirmasi penyempitan kandidat ini. Namun, ia masih menahan diri untuk mengungkap identitas kedua pelatih tersebut kepada publik.
“Kami akan pilih dua pelatih terlebih dahulu untuk dibahas lebih detail. Ya, tunggu saja [nama-nama yang diwawancara] karena kami mau cari yang terbaik,” kata Sumardji seperti dilaporkan CNN Indonesia, Selasa (2/12).
Proses seleksi telah dilakukan dengan serius. Sebelumnya, PSSI telah mengutus Direktur Teknik Alexander Zwiers bersama dua anggota Exco, Endri Erawan dan Muhammad, untuk mewawancarai sejumlah calon di luar negeri.
“Nanti setelah bertiga itu kembali ke Indonesia, baru kami akan gelar rapat Exco PSSI. Jadi nanti akan ada rankingnya dari satu sampai lima, siapa urutan yang terbaik. Setelah itu kami bahas bersama-sama,” jelas Sumardji.
Meski namanya belum diumumkan resmi oleh PSSI, dua sosok telah mencuat sebagai kandidat terkuat berdasarkan pemberitaan berbagai media, termasuk sejumlah outlet Eropa: Giovanni van Bronckhorst asal Belanda dan John Herdman asal Inggris.
Spekulasi ini semakin kuat setelah media seperti Sky Sports, Daily Mail, dan Voetbalzone membahas ketertarikan PSSI pada kedua pelatih tersebut. Keduanya dianggap memiliki rekam jejak yang mentereng, meski dengan latar belakang dan keunggulan yang sangat berbeda.
Profil & Keunggulan Dua Kandidat Top
1. Giovanni Van Bronckhorst: Berpengalaman di Level Klub
Pelatih berusia 50 tahun asal Belanda ini membawa portofolio prestasi yang gemilang di tingkat klub. Sepanjang karier kepelatihannya, ia telah mengoleksi tujuh gelar dari empat klub berbeda, termasuk gelar Eredivisie bersama Feyenoord dan Piala Skotlandia bersama Rangers. Ia juga pernah menjadi bagian dari staf kepelatihan Liverpool.
Secara taktis, Van Bronckhorst dikenal dengan filosofi permainan modern, agresif, dan menekan tinggi. Ia kerap mengombinasikan formasi 4-3-3 dan 4-2-3-1 dengan mengandalkan serangan dari sisi sayap dan transisi cepat. Gaya ini dinilai selaras dengan fondasi permainan Timnas Indonesia yang dibangun Shin Tae-yong, yang mengandalkan kecepatan pemain sayap.
Namun, kelemahan utama Gio, demikian ia biasa disapa, adalah belum memiliki pengalaman melatih tim nasional senior. Catatan kariernya juga menunjukkan tren inkonsistensi di beberapa klub, yang kerap berujung pada pemecatan sebelum kontrak berakhir.
Mantan kapten Timnas Belanda itu merupakan kandidat dengan prestasi paling mencolok. Selama karier melatihnya, ia telah mengoleksi 7 trofi dari empat klub berbeda:
- Feyenoord Rotterdam
- Juara Eredivisie
- Juara Piala KNVB
- Juara Piala Super Belanda
- Rangers FC (Skotlandia)
- Juara Piala Skotlandia
- Finalis Liga Europa 2022
- Besiktas (Turki)
- Juara Piala Super Turki 2024/2025
Ia juga sempat menjadi bagian staf pelatih Liverpool di era Arne Slot yang berhasil meraih gelar Liga Inggris.
Dalam hal taktik, Gio dikenal sebagai pelatih yang fleksibel serta modern. Formasi andalannya:
Ciri khasnya adalah:
- Pressing tinggi
- Permainan menyerang dari sayap
- Rotasi pemain dinamis
- Cuild-up cepat setelah merebut bola
Gaya bermain tersebut dinilai relatif selaras dengan karakter Timnas Indonesia era Shin Tae-yong yang mengandalkan kecepatan dan transisi cepat.
Namun, Gio punya catatan:
- Beberapa klub yang ia tangani mengalami fase penurunan performa
- Sebagian masa jabatannya berakhir akibat tren negatif
- Belum pernah melatih tim nasional
2. John Herdman: Spesialis Tim Nasional
Berbeda dari Van Bronckhorst, John Herdman (50 tahun) justru membangun reputasinya di level tim nasional. Prestasi terbesarnya adalah membawa Timnas Kanada lolos ke Piala Dunia 2022 setelah absen selama 36 tahun. Sebelumnya, ia juga sukses menangani tim putri Kanada dengan meraih dua medali perunggu Olimpiade.
Secara statistik, catatannya bersama Kanada cukup solid: 36 kemenangan, 7 imbang, dan 15 kekalahan dalam lima tahun. Herdman dikenal sebagai manajer yang piawai membangun mentalitas tim dan relasi baik dengan pemain.
Secara taktis, ia fleksibel, sering beralih antara formasi 3-4-3, 4-4-2, atau 4-2-3-1. Pola permainannya mengandalkan transisi terstruktur dari belakang, memanfaatkan kecepatan sayap, dan pressing yang terorganisir.
Namun, titik lemah Herdman justru ada di level klub. Karier singkatnya di Toronto FC di MLS dinilai kurang sukses dengan 25 kekalahan dari 46 pertandingan. Ia juga belum memiliki gelar juara seperti yang dimiliki Van Bronckhorst.
Capaian terbesarnya:
- Membawa Kanada lolos ke Piala Dunia 2022, pertama kali sejak 1986
- Membantu Timnas Wanita Kanada meraih dua medali perunggu Olimpiade (2012 & 2016)
- Punya win rate 71% selama melatih Timnas Kanada Putra
- Ahli meningkatkan performa negara non-unggulan
Secara taktikal, Herdman dikenal fleksibel dan adaptif:
- 3-4-3 (formasi utama)
- 4-4-2
- 4-2-3-1
Ia sangat kuat dalam:
- Manajemen pemain
- Membangun mental juara
- Menciptakan identitas permainan
- Memaksimalkan talenta muda
Di Kanada, ia sukses menyatukan generasi emas seperti Alphonso Davies, Jonathan David, hingga Tajon Buchanan.
Kelebihan Herdman untuk Indonesia:
- Pengalaman khusus membangun tim nasional
- Ahli membentuk filosofi jangka panjang
- Terbiasa bekerja dengan pemain diaspora
Potret ini membuat Herdman lebih cocok untuk proyek jangka panjang PSSI.
Siapa ang Lebih Cocok untuk Timnas Indonesia?
Pertimbangan PSSI nampaknya akan terjebak dalam pilihan klasik antara prestasi klub yang nyata (Van Bronckhorst) versus keahlian spesifik menangani tim nasional dan pembangunan proyek jangka panjang (Herdman).
Van Bronckhorst menawarkan kredibilitas tinggi, gaya permainan menawan, dan magnet untuk menarik pemain naturalisasi keturunan Belanda. Namun, risiko adaptasinya ke lingkungan timnas dan budaya Indonesia menjadi tanda tanya.
Sementara Herdman menawarkan bukti nyata bisa membangun tim nasional dari nol, membawa tim melalui kualifikasi Piala Dunia, dan manajemen pemain yang baik. Tantangannya adalah ia belum teruji di luar konfederasi CONCACAF dan kurangnya glitter trofi bisa menjadi pertanyaan bagi publik.
Keputusan akhir kini berada di tangan Exco PSSI. Setelah tim seleksi kembali dan memberikan ranking, rapat tertutup akan digelar untuk menentukan siapa yang paling cocok memimpin Garuda dalam tantangan kualifikasi Piala Asia 2027 dan Piala Dunia 2030 mendatang.
Yang pasti, pilihan terhadap salah satu nama ini akan menjadi penentu arah sepak bola Indonesia untuk beberapa tahun ke depan.
