Agustus bukan hanya tentang perayaan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, tapi juga momentum refleksi atas lonjakan inovasi digital di Indonesia. Salah satu sorotan utama tahun ini adalah Agentic AI teknologi cerdas yang tak lagi sekadar “generatif”, melainkan mampu bernalar, merencanakan, dan bertindak secara mandiri.
“Dalam momentum peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, kita perlu menyoroti bahwa salah satu takdir digital Indonesia ditentukan oleh bagaimana kita menyikapi dan mengadopsi AI,” jelas Adi Rusli, Country Manager, Indonesia, Palo Alto Networks.
Di balik kemampuannya mengotomatisasi tugas kompleks tanpa campur tangan manusia, tersimpan potensi risiko yang tak bisa diabaikan. Ketika AI mulai berperan layaknya karyawan digital, ancaman terhadap data sensitif dan sistem internal pun ikut meningkat, terutama di tengah minimnya pengawasan IT dan masifnya adopsi digital nasional.
Fenomena ini semakin terasa karena Indonesia kini menjadi salah satu pusat adopsi teknologi tercepat di Asia Tenggara. Agentic systems dan Generative AI telah menyusup ke berbagai sektor dari keuangan hingga pemerintahan mengubah cara kerja dan gaya hidup masyarakat.
Studi terbaru dari Palo Alto Networks menunjukkan bahwa pekerja Indonesia semakin mengandalkan aplikasi GenAI untuk meningkatkan produktivitas. Namun, semakin luas penggunaannya, semakin besar pula tanggung jawab yang harus diemban. Integrasi teknologi bukan hanya soal efisiensi, tapi juga soal keamanan dan etika.
Melihat peluang sekaligus ancaman ini, pemerintah Indonesia mulai bergerak cepat. Dengan target kontribusi AI sebesar US$366 miliar terhadap PDB pada 2030, Kementerian Komunikasi dan Digital tengah merancang Peraturan Presiden sebagai landasan implementasi Peta Jalan Nasional AI. Regulasi ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan lokal sekaligus menjaga kepercayaan publik di tengah transformasi digital yang terus bergulir.
Tantangan terbesar kini terletak pada keamanan siber. Agentic AI membuka celah baru yang bisa dimanfaatkan oleh peretas mulai dari manipulasi perintah, penyalahgunaan API, hingga eksekusi kode berbahaya. Tanpa kontrol akses yang ketat dan sistem pemantauan real-time, risiko kebocoran data dan penyamaran identitas menjadi ancaman nyata. Dalam lingkungan multi-agen, satu celah bisa berarti bencana sistemik.
Menurut Adi Agentic AI bukan sekadar teknologi baru, tapi perubahan paradigma. Untuk membuka potensi dan menjaga kendali, keamanan harus menjadi fondasi utama. Maka dari itu, pendekatan Zero Trust, pemetaan sistem, dan pembatasan akses berbasis peran menjadi strategi wajib bagi organisasi yang ingin mengadopsi AI secara aman.
“Agentic AI bukan sekadar peningkatan teknologi; ini adalah perubahan paradigma. Para ‘karyawan digital’ yang bekerja secara otonom ini menawarkan kekuatan luar biasa, namun juga membawa risiko yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Adi lagi.
Di era Agentic AI, lanskap keamanan siber tak lagi sama. Indonesia punya peluang besar untuk menjadi pemimpin regional dalam penerapan AI yang bertanggung jawab. Tapi untuk mencapainya, integrasi keamanan sejak awal bukan hanya pilihan itu adalah keharusan.
“Untuk membuka potensi mereka dan mengamankan masa depan digital Indonesia, keamanan harus menjadi fondasi dari kepercayaan dan kendali,” tutup Adi.
