Oman Fathurahman (Ketua Mustasyar Diniy PPIH Arab Saudi 2025, Pengasuh Pesantren Al-Hamidiyah Depok, Pengampu Ngaji Manuskrip Kuno Nusantara)
Dulu, orang berhaji sambil mengaji. Pesertanya bukan hanya jemaah dari negeri kita sendiri, melainkan merata dari seluruh negeri.
Pada abad 18, seorang ulama Palembang,Sumatra Selatan, Syekh Abdussamad al-Palimbani (kl. 1704-1791) berbagi cerita dalam karyanya:
“…Kemudian dari itu, maka tatkala ada hijrah nabi Saw 1178 tahun maka datang daripada negeri Mesir kepada negeri Mekkah yang musyrifah dengan maksud akan haji seorang alim yang ‘allamah yang mem[p]unyai dengan beberapa karangan kitab yang masyhur, yaitu Syekh Ahmad ibn Abdul Mun’im al-Damanhuri….” (MS Zuhrat al-Murid, Koleksi Syekh Muhammad Said Library, Marawi City, Mindanao, Filipina Selatan).
Syekh al-Palimbani yang juga hadir pada musim haji tahun 1178 H/1765 M tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berguru dan berilmu,
“Maka hadirlah dalam darasnya itu kebanyakan ulama Mekkah dan ulama Mesir yang ada di dalamnya negeri Mekkah, dan hamba yang fakir kepada Allah ta’ala yaitu ‘Abdussamad ibn ‘Abdurrahman Jawi Palimbani pun hadir serta mereka itu, daripada awal kitab hingga akhirnya…”.
Baca juga: Puncak Haji Armuzna
Dapat dibayangkan, masa tunggu para jemaah sebelum datangnya puncak haji masa itu diisi dengan berburu sanad ilmu, belajar kepada para guru mumpuni dari berbagai penjuru negeri. Maklum, mereka tinggal tidak dalam hitungan bulan, melainkan beberapa tahun. Ketika kembali ke tanah air, sempurnalah gelar haji, dan bertambah pula pengetahuan agama.
Dalam berhaji masa kini, tradisi berilmu (rihlah ‘ilmiyyah) seperti itu telah tiada, jemaah haji hanya bisa fokus menjalani rangkaian ritual haji, interaksi dengan jemaah asal negara lain juga jarang lagi terjadi, berkumpul di Masjidil Haram untuk “sorogan” mengaji pun sudah tidak memungkinkan lagi. Durasi berhaji dibatasi, tiket kepulangan sudah dipesan, masa tinggal tidak lebih dari dua bulan.
Karenanya, bimbingan dan konsultasi ibadah yang difasilitasi oleh PPIH Arab Saudi Kementerian Agama RI menjadi satu-satunya medium di mana jemaah haji Indonesia bisa menempa diri, bertanya soal agama, serta menimba ilmu dari pada pembimbing ibadah dan Mustasyar Diny (Konsultan Ibadah).
Mustasyar Diny beranggotakan para tokoh agama, kyai, bu nyai, dan akademisi yang menguasai ilmu perhajian. Mereka memikul tanggung jawab memberikan pandangan keagamaan serta jawaban atas masalah-masalah fikih haji, khususnya yang dialami jemaah dalam kehidupan sehari-hari selama di tanah suci.
Ada aneka ragam pertanyaan yang dikonsultasikan: hukum memakai pampers bagi jemaah pria lansia ketika ihram, jalan keluar pasangan suami istri yang kebablasan berhubungan badan sebelum tahallul, hukum wukuf bagi perempuan yang haid, hukum umrah sunnah berkali-kali, hingga solusi atas khilaf yang bersifat pribadi.
Untuk memberikan layanan konsultasi ibadah itu, selama musim haji, Mustasyar Diny dan Pembimbing Ibadah berkeliling menemui jemaah melalui kegiatan visitasi dan edukasi. Meski cuaca ekstrem terik disengat matahari, tak jarang para kyai dan bu nyai Mustasyar Diny rela berpayah-payah berjalan kaki, berpindah dari satu hotel ke hotel lain menjumpai jemaah.
Semua kloter didatangi, tak terkecuali. Dengan begitu, jemaah haji tetap mendapat kesempatan menambah ilmu, meski tidak sampai khusus berguru seperti dahulu.
Seorang jemaah haji memberikan testimoni, “Alhamdulillah sekarang saya menjadi tahu bahwa menjaga jiwa (hifz al-nafs) adalah paling penting di atas segalanya; saya bisa memilih cara berhaji yang tidak membahayakan jiwa, karena ternyata banyak pilihan kalau tahu ilmunya”.
Semoga para jemaah haji Indonesia merasa aman, nyaman, dan mabrur sepanjang umur.
اللهم اجعله حجا مبرورا وسعيا مشكورا وذنبا مغفورا وعملا مقبولا وتجارة لن تبور
Oman Fathurahman (Ketua Mustasyar Diniy PPIH Arab Saudi 2025, Pengasuh Pesantren Al-Hamidiyah Depok, Pengampu Ngaji Manuskrip Kuno Nusantara)