Sorotan utama di matchay ketujuh Liga Champions 2025/2026 akan tertuju pada Italia, di mana dua tim dengan pertahanan terkuat di turnamen ini, Inter Milan vs Arsenal, akan berduel dalam laga yang sangat dinantikan.
Lampu-lampu di Giuseppe Meazza tidak hanya akan menerangi bintang-bintang penyerang yang glamor. Lampu-lampu itu juga akan menyinari pertarungan strategi yang mendebarkan antara dua sistem pertahanan terkuat di Eropa saat ini.
Ketika Arsenal, yang hanya kebobolan satu gol di Liga Champions, bertandang ke markas Inter Milan, pertanyaannya bukanlah siapa yang mencetak lebih banyak gol, tetapi siapa yang akan melakukan kesalahan pertama.
Pada pertandingan ketujuh Liga Champions, Arsenal tiba di Italia dengan rekor sempurna enam kemenangan. Namun, di balik rekor mengesankan itu terdapat kekhawatiran nyata tentang lini serang yang secara bertahap kehilangan ketajamannya, setelah dua pertandingan Liga Inggris berturut-turut tanpa mencetak gol melawan Liverpool dan Nottingham Forest.
Menghadapi mereka adalah Inter Milan, yang dilatih oleh Cristian Chivu, sebuah tim yang saat ini memimpin Serie A tetapi bersedia mengadopsi pendekatan defensif, memberikan penguasaan bola kepada lawan sebelum memberikan pukulan penentu.
Arsenal dan Masalah Serangan Mereka
Manajer Mikel Arteta telah mengubah Arsenal menjadi mesin kemenangan yang tangguh, tetapi sistem tersebut menunjukkan tanda-tanda kerusakan pada titik paling krusial musim ini. Dua hasil imbang 0-0 berturut-turut di Liga Inggris melawan Liverpool dan Nottingham Forest bukanlah suatu kebetulan.
Hal itu mengungkap masalah yang terus berulang ketika Arsenal menghadapi tim yang bermain defensif.
Statistik dari pertandingan melawan Nottingham Forest adalah contoh yang menyakitkan. Arsenal mendominasi penguasaan bola dan menciptakan empat peluang besar, tetapi skor tetap 0-0. Jadi, apa akar permasalahan ini ?
Pertama, beban yang terlalu berat pada pemain kunci. Harus memainkan empat pertandingan dalam 10 hari telah menyebabkan pemain seperti Bukayo Saka dan Gabriel Martinelli kehilangan kelincahan mereka dalam sentuhan akhir. Kedua, Arsenal kekurangan opsi alternatif berkualitas melawan tim yang bermain defensif. Ketika kombinasi umpan segitiga mereka di lini tengah dinetralisir, “The Gunners” tampaknya kesulitan menemukan cara untuk mencetak gol.
Bertandang ke Giuseppe Meazza dengan serangan yang belum menghasilkan gol sama sekali merupakan sebuah perjudian. Rentetan gol tandang Arsenal (14 pertandingan) berakhir tepat ketika mereka sangat membutuhkan kepercayaan diri. Dan sayangnya, lawan mereka adalah ahli dalam seni bertahan.
Cristian Chivu dan Filsafat Pragmatisnya
Sementara Simone Inzaghi sebelumnya lebih menyukai fleksibilitas dan kontrol, Cristian Chivu sedang membangun Inter Milan yang pragmatis dan sangat efektif. Kemenangan 1-0 baru-baru ini melawan Udinese adalah contoh utama filosofi Chivu. Tidak perlu penguasaan bola berlebihan, tidak perlu mendikte permainan, cukup fokus pada hasil.
Berbicara menjelang pertandingan melawan Arsenal, Chivu menegaskan: “Kami tidak punya waktu untuk berpikir tentang mengendalikan permainan. Kami tahu kapan harus bekerja keras, lebih banyak bertahan, dan melindungi keunggulan kami.”
Ini bukan sekadar kata-kata kosong. Ini adalah deklarasi perang melawan skuad asuhan Mikel Arteta.
Sistem 3-5-2 Inter akan menampilkan beberapa “benteng kokoh”. Alessandro Bastoni, setelah beristirahat, akan kembali bergabung dengan Francesco Acerbi dan Manuel Akanji untuk membentuk “tembok baja” di depan gawang Yann Sommer. Melihat statistik, Inter hanya kebobolan 4 gol di Liga Champions musim ini, rekor yang hanya dilampaui oleh Arsenal.
Kembalinya Bastoni sangat penting. Dia bukan hanya bek tengah bertahan yang bagus, tetapi juga unit pengumpan bola kunci yang dapat menembus tekanan tinggi. Melawan tim Arsenal yang gemar menerapkan taktik tekanan tinggi, kemampuan umpan Bastoni akan menjadi kunci bagi Inter untuk melepaskan diri dan melancarkan umpan panjang kepada Marcus Thuram atau Lautaro Martinez untuk berlari ke depan.
Pertarungan Kecerdasan di Bangku Pelatih
Pertandingan ini juga merupakan bentrohan menarik antara dua filosofi kepelatihan. Mikel Arteta menghadapi dilema: haruskah ia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mempertahankan rekor kemenangan di Liga Champions, atau haruskah ia menghemat energi untuk pertandingan penting Liga Premier melawan Manchester United nanti?
Arsenal kemungkinan besar akan merotasi skuad mereka. Declan Rice, Mikel Merino, dan Christian Norgaard semuanya berisiko terkena sanksi jika mereka menerima kartu kuning lagi. Dengan kualifikasi yang sudah dipastikan dengan 18 poin, Arteta mungkin akan mengistirahatkan pemain kunci untuk memberi kesempatan kepada talenta muda seperti Ethan Nwaneri, Myles Lewis-Skelly, atau Max Dowman.
Namun di sinilah “jebakan” Chivu berperan. Ahli strategi asal Rumania ini akan memperhitungkan Arsenal yang mungkin tidak menurunkan susunan pemain terkuat mereka. Ia mungkin akan menyiapkan “jebakan” di lini tengah. Terlepas dari absennya Hakan Calhanoglu, dengan pemahaman Henrikh Mkhitaryan tentang sepak bola Inggris, mantan pemain Manchester United dan Arsenal, serta dinamisme Nicolo Barella, Inter akan sangat berbahaya dalam situasi transisi.
Chivu menginginkan Arsenal untuk menyerang ke depan, sehingga menciptakan celah di belakang. Kemudian, kecepatan Marcus Thuram dan oportunisitas Lautaro Martinez akan menjadi senjata penyelesaian akhir. Inter sedang kesulitan setelah kalah dalam dua pertandingan Liga Champions berturut-turut melawan Atletico Madrid dan Liverpool; mereka harus menang untuk menghindari musim tanpa trofi lagi. Tekad tim Serie A tersebut, dikombinasikan dengan gaya bermain pragmatis Chivu, akan menjadi tantangan signifikan bagi Arsenal.
Mengingat sifat pertandingan di mana tim tamu mungkin tidak akan bermain habis-habisan dan tim tuan rumah membutuhkan poin tetapi lebih menyukai gaya bermain defensif, para penggemar hampir tidak dapat mengharapkan pesta gol. Pertandingan kemungkinan besar akan ditentukan oleh momen kehebatan individu atau kesalahan fatal di lini pertahanan.
Akankah Arsenal mengatasi masalah mencetak gol mereka, atau akankah Inter Milan mengakhiri rentetan kemenangan tim Inggris tersebut? Jawabannya hanya akan terungkap pada pertandingan mendatang di Giuseppe Meazza.
