Insiden offside semi-otomatis di semifinal Piala Carabao semakin memicu keraguan tentang kemampuan VAR di Liga Inggris (Premier League).
Semifinal Carabao Cup antara Manchester City dan Newcastle United di St James’ Park menjadi fokus kontroversi, bukan karena hasil pertandingan kedua tim, tetapi karena keputusan VAR yang berlangsung selama 5 menit 40 detik.
Ini adalah salah satu jeda VAR terlama dalam sepak bola Inggris sejak teknologi tersebut diterapkan pada musim 2019–2020. Gol Antoine Semenyo dianulir setelah tinjauan yang kompleks, dengan alasan bahwa Erling Haaland berada dalam posisi offside dan berdampak pada permainan.
Menurut PGMOL, badan pengatur wasit profesional di Inggris, teknologi offside semi-otomatis tidak dapat berfungsi karena banyaknya pemain yang mengelilingi area bola. Sistem yang disediakan oleh Genius Sports tersebut harus dihentikan sementara, memaksa teknisi untuk menggambar garis offside secara manual.
Selanjutnya, tim wasit harus membuat penilaian subjektif apakah Haaland terlibat dalam insiden tersebut. Proses ini memperpanjang waktu penanganan dan mengganggu ritme pertandingan.
Insiden tersebut langsung menimbulkan pertanyaan di dalam Liga Premier . Beberapa pemimpin klub berpendapat bahwa penggunaan mikrochip di dalam bola, seperti sistem Hawkeye milik FIFA dan UEFA, dapat mengurangi situasi di mana teknologi menjadi “buta data” ketika pemain berkerumun. Mikrochip memungkinkan identifikasi yang tepat tentang momen pasti bola meninggalkan kaki pemain, faktor kunci dalam keputusan offside.
Premier League dikritik karena menerapkan teknologi offside semi-otomatis lebih lambat daripada liga-liga besar Eropa lainnya. Sistem tersebut baru digunakan pada April lalu, setelah berbagai uji coba dan penundaan.
Pada saat itu, Tony Scholes, Direktur Sepak Bola Premier League, menyatakan: “Sistem yang telah kami terapkan, menurut kami, adalah yang terbaik, paling akurat, dan paling berorientasi masa depan.” Ia juga menekankan bahwa liga tidak membutuhkan mikrochip di dalam bola untuk mencapai akurasi tinggi.
Dalam pernyataan terbarunya, PGMOL mengakui bahwa penundaan di St James’ Park telah membuat frustrasi para pemain dan penggemar. Namun, badan tersebut memberikan sedikit jaminan dengan mengutip angka-angka yang menunjukkan bahwa waktu VAR rata-rata di Liga Premier kini telah turun di bawah 50 detik dalam dua musim terakhir, termasuk waktu untuk mengumumkan keputusan kepada penonton di stadion. Hal ini dipandang sebagai upaya untuk meningkatkan pengalaman menonton pertandingan setelah bertahun-tahun mendapat kritik.
PGMOL juga menyoroti bahwa Premier League saat ini memiliki tingkat intervensi VAR terendah di Eropa. Rata-rata, VAR hanya melakukan intervensi sekali setiap empat pertandingan.
Organisasi tersebut menegaskan komitmennya untuk menjunjung tinggi prinsip memprioritaskan “keputusan awal wasit di lapangan,” menetapkan ambang batas yang sangat tinggi untuk intervensi VAR dalam situasi yang membutuhkan penilaian.
Namun demikian, insiden Piala Carabao menunjukkan bahwa kesenjangan antara teori dan realitas masih signifikan. Ketika teknologi gagal, sepak bola terpaksa kembali pada penilaian manusia.
Dan hal itu terus menempatkan VAR dalam kondisi kontroversi yang berkepanjangan, di mana setiap keputusan besar dapat mengguncang kepercayaan para penggemar.
