Pengumuman penghargaan FIFA Puskás Award, trofi untuk gol terindah sepanjang tahun telah diketahui. Sayang, bek Persija Jakarta, Rizky Ridho gagal keluar sebagai pemenang.
Tahun ini, gelar tersebut diraih oleh Santiago Montiel, pemain berusia 25 tahun dari klub Argentina Independiente. Gol spektakuler Montiel terjadi pada Mei 2025, saat Independiente menghadapi Independiente Rivadavia di liga domestik Argentina.
Dari luar kotak penalti, sekitar 20 yard dari gawang, Montiel melepaskan tendangan bicycle kick atau overhead kick yang sempurna, bola meluncur deras ke pojok atas gawang tanpa bisa dihalau kiper lawan.
Gol ini tidak hanya memberi kemenangan bagi timnya, tapi juga menjadi karya seni yang memukau jutaan penonton di seluruh dunia. Menurut pengumuman resmi FIFA, Montiel mengumpulkan poin tertinggi dengan total 21 poin, terdiri dari 13 poin dari panel juri dan 8 poin dari voting publik penggemar.
Sistem pemungutan suara ini diawasi oleh pengamat independen untuk memastikan transparansi dan keadilan. Montiel berhasil mengungguli dua nama besar lainnya di posisi tiga besar: Declan Rice dari Arsenal dan Lamine Yamal dari Barcelona.
Rice masuk nominasi berkat tendangan bebas briliannya melawan Real Madrid di perempat final Liga Champions UEFA pada April 2025. Bola melengkung sempurna melewati pagar betis dan menukik ke sudut gawang, sebuah eksekusi yang disebut-sebut sebagai salah satu free-kick terbaik musim ini.
Sementara Yamal, wonderkid Barcelona, menyumbang golazo saat menghadapi Espanyol di La Liga pada Mei 2025. Dengan skill individu luar biasa, ia melewati beberapa pemain sebelum melepaskan tembakan akurat yang tak terhentikan.
Di antara 11 nominasi awal, ada satu nama dari Asia Tenggara yang mencuri perhatian: Rizky Ridho, bek tengah Persija Jakarta dan Timnas Indonesia. Gol Ridho dicetak pada Maret 2025 saat Persija bertemu Arema di Liga 1 Indonesia.
Sebuah tendangan jarak jauh atau momen akrobatik yang membuatnya masuk shortlist bergengsi ini, prestasi bersejarah bagi sepak bola Indonesia.
Sayangnya, Ridho tidak berhasil masuk tiga besar akhir. Meski gagal meraih trofi, reaksi Ridho justru menjadi sorotan positif. Melalui akun media sosial pribadinya, ia menyampaikan ucapan yang penuh sportivitas.
“Terima kasih atas dukungannya semua teman-teman. Rezekine Cak Montiel,” kata Ridho.
Kalimat sederhana ini langsung viral, menunjukkan sikap rendah hati dan penerimaan yang dewasa atas kekalahan.
Reaksi tersebut mencerminkan kelas seorang atlet profesional. Di tengah euforia nasional yang sempat membanjiri saat namanya masuk nominasi, Ridho memilih merayakan kemenangan orang lain ketimbang kecewa berlarut.
Sikap ini mendapat pujian luas dari penggemar internasional, termasuk di platform seperti Reddit dan media Eropa yang menyebutnya sebagai contoh fair play.
Bagi sepak bola Indonesia, nominasi Ridho tetap menjadi milestone berharga. Untuk pertama kalinya, seorang pemain dari Liga 1 mendapat pengakuan global di level Puskás Award.
Ini membuktikan bahwa talenta Indonesia mampu bersaing di panggung dunia, sekaligus menjadi motivasi bagi generasi muda untuk terus mengasah kemampuan.
Kemenangan Montiel memang pantas, tapi cerita di baliknya—termasuk reaksi berkelas dari Ridho—mengingatkan kita bahwa sepak bola bukan hanya soal trofi, tapi juga tentang nilai-nilai sportivitas dan rasa hormat. Selamat untuk Montiel, dan terima kasih Ridho atas inspirasi yang diberikan.
