Masa depan gelandang Kobbie Mainoo di Manchester United menjadi topik hangat menjelang jendela transfer musim dingin.
Menurut Caught Offside, lebih dari 12 klub memantau gelandang kelahiran 2004 ini, dengan Chelsea dan Bayern Munchen menjadi dua nama yang paling menonjol. Namun, tujuan pilihan Mainoo adalah Napoli, juara bertahan Serie A Liga Italia.
Jika ia bergabung dengan stadion Diego Armando Maradona, Mainoo akan bertemu kembali dengan dua mantan rekan setimnya, Scott McTominay dan Rasmus Hojlund. Hojlund saat ini bermain untuk Napoli sebagai pemain pinjaman.
Dengan kebutuhan akan waktu bermain reguler untuk mengembangkan kariernya dan mempertahankan posisinya di skuad Inggris, pencarian Mainoo untuk klub baru pada Januari 2026 sepenuhnya dapat dimengerti. Sejak Ruben Amorim mengambil alih sebagai manajer di Manchester United, Mainoo kesulitan untuk mendapatkan tempat di tim inti.
Manajer asal Portugal itu sering mempercayakan duet gelandang berpengalaman Casemiro dan Bruno Fernandes, dan lebih sering menempatkan Mainoo di bangku cadangan. Musim ini, pemain berusia 20 tahun itu hanya tampil 11 kali di semua kompetisi.
Meskipun demikian, Mainoo masih sangat dihargai oleh para penggemar Manchester United. Setelah menimba ilmu di akademi muda klub, ia pernah dianggap sebagai masa depan lini tengah MU. Tentu saja, Mainoo masih perlu bekerja lebih keras untuk membuktikan dirinya layak mendapatkan tempat di tim inti di Old Trafford.
Belum Dipercaya Ruben Amorim
Manajer Manchster United, Ruben Amorim menegaskan bahwa kemenangan adalah satu-satunya kriteria di Old Trafford, terlepas dari apakah pemain tersebut muda atau veteran.
Ruben Amorim memilih untuk menghadapi gelombang kritik yang melanda Old Trafford secara langsung. Menjelang pertandingan Liga Premier melawan Bournemouth pada pagi hari tanggal 16 Desember, ia mengakui bahwa performa Manchester United tidak memuaskan dan bahwa ia memikul tanggung jawab terbesar atas hasil saat ini.
Dalam beberapa hari terakhir, Rio Ferdinand, Paul Scholes, dan Nicky Butt semuanya telah berbicara tentang Kobbie Mainoo yang tidak diberi cukup kesempatan.
Gelandang berusia 20 tahun itu belum pernah menjadi starter di pertandingan Liga Inggris musim ini dan kemungkinan akan mencari kepindahan pinjaman lain ketika jendela transfer Januari dibuka. Napoli dianggap sebagai tujuan pilihan, seperti musim panas lalu.
Amorim percaya bahwa kritik keras dari para mantan pemain berasal dari standar kemenangan yang pernah mereka bagi bersama di Manchester United. Dalam konteks kesulitan tim saat ini, perbandingan seperti itu menjadi semakin intens. Dia menegaskan bahwa dia menerima semua kritik karena dia memahami bahwa Man United seharusnya mendapatkan lebih banyak poin.
Menurut Amorim, masalah utamanya bukanlah pada satu individu, melainkan pada hasil keseluruhan tim. Ia menekankan: “Satu-satunya masalah adalah tidak menang.” Dan dari situ, Amorim membuat pernyataan yang paling mencolok: “Jika saya menang, saya bisa menunggang kuda ke stadion, bermain dengan dua bek, dan semuanya akan baik-baik saja.”
Baginya, di Sporting Lisbon, semua kontroversi lenyap hanya karena tim tersebut secara konsisten menang.
Mengenai Mainoo, Amorim menegaskan bahwa pemain muda itu telah diberi kesempatan tetapi belum memanfaatkannya sepenuhnya. Ia tidak melarang Mainoo untuk pergi dan bersedia berdialog jika sang gelandang ingin berbicara secara terbuka. Namun, Amorim menekankan bahwa prioritas utama selalu tim dan tujuan untuk menang.
Amorim juga mengklarifikasi aspek taktisnya. Manchester United saat ini bermain dengan dua gelandang tengah, yang membuat Mainoo berada dalam posisi yang kurang menguntungkan. Menurutnya, jika formasi diubah menjadi tiga gelandang, peluang Mainoo untuk bermain mungkin akan berbeda.
Tidak hanya Mainoo, Amorim juga memberikan penilaian jujur tentang pemain muda lainnya. Toby Collyer jarang dimainkan di West Brom, Harry Amass kesulitan di Championship, dan Chido Obi bukan pilihan reguler di tim U21.
Amorim menekankan bahwa semua pemain ini telah diberi kesempatan selama periode ketika ia berada di bawah tekanan yang sangat besar dan terus-menerus menghadapi seruan untuk pemecatannya.
Pesan Amorim jelas: tradisi akademi adalah sumber kebanggaan bagi Manchester United, tetapi itu bukan jaminan untuk mendapatkan tempat di tim inti. Di Old Trafford, kemenangan tetap menjadi standar tertinggi.
