Malam itu, seorang kawan dari Dewan Kesenian Blambangan (DKB) mengirim pesan WhatsApp. Singkat saja: ajakan untuk ikut dalam kegiatan belajar mocoan Lontar Yusuf di Desa Kemiren. Tidak ada kalimat panjang, tidak ada penjelasan detail, hanya sebuah ajakan. Tapi entah mengapa, saya membacanya berulang-ulang, seperti sedang menerima panggilan dari sesuatu yang lebih tua dari umur saya sendiri.
Nama Lontar Yusuf selalu menimbulkan gema yang berbeda di telinga saya. Setiap kali ia disebut, ada sesuatu yang bergetar jauh di dalam hati. Seolah ada pintu gaib yang terbuka, menghubungkan dunia yang kasat mata dengan lapisan-lapisan yang tersembunyi: sejarah panjang, kesenian halus, ritual khusyuk, keyakinan teguh, dan tentu saja doa yang merembes dalam setiap kata. Lontar Yusuf bukan sekadar kitab, bukan sekadar teks yang bisa dibaca tanpa rasa. Ia adalah cermin yang memantulkan wajah manusia, sekaligus jendela yang memperlihatkan cahaya ilahi. Lebih jauh, ia adalah titian halus yang menghubungkan orang Using dengan kisah Nabi Yusuf di tanah Mesir ribuan tahun silam, kisah yang masih bergetar sampai hari ini.
Lontar Yusuf ditulis dengan huruf Pegon, huruf Arab yang diubahsuai agar bisa memuat bunyi lidah Jawa. Di sana ada tambahan huruf: pa, ga, nya, dan lain-lain, bunyi-bunyi yang lahir dari bumi Nusantara. Huruf Pegon tidak lahir dari ruang seminar akademik, melainkan dari pergulatan hidup, dari kerinduan orang Jawa untuk tetap bisa membaca wahyu Tuhan dengan bahasa ibu mereka. Huruf Pegon adalah bukti bahwa iman tidak mengenal batas bahasa. Ia lahir dari kebutuhan batin: bagaimana agar Al-Qur’an bisa dipahami, tafsir bisa diurai, dan doa bisa dibacakan dengan lidah sendiri tanpa kehilangan keagungannya.
Sejak kecil, anak-anak pesantren sudah bersentuhan dengan Pegon. Mereka menuliskan arti kata demi kata Arab dengan bahasa Jawa di bawah teksnya. Seperti menjalin jembatan, huruf-huruf itu menghubungkan dunia yang jauh dengan keseharian yang akrab. Pegon adalah jembatan iman, jembatan doa, jembatan kasih sayang. Dan ketika Pegon menjelma menjadi Lontar Yusuf, ia tidak lagi sekadar huruf. Ia berubah menjadi lagu, menjadi kidung, menjadi nyanyian doa. Membaca Lontar Yusuf tidak cukup dengan melafalkan huruf-hurufnya. Ada irama yang wajib dijaga, ada pakem yang diwariskan, ada pola suara yang turun-temurun. Membaca berarti melagukan, melagukan berarti memanjatkan doa, dan doa yang dilagukan berarti menghidupkan harapan.
Seorang tetua pernah berkata kepada saya: “Mocoan Lontar Yusuf iku kanggo nyuwun berkah, kanggo ngundang katresnan, kanggo nyuwun padhang urip.” Membaca Lontar Yusuf adalah ikhtiar batin untuk meraih keberkahan Nabi Yusuf, untuk memohon cinta yang suci, untuk menjemput cahaya dalam hidup. Dalam keyakinan orang Using, setiap huruf yang dilagukan adalah doa yang terbang menuju langit, mengetuk pintu rahmat Tuhan. Karena itu, banyak yang datang hanya untuk mendengarkan, meski tak semua paham arti kata-katanya. Mereka yakin, di balik kata ada doa, di balik doa ada berkah. Ada yang bahkan menitipkan benda-benda kecil di bawah lontar yang dibacakan: sisir, bedak, minyak wangi. Benda-benda itu bukan sekadar pernak-pernik. Mereka adalah simbol harapan, agar kecantikan dan pesona Nabi Yusuf meresap ke dalam tubuh, agar ketampanan batin menetes ke wajah, agar kasih sayang mengalir ke hati.
Saya membayangkan suasana itu di sebuah rumah sederhana di Kemiren. Lontar dibentangkan, lampu-lampu temaram berkelip seperti bintang kecil, para pembaca duduk bersila. Suara mereka mengalun panjang, kadang meninggi, kadang meluruh. Sisir, bedak, kain, minyak wangi tergeletak di bawah lontar, seakan sedang menunggu sentuhan doa. Dalam keheningan itu, kata berubah menjadi lagu, lagu berubah menjadi doa, dan doa menjelma menjadi Cahaya, di depan kami ada sumping dan kucur serta secangkir kopi agar lebih terjaga dari kantuk. Ada sesuatu yang amat menggetarkan ketika doa dinyanyikan. Doa yang dinyanyikan bukan sekadar kata, melainkan kesabaran yang diwujudkan. Ia menuntut napas panjang, pengendalian suara, kesetiaan pada irama. Itulah sebabnya Lontar Yusuf tidak bisa dibaca sembarangan. Ada lagu-lagu khusus, ada aturan yang tak boleh dilanggar. Doa bukan sekadar isi, melainkan juga cara. Dan cara itu adalah ibadah tersendiri.
Kisah Yusuf yang dilagukan adalah kisah manusia: rupa yang menawan, cinta yang mengguncang, penjara yang sepi, takhta yang tinggi. Nabi Yusuf terkenal bukan hanya karena wajahnya yang rupawan, tetapi juga karena kesabaran hatinya, keteguhan jiwanya. Ia nabi yang diuji dengan fitnah, dibuang ke sumur, dikurung dalam penjara. Namun, pada akhirnya derajatnya ditinggikan, ia diangkat menjadi raja. Membaca Lontar Yusuf berarti menapaki kembali perjalanan itu, seakan-akan pembaca ikut merasakan jatuh-bangun kehidupan sang nabi.
Yang menarik, kisah Yusuf tidak masuk ke Banyuwangi lewat kitab tafsir resmi, tetapi lewat mocoan, hamper sama dengan di jawa dikenal dengan macapat, orang madura menyebut mamaca, tradisi tutur, tradisi nyanyian. Seperti air yang merembes perlahan ke tanah, kisah Yusuf meresap ke hati orang Osing lewat nada. Dari situlah Lontar Yusuf menjadi sarana doa: dibacakan di pernikahan, di khitanan, di saat keluarga punya hajat besar. Namun ada yang membuat hati saya resah. Di Kemiren, kelompok mocoan Lontar Yusuf memang masih ada, tapi kebanyakan anggotanya sudah berusia di atas lima puluh tahun. Suara mereka bergetar, kadang tersendat, tapi tetap teguh. Mereka adalah penjaga doa yang setia, penyangga sebuah tradisi agar tidak punah. Saya bertanya-tanya, bagaimana kelak bila suara-suara itu perlahan hilang? Apakah anak-anak muda mau meneruskannya? Ataukah Lontar Yusuf hanya akan tinggal catatan di arsip-arsip tua, di tulisan koran, di memori yang pelan-pelan menguap?
Anak-anak muda memang ada yang tertarik, tetapi sering kali lebih karena keunikan musiknya, bukan karena doa yang dikandungnya. Mereka belajar melagukan, tapi apakah mereka juga menghayati doa-doanya? Apakah mereka merasakan getar yang sama seperti para leluhur ketika melagukannya? Namun saya percaya, sesuatu yang lahir dari doa tidak pernah benar-benar mati. Doa mungkin bersembunyi, mungkin berganti bentuk, mungkin mencari saluran baru. Tetapi ia akan menemukan jalannya sendiri untuk kembali. Seperti huruf Pegon yang lahir dari pertemuan Arab dan Jawa, doa akan selalu punya ruang untuk hidup.
Malam itu, ketika akhirnya saya datang ke Kemiren, saya merasa sedang menyambung suara. Bukan hanya suara para pembaca yang duduk bersila di depan lontar, tetapi juga suara masa lalu, suara para leluhur, suara iman yang tidak pernah padam. Di ruang itu, saya mengerti bahwa membaca Lontar Yusuf bukan sekadar melafalkan kata, bukan sekadar mengenang kisah nabi. Ia adalah cara orang Using menautkan diri dengan yang Ilahi, cara yang lahir dari tanah sendiri, cara yang khas sekaligus universal.Doa memang bisa lahir dalam bentuk apa saja: dalam dzikir yang pelan, dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang agung, dalam lantunan shalawat yang lembut, atau dalam mocoan Lontar Yusuf dengan logat Using yang hangat. Dan bukankah pada akhirnya, semua doa dalam bahasa apa pun, dalam lagu apa pun, dalam cara apa pun, akan bermuara pada Tuhan yang sama?
Saya pulang malam itu dengan perasaan campur aduk. Ada haru, ada resah, ada kagum. Saya membayangkan wajah-wajah tua yang masih setia melagukan doa dengan suara yang nyaris habis dimakan usia. Saya membayangkan benda-benda kecil di bawah lontar: sisir, bedak, kain. Saya membayangkan wajah Nabi Yusuf yang bercahaya, menatap dari jauh. Mungkin, inilah yang disebut keberkahan tradisi. Bahwa doa bisa tetap hidup, bahkan setelah berabad-abad. Bahwa suara-suara bisa menjadi jembatan antara Banyuwangi dan Mesir, antara Kemiren dan Kanaan, antara manusia dan Tuhan.
Dan saya pun tersenyum. Malam itu, cahaya lampu hanyalah sekam kecil dibandingkan terang yang menyalakan hati. Saya sadar, yang saya dengar bukan sekadar alunan kesenian, melainkan doa yang menyusup ke liang jiwa. Doa itu lebih tua dari umur saya, lebih panjang dari jalan yang pernah saya tapaki. Ia lahir dari napas generasi yang telah lama berpulang, namun masih bergetar di udara, masih menetes di dinding-dinding waktu. Sebab doa itu tidak meminta untuk dimengerti, ia hanya ingin didengarkan,dengan telinga, dengan mata, dengan jiwa. Ia mungkin tak selalu bersuara, mungkin hanya berupa bisikan yang tak tertangkap indera. Namun Tuhan memahami bahasa apa pun: bahasa air mata, bahasa hening, bahasa tubuh yang gemetar, bahkan bahasa yang sama sekali tak terucapkan.
Dan saya pun bersyukur. Karena di tengah lantunan itu, saya merasa dititipkan sebuah rahasia: bahwa seni hanyalah pintu, sedang doa adalah rumah. Selama masih ada satu suara yang berani melagukannya, doa itu akan tetap bersemayam, menyeberang dari manusia ke langit, dari bumi ke keabadian. Malam itu, saya sadar, saya sedang berada di tengah bahasa Tuhan yang tak pernah usang, tak pernah diam, dan tak pernah salah Alamat, dan tradisi mocoan lontar Yusuf patut untuk dipertahankan.
Syafaat (ASN Kemenag / Ketua Lentera Sastra Banyuwangi)
