Vivo resmi memasuki arena mixed reality (MR) dengan meluncurkan perangkat perdananya, Vivo Vision Explorer Edition.
Headset ini langsung mencuri perhatian karena mengusung dual display 8K dengan bobot super ringan hanya 398 gram, menjadikannya headset MR paling ringan di dunia saat ini.
Jika dibandingkan dengan Apple Vision Pro yang bobotnya mencapai lebih dari 600 gram, Vivo berhasil memangkas hampir sepertiga berat tanpa mengorbankan kenyamanan maupun performa.
Rahasia bobot ringan headset ini ada pada penggunaan magnesium alloy serta desain terpisah (split design) yang membuatnya tetap kokoh namun tidak membebani kepala.
Baca juga: vivo V60 Sah Meluncur di India, Ini Spesifikasi dan Harganya!
Dimensinya pun relatif ringkas, hanya 83 mm tinggi dan 40 mm tebal, cocok untuk penggunaan jangka panjang.
Vivo juga memperhatikan aspek kenyamanan dengan menghadirkan:
- Face mask adjustable yang bisa disesuaikan bentuk wajah.
- Foam padding dengan beberapa pilihan ketebalan.
- Dual-ring strap dengan sistem quick release, memudahkan pengguna saat melepas atau mengatur posisi headset.
Bagi pengguna kacamata, Vivo menambahkan lensa optik magnetik yang mendukung minus 100 hingga 1000 derajat, sehingga tetap bisa menikmati visual terbaik tanpa mengorbankan kenyamanan.
Tampilan Visual: Dual 8K Micro-OLED
Headset ini dipersenjatai dual Micro-OLED 8K dengan resolusi 3840 × 3552 per mata. Akurasi warna sudah mendukung 94% DCI-P3 dengan kalibrasi langsung dari pabrik, memastikan konsistensi warna dan kecerahan untuk setiap pengguna.
Dengan teknologi ini, pengalaman menonton film, bermain game, maupun bekerja secara virtual terasa sangat realistis.
Performa Tangguh dengan Snapdragon XR2+
Di sektor dapur pacu, Vivo mempercayakan pada Snapdragon XR2+ terbaru yang diklaim 2,5 kali lebih cepat dibanding generasi sebelumnya. Headset ini menjalankan sistem operasi khusus bernama OriginOS Vision, yang memungkinkan berbagai pengalaman menarik seperti:
- Menonton film secara imersif.
- Replay olahraga dalam format spasial.
- Produktivitas multi-jendela di dunia virtual.
Salah satu keunggulan Vivo Vision Explorer Edition ada pada passthrough full-color dengan latensi hanya 13ms, membuat transisi dari dunia nyata ke dunia virtual terasa mulus.
Baca juga: Review vivo V50 Lite 5G: Ramping dengan Baterai Besar!
Selain itu, headset ini dibekali teknologi eye-tracking presisi 1,5 derajat serta hand-tracking 26 derajat kebebasan dalam sudut vertikal 175 derajat. Dengan fitur ini, pengguna bisa mengendalikan objek digital hanya dengan tatapan mata dan gerakan tangan secara alami.
Konten Eksklusif dan Konektivitas Luas
Untuk melengkapi ekosistemnya, Vivo sudah menyiapkan sejumlah konten eksklusif, seperti game “Drum Master” dan “Little V’s Journey”. Perusahaan juga menggandeng mitra seperti Migu untuk menghadirkan siaran olahraga dalam format spasial.
Lebih menarik lagi, headset ini kompatibel dengan PC dan smartphone untuk kebutuhan wireless streaming. Bahkan ada fitur spatial photo yang terintegrasi dengan smartphone Vivo dan iQOO.
Harga dan Ketersediaan
Berbeda dengan kebanyakan produk lain, Vivo tidak langsung menjual headset ini ke publik.
Mulai 22 Agustus 2025, perusahaan lebih dulu membuka demo station di 12 toko resmi di kota besar seperti Beijing dan Shenzhen, agar calon pengguna bisa merasakan langsung pengalaman MR sebelum membeli.
Mengenai harga, Vivo belum memberikan angka resmi. Namun, petinggi vivo memberi sinyal harga ada di kisaran 10.000 yuan (sekitar Rp19,2 juta) atau bahkan lebih rendah.
Strategi ini dipilih agar perangkat MR bisa lebih cepat diadopsi, mirip dengan bagaimana smartphone dulu mulai populer saat harganya makin terjangkau.
Kira-kira, kapan masuk ke Indonesia yah?
